Bayangkan jika movie Na Willa nan sudah kita tonton punya jenis lain. Versi ini dimulai dengan layar terbuka tanpa musik dan tidak ada sound effect sama sekali, hanya Na Willa berdiri, tersenyum, terlihat baik-baik saja. Lalu kamera mundur dan tampak tubuhnya lebih pendek dan kurus dari seharusnya, senyumnya tak lepas, tatapannya kosong, dan tak bisa merespons perbincangan dengan Mak-nya.
Ketika kamera sudah cukup jauh untuk memperlihatkan keseluruhan dirinya, kita mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar perbedaan kecil. Bukan hanya Na Willa jenis 'lebih kurus' alias lebih pendek, tapi ini adalah tampilan tubuh nan tidak dapat mengejar usianya dan perkembangan nan tidak sesuai umurnya.
Dan kemudian di layar movie Na Willa jenis ini muncul teks baru: Na Willa sedang mengalami stunting. Kenapa Na Willa stunting? Apa nan sebenarnya terjadi?
Mungkin sejak dalam kandungan, tubuh Mak tidak mendapatkan cukup unsur besi, protein, dan daya untuk membangun fondasi awal kehidupan. Mungkin di bulan-bulan pertama, ASI tidak optimal alias tergantikan terlalu sigap tanpa kualitas nutrisi nan setara.
Bisa jadi makanan pendampingnya tidak cukup beragam, asupan protein hewani mungkin tidak memadai, tidak cukup kaya unsur gizi mikro seperti unsur besi, seng, dan vitamin krusial lainnya. Dan di hari-harinya ada jangkitan datang berulang mendera Na Willa, seperti diare ringan, batuk nan tak pernah sembuh, semua hal-hal mini nan tidak pernah dianggap serius, tapi cukup untuk terus 'menggerogoti' proses tumbuh kembang Na Willa.
Secara ilmiah, inilah nan disebut sebagai kurang gizi kronik, sebuah kondisi di mana tubuh kekurangan gizi secara perlahan. Dalam kondisi ini, tubuh anak melakukan adaptasi: menurunkan prioritas pertumbuhan, menghemat energi, dan konsentrasi memperkuat hidup. Namun, nilai nan dibayar sangat mahal.
Hormon pertumbuhan seperti GH dan IGF-1 tidak bekerja optimal, pembentukan hubungan saraf di otak terganggu, dan proses mielinisasi, nan krusial untuk kecepatan berpikir dan respons, tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, nan kita lihat di layar bukan sekadar Na Willa, si anak nan lebih kecil, tapi kita sedang memandang anak nan otaknya tidak mendapatkan kesempatan penuh untuk berkembang.
Jika kita tak bersuara sejenak dan betul-betul meresapi, mungkin kita bakal mulai merasakan sesuatu nan berbeda. Bukan hanya sedih, tapi juga syok. Karena kita menyadari bahwa ini bukan fiksi nan hanya hidup di layar. Ini nyata dan terjadi pada jutaan anak lain seusia Na Willa.
Dalam pengetahuan kesehatan masyarakat, ini adalah kehilangan besar nan disebut lost generation potential, hilangnya potensi pertumbuhan bangsa nan tidak selalu tampak hari ini, tetapi menentukan masa depan. Dan nan membuatnya semakin berat, kondisi ini tidak berakhir pada satu generasi.
Ketika ini terjadi pada anak balita wanita seperti Na Willa, maka ini bakal diwariskan. Perempuan nan tumbuh dalam kondisi stunting mempunyai akibat lebih tinggi melahirkan anak dengan kondisi serupa, menciptakan siklus ketimpangan biologis dan sosial nan terus berulang tanpa suara.
Namun di kembali semua istilah ilmiah itu, stunting, kurang gizi kronik, penurunan kognitif, ada satu perihal nan tidak boleh hilang: manusia di dalamnya. Setiap nomor prevalensi bukan sekadar data, tetapi seorang anak nan tidak pernah mendapatkan kesempatan penuh untuk tumbuh utuh, seperti Na Willa dan jutaan anak lain nan hidup tanpa pernah tahu bahwa ada jenis diri mereka nan semestinya bisa lebih kuat, lebih cerdas, lebih siap menghadapi dunia.
Dan ironisnya, bukti ilmiah sudah sangat jelas; intervensi sudah sangat tersedia, mulai dari 1000 hari pertama kehidupan, gizi ibu dan anak, ASI eksklusif, MPASI berkualitas, susu pertumbuhan untuk mengisi kebutuhan protein, hingga perbaikan sanitasi dan akses jasa kesehatan. Sayangnya, semua itu tetap sering tidak bisa dinikmati oleh Na Willa dan jutaan teman-teman sebayanya di seluruh negeri. Menyedihkan, bukan?
Sampai di sini, sebagai penonton, kita lampau dihadapkan pada pilihan nan sangat sederhana tetapi menentukan. Kita bisa keluar dari 'ruang film' ini, kembali ke rutinitas, dan menganggap semua ini sebagai cerita nan menyentuh, lampau selesai. Atau kita bisa memilih satu langkah kecil: membawa cerita ini ke bumi nyata, ke lingkungan terdekat kita.
Sebagai penduduk Indonesia, kita tidak perlu menjadi master untuk mulai berkontribusi dalam pencegahan stunting dan perbaikan gizi anak. Kita hanya perlu mulai peduli secara nyata dan dari perihal nan paling dekat: memastikan anak di rumah alias di lingkungan kita tinggal untuk mendapatkan gizi seimbang, cukup protein hewani, unsur besi, dan makanan nan beragam.
Mengingatkan ibu mengandung di sekitar kita tentang pentingnya nutrisi kehamilan, tablet tambah darah, dan pemeriksaan rutin. Mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan melanjutkan dengan MPASI berbobot tinggi serta memastikan anak-anak seperti Na Willa mendapatkan akses terhadap susu pertumbuhan nan terfortifikasi unsur besi dan vitamin C agar kecukupan gizinya terjamin. Hal-hal ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Lalu kita bisa melangkah sedikit lebih jauh. Datang ke Posyandu bukan hanya untuk menimbang, tetapi untuk betul-betul memahami gimana perawat dan kader Posyandu memonitor pertumbuhan anak. Mengajak satu tetangga, satu family lain, agar tidak ada anak nan “terlewat”. Berani bertanya ketika ada tanda keterlambatan tumbuh kembang. Tidak menunggu sampai semuanya menjadi permanen. Karena dalam banyak kasus, stunting bisa dicegah jika dideteksi dan diintervensi lebih awal.
Kita juga bisa menjadi bagian dari perubahan nan lebih luas. Membagikan info nan betul tentang 1000 hari pertama kehidupan, pencegahan stunting, dan pentingnya gizi anak di media sosial. Karena hari ini, satu info nan tepat bisa menjangkau ribuan orang dan mungkin menyelamatkan satu anak dari kondisi nan sama seperti Na Willa jenis ini.
Tidak semua orang bisa mengubah sistem besar. Tapi semua orang bisa memastikan satu anak tidak terlewat. Karena jika kita betul-betul tersentuh oleh cerita ini, maka respons terbaik bukan hanya merasa sedih, tetapi memastikan bahwa di kehidupan nyata, tidak ada lagi Na Willa nan tumbuh dengan jenis skenario stunting, tanpa kesempatan penuh untuk menjadi dirinya nan utuh.
Bisa jadi itulah makna paling jujur dari menjadi penonton Na Willa jenis mana pun, bukan hanya memandang cerita, tetapi memilih untuk mewujudkan akhir cerita nan baik untuk Indonesia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·