Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, China Mainkan Lagi Kartu Mati AS

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah perusahaan mineral tanah jarang (rare earth) asal China dilaporkan menahan sebagian pengiriman ke Amerika Serikat (AS) akibat kekhawatiran terhadap akibat geopolitik.

Melansir Reuters pada Jumat (4/9/2026), langkah ini kembali menyoroti ketergantungan AS pada China untuk memperoleh mineral strategis, hanya beberapa pekan sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berjumpa Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September.

Tiga sumber nan mengetahui persoalan tersebut mengatakan beberapa pemasok China menolak mengirimkan tanah jarang ke perusahaan AS lantaran cemas mendapat tindakan dari Beijing.

Pemerintah AS pun terus mendesak China menjalankan komitmen nan disepakati dalam pertemuan di Busan dan Beijing mengenai kelancaran publikasi izin ekspor mineral strategis tersebut.

Penahanan pengiriman disebut mulai terjadi sejak awal Agustus, setelah Beijing menjatuhkan hukuman terhadap Responsible Business Alliance (RBA), lembaga nan memantau rantai pasok perusahaan-perusahaan AS. Sejumlah pemasok cemas bakal dikenai balasan jika memenuhi kerangka uji tuntas rantai pasok dari Responsible Minerals Initiative (RMI), program audit mineral dunia nan mengenai dengan RBA.

Sumber lain menyebut perusahaan tanah jarang China juga dalam beberapa bulan terakhir menolak pengiriman ke AS untuk menghindari keterlibatan dalam persoalan geopolitik. Dalam salah satu kasus, pemasok apalagi menolak mengirim material lantaran cemas peralatan tersebut bakal dijual kembali kepada pihak nan masuk daftar larangan.

Situasi tersebut terjadi ketika pasokan mineral strategis bumi tetap ketat.

Meski ekspor tanah jarang earth dan magnet mengenai mulai pulih setelah China memberlakukan pembatasan pada April 2025, nilai sejumlah material seperti yttrium, indium fosfida, dan tungsten tetap mendekati rekor tertinggi. Beberapa perusahaan AS apalagi dilaporkan telah menunggu lebih dari enam bulan untuk memperoleh izin ekspor mineral.

"China sangat efektif dalam menggunakan pengendalian ekspor logam tanah jarang untuk menekan Biro Industri dan Keamanan (BIS) di bawah Departemen Perdagangan AS," ujar Reva Goujon, mahir strategi geopolitik di Rhodium Group. Menurut dia, titik-titik halangan dalam rantai pasok bakal menjadi sorotan dalam pembicaraan AS-China.

Goujon memperkirakan Beijing berpotensi melonggarkan pengendalian bahan baku krusial menjelang pertemuan Xi dan Trump.

"Saya memperkirakan Beijing bakal sedikit melonggarkan pengendalian bahan baku krusial menjelang pertemuan puncak tersebut guna meredam tuduhan AS bahwa Beijing tidak mematuhi kesepakatan gencatan senjata Busan," katanya.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing berkomitmen menjaga rantai pasok dunia mineral penting. Di sisi lain, info bea cukai menunjukkan ekspor yttrium China ke AS memang meningkat tahun ini, tetapi volumenya tetap sekitar separuh level 2024.

Sementara itu pada Juli, setelah sempat tak ada pengiriman selama dua bulan, China mengirim 27 ton yttrium ke AS, menjadi salah satu volume bulanan terbesar sejak Januari 2025.

Sejumlah perusahaan AS juga mulai menerima izin baru, memunculkan ekspektasi bahwa persetujuan ekspor bakal meningkat menjelang pertemuan Xi-Trump.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News