Ilustrasi(earth)
SIPUT air tawar umumnya menghabiskan seluruh siklus hidup mereka di dalam air, termasuk dalam urusan meletakkan telur. Embrio mereka biasanya berkembang dengan kondusif di antara tanaman air alias batuan nan terendam. Namun, beberapa jenis seperti keong mas (apple snails) melakukan sesuatu nan tidak biasa. Mereka keluar dari air dan merekatkan golongan telurnya nan berwarna merah muda cerah pada batang tanaman, dinding, alias permukaan kering lainnya.
Sebuah studi terbaru nan dipimpin oleh Profesor Jack Chi-Ho Ip, seorang mahir biologi perkembangan dari Lingnan University di Hong Kong, akhirnya sukses mengungkap misteri keahlian penyesuaian ekstrem ini. Menariknya, rahasia perkembangan tersebut bukan berasal dari gen original siput, melainkan dari gen "pinjaman" milik virus purba.
Hadiah Genetik dari Zaman Dinosaurus
Saat membandingkan DNA jenis keong mas nan bertelur di darat dengan kerabat dekat mereka nan tetap bertelur di dalam air, tim peneliti berfokus pada cairan pelindung nan mengisi setiap butir telur. Cairan tersebut didominasi oleh sebuah protein berjulukan PV1, nan menyusun lebih dari 80% total protein pada telur nan diletakkan di darat.
Ketika dirunut menggunakan perangkat lunak khusus, asal-usul PV1 membawa para intelektual pada temuan nan mengejutkan. Struktur dan urutan protein tersebut sama sekali tidak cocok dengan hewan lain, melainkan sangat mirip dengan protein milik virus, termasuk jenis virus nan menginfeksi burung.
Tim peneliti memperkirakan bahwa jangkitan pertama terjadi pada nenek moyang berbareng mereka sekitar 145 million years ago, tepatnya pada era jura ketika dinosaurus tetap mendominasi Bumi. Gen dari virus tersebut menyelinap ke dalam DNA siput, menetap, dan terus disalin selama generasi ke generasi hingga memicu lompatan perkembangan nan besar.
Benteng Pelindung Telur dari Dehidrasi
Meminjam gen hanyalah langkah awal, lantaran perkembangan kemudian mengubah kegunaan protein tersebut secara drastis. Protein PV1 pada keong mas nan bertelur di darat berevolusi dengan mempunyai komponen penolak air dua kali lipat lebih banyak daripada kerabat mereka nan bertelur di air.
Kemampuan ini membantu telur mempertahankan kelembapan internal dan menahan paparan sinar mentari nan menyengat di luar air. Selain itu, PV1 dikenal sebagai salah satu protein paling handal nan bisa mengikat pigmen merah-oranye, nan memberikan warna cerah unik pada telur keong mas sebagai peringatan bagi para predator.
Temuan nan dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science ini tidak hanya memecahkan teka-teki biologi, tetapi juga memberikan senjata baru bagi sektor pertanian. Keong mas dikenal sebagai salah satu (benih)penyakit paling merusak di lahan basah dan pembawa parasit rawan bagi manusia. Dengan mengetahui bahwa protein PV1 nan berasal dari virus ini adalah kunci bertahannya telur di luar air, para intelektual sekarang dapat merancang metode untuk memblokir protein tersebut guna menghentikan perkembangbiakan (benih)penyakit tanpa perlu menggunakan pestisida kimia berbahaya. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·