JD Vance: Teks Kesepakatan AS-Iran Dirilis paling Lambat Jumat Ini

Sedang Trending 12 jam yang lalu
 Teks Kesepakatan AS-Iran Dirilis paling Lambat Jumat Ini JD Vance.(Al Jazeera)

WAKIL Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa teks komplit kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran bakal dirilis paling lambat pada Jumat (19/6). Dalam keterangannya pada Rabu (17/6/2026), Vance menyebut Gedung Putih sedang berupaya agar arsip tersebut dapat dipublikasikan secepat mungkin.

"Kami mau memberi tahu rakyat Amerika apa nan ada di dalam kesepakatan ini," ujar Vance dalam program CBS Mornings.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan pada Minggu bahwa AS mencapai kesepakatan dengan Iran. Meski nota kesepahaman (MoU) ditandatangani secara elektronik oleh kedua belah pihak awal pekan ini, rincian resmi belum dibuka ke publik. Upacara penandatanganan umum dijadwalkan berjalan pada Jumat ini.

Negosiasi dan Transparansi

Terkait penundaan rilis dokumen, Vance menjelaskan bahwa mediator dari Qatar dan Pakistan sempat meminta agar teks komplit tidak dipublikasikan untuk sementara waktu. Namun, pihak manajemen AS terus mendorong agar info tersebut segera tersedia bagi masyarakat.

Vance menegaskan bahwa kesepakatan ini sering disalahartikan oleh beragam pihak. Ia mengeklaim kesepakatan tersebut sebagai kesepakatan nan esensial baik bagi rakyat Amerika.

Poin Utama Kesepakatan: Selat Hormuz dan Nuklir

Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera. Kesepakatan ini juga menyediakan kerangka kerja bagi Iran untuk kembali ke ekonomi bumi dengan syarat nan ketat.

"Jika Iran memberikan apa nan kami butuhkan mengenai penghentian pendanaan terorisme dan tidak lagi mengejar senjata nuklir, mereka bisa mendapatkan beberapa manfaat, seperti diundang kembali ke ekonomi dunia," jelas Vance.

Manfaat nan dimaksud mencakup pelonggaran hukuman ekonomi. Vance menambahkan bahwa konsentrasi Presiden Trump adalah memberikan insentif agar Iran tidak membangun kembali program nuklir mereka dalam jangka panjang.

Konteks Keamanan: Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebelumnya menyatakan AS bakal membantu pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa langkah-langkah pengamanan jalur pelayaran sudah mulai dilakukan.

Baca juga: Mengapa Pakistan Jadi Mediator Kunci Kesepakatan Damai AS-Iran

Syarat Ketat bagi Iran

Menanggapi rumor mengenai biaya rekonstruksi sebesar US$300 miliar (sekitar Rp5.300 triliun) dan penghapusan seluruh sanksi, Vance membantah perihal tersebut bakal terjadi secara otomatis. Ia menegaskan bahwa faedah ekonomi tidak bakal mengalir ke Iran selain negara tersebut mengubah perilakunya secara esensial terhadap dunia.

Di sisi lain, saat berbincang di pertemuan G7 di Prancis, Presiden Trump memperingatkan bahwa kesepakatan ini bukanlah hasil akhir nan permanen. Ia menegaskan AS dapat kembali melakukan tindakan militer jika Iran tidak mematuhi poin-poin nan telah disepakati. (CBS/I-2)

Baca juga: Jadi 13 Ribu Serangan Udara AS Tewaskan 3.500 Warga Iran untuk Apa

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia