Jatuh Bangun Abdul Aziz, Gagal Kuliah ke Mesir Kini Punya 3 Cabang BRILink

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah toko mini di area Jonggol, Jawa Barat, Abdul Aziz duduk di kembali meja kaca sembari menggenggam mesin EDC (Electronic Data Capture) berwarna merah biru. Warga datang silih berganti ke loket bertuliskan Agen BRILink itu. Ada nan menarik duit tunai, transfer antarbank, hingga membeli token listrik.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Di sisi kanan, rak-rak dagangan memenuhi toko kelontong Abdul Aziz nan hanya dipisahkan sekat tembok dengan area BRILink. Dari depan, papan jasa BRILink berukuran besar terlihat mencolok.

Abdul Aziz sekarang berumur 24 tahun. Sebelum menjalankan Agen BRILink, dia sempat mencoba beragam macam usaha. Dari jualan sayur, membikin pizza rumahan lampau dijajakan door to door, hingga berdagang minyak wangi secara online. Dia juga pernah menjalankan upaya busana berbareng keluarga.

Namun pandemi Covid-19 membikin usahanya lesu. Saat itu, Abdul Aziz nan semestinya mulai kuliah pada 2021 justru dihadapkan kondisi ekonomi family sedang sulit.

“Waktu itu ekonomi family lagi darurat. Bingung mau ngambil (uang) ke mana,” cerita Aziz saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya, Jumat, 8 Mei 2026.

Di tengah kondisi itu, Aziz begitu sapaan Abdul Aziz, memutuskan tak kuliah. Namun, dia memandang peluang. Banyak penduduk di wilayah Jonggol tetap kesulitan mengakses jasa perbankan. Tidak semua orang mengerti transfer antarbank alias mempunyai akses mudah untuk tarik tunai.

Ketika BRI membuka kesempatan keagenan BRILink, Aziz langsung mencoba masuk. Awalnya dia hanya menggunakan BRILink Mobile. Transaksi harian tetap sedikit, sekitar 10 transaksi per hari. Namun hari-hari berikutnya pengguna mulai bertambah. Warga merasa terbantu lantaran tak perlu pergi jauh ke instansi bank alias ATM.

“Alhamdulillah meningkat. Sekarang bisa sampai ratusan transaksi sehari,” ujarnya.

Modal awal membuka BRILink berasal dari beragam sumber. Selain support orang tua, Aziz juga memanfaatkan penghasilan dari YouTube dan NFT nan sempat ramai beberapa tahun lalu.

“Waktu itu saya dapat sekitar Rp 25 jutaan,” katanya.

Uang tersebut diputar kembali untuk memperbesar usaha. Setelah transaksi BRILink berkembang, pihak BRI kemudian menyarankan Aziz mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai tambahan modal usaha.

Dia pun mulai mengambil KUR pertamanya senilai Rp 60 juta. Setelah pinjaman pertama lunas dan upaya terus berjalan, Aziz kembali mendapat penawaran tambahan. Hingga akhirnya mengambil KUR kedua sebesar Rp 100 juta.

Aziz mengaku baru mengambil KUR sekitar dua tahun setelah upaya BRILink miliknya berjalan. Menurutnya, tambahan modal tersebut cukup membantu menjaga perputaran duit di usahanya.

Di sela aktivitas melayani transaksi, Aziz juga mulai mengembangkan upaya lain di tokonya. Dia menambah penjualan sembako, frozen food, hingga kebutuhan harian lainnya. Usaha dengan perputaran sigap lebih cocok untuk kondisi pasar di lingkungannya.

“Kalau peralatan kebutuhan harian kan orang pasti nyari terus,” ucapnya.

Dari satu gerai mini di Jonggol, upaya Aziz perlahan berkembang. Kini dia sudah mempunyai tiga bagian BRILink. Selain di Jonggol, Aziz membuka bagian di Cileungsi dan satu lain berada tak jauh dari letak usahanya saat ini.

Berbeda dengan toko utama di Jonggol nan digabung dengan upaya kelontong dan frozen food, dua bagian lainnya hanya konsentrasi melayani transaksi BRILink. Menurut Aziz, upaya BRILink lebih mudah dipantau dibanding upaya lain nan pernah dia jalankan.

“Kalau BRILink itu paling mudah diaudit. Jadi saya tahu perputarannya,” katanya.

Tarik tunai menjadi jasa favorit pengguna Aziz. Setelah itu, transfer antarbank, pembayaran token listrik, hingga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Pelanggan Aziz datang dari beragam kalangan. Mulai dari karyawan, ibu rumah tangga, hingga pengusaha dengan nominal transaksi besar.

Perkembangan upaya mendongkrak pemasukan Aziz. Dari BRILink dan upaya pendukung lainnya, dia bisa mendulang omzet Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari.

Menurut Aziz, BRILink membuka jalan bagi usaha-usaha lainnya. Dari upaya itu, dia mulai membangun jaringan nan lebih luas. Termasuk mengembangkan upaya frozen food bekerja sama langsung dengan pemasok dan pabrikan.

Lanjut Kuliah

Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Aziz tetap berupaya melanjutkan pendidikan nan sempat tertunda akibat kondisi ekonomi family saat pandemi Covid-19.

Saat ini, Aziz memasuki kuliah semester dua di Universitas Terbuka (UT). Sebelum terjun ke bumi usaha, dia juga pernah menempuh pendidikan di pesantren selama tiga tahun di area Bekasi.

Meski sekarang fokusnya banyak tersita untuk mengembangkan bisnis, Aziz mengaku sempat mempunyai cita-cita nan berbeda jauh dari bumi usaha. Dulu, dia pernah bermimpi melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Saat itu, kesempatan tersebut sebenarnya sempat terbuka. Dia mendapat kesempatan danasiwa kuliah di Mesir. Namun biaya perjalanan ke Mesir cukup besar sementara kondisi ekonomi keluarganya menurun tajam.

“Waktu itu orang tua nggak sanggup buat biaya berangkatnya,” ujarnya.

Aziz pun akhirnya mengubur keinginannya kuliah di Mesir. Dari kemauan menempuh pendidikan kepercayaan di luar negeri, jalan hidupnya justru berbelok ke bumi upaya dan manajemen bisnis.

Buka Jalan Karyawan 'Naik Kelas'

Usaha nan dibangun Aziz bukan hanya mengubah kehidupan pribadinya, tetapi juga membuka kesempatan bagi tenaga kerja 'naik kelas'. Saat ini, total ada lima tenaga kerja nan bekerja di upaya BRILink dan toko miliknya.

Sebagian besar karyawannya merupakan lulusan SMA nan sedang mencari pengalaman kerja alias mempunyai jarak sebelum melanjutkan pendidikan. Aziz memandang masa itu sebagai kesempatan bagi mereka untuk mulai berdikari sembari mengumpulkan biaya kuliah.

“Tadinya gap year mereka diisi kerja di sini,” katanya.

Dari beberapa tenaga kerja nan pernah bekerja bersamanya, tiga orang akhirnya bisa melanjutkan kuliah setelah setahun bekerja. Sementara sebagian lainnya memilih melanjutkan pekerjaan di tempat lain.

Bagi Aziz, perihal itu menjadi salah satu perihal nan paling dia syukuri dari usahanya saat ini. Meski skala usahanya belum besar, dia merasa tempat usahanya setidaknya bisa menjadi jalan awal bagi anak-anak muda setelah lulus sekolah.

“Minimal mereka bisa naik kelas,” ujarnya.

Tak hanya soal pekerjaan, Aziz juga berupaya membantu kebutuhan karyawannya semampu nan dia bisa. Salah satunya dengan membantu menyediakan kendaraan untuk operasional mereka.

Dia memilih membeli kendaraan secara tunai, lampau membiarkan karyawannya mencicil tanpa bunga. Menurutnya, langkah itu lebih ringan dibanding kudu mengambil angsuran kendaraan dengan kembang tinggi.

“Kalau saya beli cash, kelak mereka nyicil pelan-pelan. nan krusial kebantu,” katanya.

Di antara tenaga kerja nan bekerja di upaya milik Aziz, ada Muhammad Akmal Gunawan. Pemuda 19 tahun nan mulai bekerja di sana sejak Juni 2025.

Sebelum berasosiasi di upaya BRILink dan toko milik Aziz, Akmal sempat bekerja sebagai daily worker di penyimpanan Shopee Express. Namun pekerjaan itu tidak selalu tersedia setiap hari.

Kini, Akmal bekerja penuh waktu di tempat Aziz dengan penghasilan sekitar Rp 100 ribu per hari. Baginya, pemasukan rutin jauh lebih membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ngebantu banget,” ujarnya singkat.

Di kembali pekerjaannya sekarang, Akmal rupanya sempat menghadapi masalah kesehatan. Dia mengaku pernah terserang stroke di usia muda dan hingga sekarang tetap dalam proses pemulihan.

“Belum sembuh total sampai sekarang,” katanya.

Kondisi itu sempat membikin aktivitasnya terbatas. Karena itu, support nan diberikan Aziz sangat berfaedah baginya. Salah satunya ketika Aziz membantunya mempunyai motor untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Akmal mengatakan motor tersebut dibelikan terlebih dulu oleh Aziz, lampau dia mencicilnya tanpa bunga.

“Sebelumnya nggak punya motor,” ucapnya.

Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi mengatakan, keberadaan pemasok BRILink di wilayah Jonggol terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, terdapat sekitar 141 pemasok BRILink nan tersebar di wilayah kerja BRI Unit Jonggol.

Menurut Oki, keberadaan pemasok BRILink berkedudukan besar dalam memperluas akses jasa finansial masyarakat, terutama bagi penduduk nan tinggal jauh dari instansi bank.

“BRILink itu seumpama instansi kecilnya BRI,” kata Oki.

Melalui pemasok BRILink, masyarakat tetap bisa melakukan beragam transaksi meski instansi bank sudah tutup. Mulai dari tarik tunai, transfer antarbank, hingga pembayaran tagihan seperti token listrik.

Wilayah kerja BRI Unit Jonggol sendiri mencakup 24 desa di dua kecamatan. Sebagian wilayah berada cukup jauh dari pusat jasa perbankan sehingga keberadaan pemasok BRILink dinilai sangat membantu aktivitas penduduk sehari-hari.

“Perannya sangat berpengaruh lantaran sampai ke desa-desa,” ujarnya.

Meski jumlah pemasok terus bertambah, Oki mengatakan tetap ada beberapa wilayah nan menjadi prioritas pengembangan jasa BRILink, salah satunya area Sukamakmur.

Menurut dia, syarat menjadi pemasok BRILink sebenarnya tidak terlalu rumit. Calon pemasok diwajibkan mempunyai rekening BRI, sementara jarak antaragen juga diatur sekitar 500 meter hingga satu kilometer agar penyebaran jasa tetap merata.

Setelah pengajuan dilakukan, proses verifikasi dan pemetaan wilayah bakal ditangani oleh tim unik nan membidangi jasa BRILink.

“Tergantung mapping juga. Ada bagian unik nan menangani BRILink,” katanya.

Di Jonggol, transaksi masyarakat melalui pemasok BRILink tetap didominasi tarik tunai, transfer, dan pembayaran tagihan. Sementara jasa pengajuan pinjaman nan sebelumnya cukup banyak digunakan melalui pemasok sekarang sudah dihentikan sejak tahun lalu.

Di tengah perkembangan mobile banking dan aplikasi pembayaran digital, Oki menilai pemasok BRILink tetap mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Jonggol. Salah satu aspek utamanya adalah kedekatan sosial antara pemasok dan warga.

“Orang sini rata-rata tetap saling kenal dan percaya,” ujarnya.

Menurut Oki, hubungan antara pemasok dan masyarakat di Jonggol sering kali tidak sekadar hubungan antara pengguna dan penyedia jasa. Banyak penduduk nan sudah saling mengenal secara personal, apalagi mempunyai hubungan family alias tinggal di lingkungan nan sama.

Karena kedekatan itu, transaksi terkadang melangkah lebih fleksibel. Dalam kondisi tertentu, penduduk bisa meminta support lebih dulu kepada pemasok sebelum menyelesaikan transfer alias pembayaran.

Selain keberadaan agen, BRI juga mengandalkan para mantri nan aktif turun langsung ke lapangan. Mereka rutin mendatangi desa-desa untuk membantu kebutuhan transaksi masyarakat, menerima pengaduan, hingga melayani pengajuan jasa perbankan lainnya.

“Mantri sekarang kayak ojek online. Mereka dekat sama masyarakat,” kata Oki.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita