Jarum, Benang, dan Rezeki yang Tak Putus untuk Mahendar Selama 30 Tahun

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pekerja sol sepatu, Mahendar (67), memperbaiki sepatu pengguna di area Galaxy, Bekasi Selatan, Jumat (14/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Selama tiga dekade, Mahendar (67) mengandalkan jarum, benang, lem, dan tangannya untuk menyambung hidup. Dari pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu, dia perlahan mengumpulkan rupiah demi rupiah, hingga bisa membeli sawah, rumah, dan tanah di kampung halamannya.

“Sawah sama bangun rumah. Itu doang. Kuat beli rumah, beli tanah sedikit juga. Jadi hasil keringat kita sendiri ada sisanya,” tutur Mahendar saat ditemui kumparan di area Bekasi Selatan, Jumat (14/8).

Mahendar mengaku, pencapaian itu didapat bukan dari penghasilan besar, melainkan dari pemasukan harian nan rutin dia kumpulkan. Setiap hari, Mahendar mulai beraktivitas sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB.

Saat ditemui kumparan, Mahendar bercerita sudah mengantongi Rp 150 ribu dari memperbaiki sekitar delapan pasang sepatu.

Pekerja sol sepatu, Mahendar (67), memperbaiki sepatu pengguna di area Galaxy, Bekasi Selatan, Jumat (14/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

“Ya hari ini baru dapat Rp 150 ribu. Kurang lebih delapan sepatu,” ujarnya.

Tarif jasanya pun berbeda-beda, tergantung pada jenis pengerjaannya. Untuk sepatu nan dijahit, Mahendar mematok sekitar Rp 30 ribu-Rp35 ribu. Sementara untuk sandal alias flat shoes, tarifnya berkisar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu.

Menurutnya, penghasilan tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Lumayan lah, Alhamdulillah untuk makan cukup pokoknya,” ujar Mahendar.

Sebelum mencapai tiga dasawarsa berkutat dengan sepatu, Mahendar mulai mengenal pekerjaan sebagai tukang sol setelah memilih ikut temannya ke Jakarta. Kala itu, dia baru lulus SD dan kudu mencari pekerjaan setelah kedua orang tuanya meninggal.

Dia kemudian belajar menjadi tukang sol dari seorang kawan nan hingga sekarang tetap menjalani pekerjaan serupa di Kota Batam.

“Memang dulu jika mau mencari pekerjaan lain kita bisa. Cuma kita nggak mau begitu. Pilihan sigap lah. Sehari-hari ada pemasukan walaupun Rp1.000-Rp2.000,” ungkapnya.

Namun, Mahendar tak serta-merta berjodoh dengan pekerjaannya saat ini. Dia bercerita, dulu sempat menjadi kernet mikrolet trayek Kranji-Cililitan selama sekitar lima bulan pada 1975.

Pekerja sol sepatu, Mahendar (67), memperbaiki sepatu pengguna di area Galaxy, Bekasi Selatan, Jumat (14/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Namun, pekerjaan tersebut dirasanya lebih melelahkan lantaran kudu terus bergerak.

“Kalau di sini kan kita duduk begini. Jadi nggak mondar-mandir,” kata dia.

Sejak itu, Mahendar memilih memperkuat sebagai tukang sol. Dia pun memutuskan pindah ke Bekasi pada 1979 dan sekitar satu tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda, Mahendar mulai beraktivitas di area Galaxy, Bekasi Selatan.

“Senang. Kalau nggak dilakuin, kerja apa lagi,” terang dia.

Selama puluhan tahun bekerja, Mahendar juga menyaksikan perubahan jenis sepatu sekaligus langkah memperbaikinya.

Dulu, sepatu kulit lebih banyak ditemuinya dan sol sepatu kerap dipasang menggunakan paku. Kini, sepatu berbahan karet lebih banyak datang kepadanya sehingga perbaikannya lebih sering menggunakan lem dan jahitan.

“Dulu kan sepatu kulit kebanyakan. Dipaku era dulu. Sekarang kan karet kebanyakan, ngejahit sekarang. Banyaknya itu perbedaannya,” jelas Mahendar.

Menurut dia, menjahit juga lebih praktis dibandingkan memaku lantaran tidak memerlukan banyak peralatan.

“Enak ngejahit. Daripada maku nggak ribet. Kalau mau memaku, kudu ada besi,” katanya.

Pekerja sol sepatu, Mahendar (67), memperbaiki sepatu pengguna di area Galaxy, Bekasi Selatan, Jumat (14/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Perubahan tersebut tidak membikin Mahendar kesulitan mengikuti kebutuhan pelanggan. Dia menyebut, permintaan jasa sol hingga sekarang tetap ada.

“Kelihatannya tetap banyak-banyak aja nan minta ngebenerin. Alhamdulillah ada aja,” ujar Mahendar.

Tak seperti upaya musiman nan hanya ramai pada waktu tertentu, Mahendar tetap menerima pengguna sepanjang tahun. Namun, dia mengaku jumlah pengguna biasanya meningkat menjelang Lebaran.

“Paling ramainya mau Lebaran. Ramai tuh, puasa ramai,” tutur dia.

Di tengah pemasukan nan tidak selalu sama setiap hari, Mahendar memilih tetap bersyukur. Baginya, selama tetap ada pengguna nan datang, kebutuhan sehari-hari tetap bisa terpenuhi.

“Berasa sama aja. Tergantung rezeki kita sehari-hari. Rezeki kita jika lagi baik, lumayan sehari gitu,” katanya.

Ia apalagi mempunyai sejumlah pengalaman berkesan dengan pelanggan. Salah satunya ketika ada pengguna nan datang dan menanyakan biaya, tetapi kemudian hanya memberikan duit kepadanya.

“Yang paling berkesan kadang-kadang orang nan nanya, ‘Ini berapa duit jika ngesol segini?’ Kadang-kadang ngasih duitnya aja. Ada nan begitu, alhamdulillah,” tutur Mahendar.

Pengalaman tersebut turut membuatnya percaya bahwa selama mau berusaha, selalu ada rezeki nan datang.

“Yang krusial bermohon sama Allah. Alhamdulillah ada nan ngatur, begitu aja udah,” ujarnya.

“Yang krusial kita diwajibkan berusaha, kan manusia. Udah usaha, mustahil kita nggak dapat,” sambungnya.

Mahendar sekarang mempunyai empat anak dan tujuh cucu. Penghasilan dari memperbaiki sepatu menjadi salah satu langkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dia juga menggunakan jasa ojek langganan untuk berangkat dan pulang bekerja lantaran sudah tidak kuat melangkah jauh. Dalam sehari, ongkos ojek nan dikeluarkannya sekitar Rp30 ribu.

“Kan saya (naik) ojek sehari Rp 30 ribu. Pagi sore, pulang pergi. Jalan nggak kuat, udah tua begini,” sebutnya.

Di usia 67 tahun, Mahendar tetap merasa pekerjaannya sebagai tukang sol tak terlalu berat. Selama tetap ada pemasukan setiap hari, dia memilih terus menjalaninya.

“Nggak ada nan berat. Semangat aja,” ujarnya.

“Ya senangnya begini aja. Jadi kita bertahannya lantaran tiba-tiba Rp1.000-Rp2.000 tiap hari ada pemasukan. Jadi kita nggak pernah kerja bulanan. Kita malah repot,” lanjutnya.

Puluhan tahun menjadi tukang sol tidak membikin Mahendar berakhir mempunyai kemauan untuk mengubah kehidupannya. Dia bercerita, mau suatu hari kembali ke kampung dan membuka upaya jual-beli ikan.

Mahendar mengatakan sudah mempunyai empang, tetapi belum mempunyai modal untuk menjalankan upaya tersebut.

“Kalau punya modal pengin pulang ke kampung, pengin jual-beli ikan. Empang udah ada, udah punya. Tinggal modalnya aja nan nggak punya,” terang dia.

Dia pun membayangkan masa tua nan lebih dekat dengan family dan bisa menjalani aktivitas di kampung.

“Kalau di kampung kan kita bisa bertani, ngurusin family (jadi) dekat. Kan lebih enak. Umur kita udah tua, lebih baik di kampung,” bebernya.

Namun, untuk saat ini, dia tetap setia dengan jarum dan benangnya. Sebab, dari pekerjaan sederhana itulah Mahendar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengumpulkan hasil nan dia rasakan selama puluhan tahun.

“Ya untuk makan cukup, itu aja. Diambil simplenya, cukup,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan