Jangan Salah Beli, Ban Mobil Listrik Tak Sama dengan Mobil Bensin

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ukuran ban 12 inci mobil listrik Wuling Air ev, menggunakan velg kaleng nan ditutupi dop. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Pemilik mobil listrik tidak bisa sembarangan memilih ban pengganti. Meski sekilas terlihat sama dengan ban mobil bermesin bensin, ban untuk kendaraan listrik dirancang untuk menghadapi karakter kerja nan berbeda.

Perbedaan tersebut mulai dari berat kendaraan nan lebih berat, torsi instan nan lebih besar, hingga tuntutan efisiensi dan kenyamanan nan lebih tinggi. Karena itu, memilih ban nan sesuai menjadi salah satu aspek krusial untuk menjaga performa mobil listrik tetap optimal.

SOE Sales Manager Bridgestone, Ahmad Nuril, menjelaskan bahwa salah satu perbedaan utama antara mobil listrik dan mobil bermesin bensin terletak pada berat kendaraan.

“Mobil listrik mempunyai karakter nan berbeda dengan mobil bensin. Beban kendaraan nan lebih berat, memerlukan ban dengan kekuatan menopang beban lebih umumnya menggunakan extra load tire,” kata Nuril kepada kumparan, Rabu (10/6/2026).

Tampak bagian dalam ban Hankook iON GT dibekali busa peredam bunyi bising. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Bobot nan lebih besar tersebut umumnya berasal dari baterai berkapasitas tinggi nan menjadi sumber tenaga utama kendaraan listrik. Karena itu, ban nan digunakan kudu bisa menopang beban lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional dengan ukuran serupa.

Selain aspek bobot, karakter tenaga mobil listrik juga menjadi tantangan tersendiri. Berbeda dengan mobil bensin nan menyalurkan tenaga secara bertahap, motor listrik bisa menghasilkan torsi maksimum secara instan sejak kendaraan mulai bergerak.

“Torsi instan menyebabkan ban lebih sigap aus, sehingga ban EV dibuat menggunakan kompon unik agar lebih tahan aus,” katanya.

Ilustrasi velg dan ban mobil bekas. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Artinya, penggunaan ban nan dirancang unik untuk kendaraan listrik dapat membantu menjaga umur pakai ban agar tidak sigap lenyap akibat karakter percepatan unik EV.

Tak hanya itu, aspek kenyamanan juga menjadi perhatian pabrikan ban. Minimnya bunyi mesin pada mobil listrik membikin bunyi nan berasal dari gesekan ban dengan jalan menjadi lebih mudah terdengar oleh penumpang.

“Kebisingan nan lebih terasa, sehingga ban nan sudah compatible dengan EV bakal mempunyai pola telapak nan lebih senyap dan dalam beberapa ban sudah menggunakan teknologi sponge tire dan ban untuk EV mempunyai halangan gulir rendah untuk jarak berkendara nan lebih jauh,” jelasnya.

Bridgestone Indonesia meluncurkan ban baru Turanza 6 nan juga cocok untuk mobil listrik. Foto: Sena Pratama/kumparan

Secara umum, terdapat beberapa karakter nan biasanya dimiliki ban nan dirancang untuk kendaraan listrik. Mulai dari keahlian menahan beban lebih tinggi, tingkat kebisingan nan lebih rendah, hingga halangan gulir (rolling resistance) nan lebih mini untuk membantu menjaga efisiensi energi.

Beberapa produsen ban juga mulai memberikan penanda unik seperti EV Ready alias teknologi tertentu nan memang dikembangkan untuk kendaraan listrik. Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya memperhatikan spesifikasi ban sebelum melakukan penggantian.

Menurut Nuril, penggunaan ban nan sesuai dapat membantu menjaga efisiensi dan kenyamanan berkendara. Sebaliknya, penggunaan ban konvensional pada mobil listrik berpotensi menimbulkan sejumlah konsekuensi.

“Pemakaian ban biasa di EV bisa menyebabkan umur ban lebih pendek, mobil lebih berisik, range baterai menurun,” katanya.

Meski demikian, bukan berfaedah mobil listrik tidak bisa menggunakan ban konvensional sama sekali. Namun pemilik kendaraan perlu memahami bahwa karakter ban tersebut mungkin tidak dirancang untuk menghadapi beban, torsi, serta kebutuhan efisiensi nan dimiliki kendaraan listrik.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan