Jangan Main-Main! RI Penting Buat Dunia, Ini Buktinya

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sangat berpengaruh buat dunia! Ini bisa digambarkan atas kepemilikan sumber daya alam (SDA) terbesar di bumi seperti misalnya batu bara.

Dalam paparan Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, Indonesia menyumbang 43% peredaran batu bara di Dunia alias sebanyak 500 juta ton dari 1,3 miliar ton batu bara nan diperdagangkan di pasar internasional.

Namun sayangnya, meskipun Indonesia menjadi negara dengan tingkat peredaran batu bara terbesar di Dunia, tidak membikin negara ini bisa 'menyetir' harganya sendiri.

Bahlil mengatakan, nilai batu bara tetap diatur oleh asing. "43% batu bara itu suplai dari Republik Indonesia. Tetapi harganya diatur oleh asing. Barang-barang punya kita tapi harganya diatur oleh orang lain," ujar Bahlil dalam aktivitas Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), di Jakarta, Senin (12/10/2026).

Dalam upaya mengambil alih kendali harga, Kementerian ESDM akhirnya memperketat alokasi produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand). Strategi tersebut dinilai efektif menjaga stabilitas nilai batu bara Indonesia di tingkat internasional.

Dari kebijakan tersebut, volume produksi batu bara Indonesia pada 2026 disesuaikan menurun dibanding 2025. Kendati volumenya berkurang, nilai transaksi perdagangan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor pertambangan justru tercatat meningkat.

"Tahun 2026 produksi batu bara kita dibandingkan dengan 2025 itu menurun volumenya, tetapi nomor transaksinya itu melampaui di 2025 dan pendapatan negara kita PNBP kita naik," imbuhnya.

Produksi RI diperketat, nilai mulai naik-Dunia tertekan

Merujuk Refinitiv, nilai batu bara pada perdagangan Senin (12/10/2026) menguat 0,7% ke US$ 151,55 per ton. Harganya sudah naik dua hari beruntun.

Harga batu bara termal China melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan ini dipicu oleh lambatnya pertumbuhan produksi domestik dan gangguan pasokan dari Indonesia sebagai pemasok utama batu bara China, di tengah reli nilai daya akibat perang AS-Iran.

Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, nilai referensi batu bara untuk pembangkit listrik mencapai CNY1.004 alias sekitar US$150 per ton pada Senin (12/10/2026).

Ini menjadi kali pertama nilai menembus level CNY 1.000 dalam dua tahun. Sejak pertengahan Juli, nilai batu bara tersebut telah melonjak sekitar 25%.

Batu bara tetap menjadi sumber utama pembangkit listrik China, dengan kontribusi sekitar separuh dari bauran listrik negara tersebut, meskipun pengembangan daya terbarukan meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Produksi batu bara domestik China turun lebih dari 3% sepanjang Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Di tengah hambatan produksi domestik, pengiriman batu bara dari Indonesia, pemasok utama batu bara termal impor China, juga turun tajam sepanjang tahun ini.

Persoalan pasokan juga melanda India, akibtanya, pemadaman listrik mulai melanda rumah tangga, pabrik kecil, dan pabrik baja di India. Kondisi ini terjadi ketika persediaan batu bara di banyak pembangkit listrik merosot, sementara permintaan listrik melonjak akibat cuaca nan lebih panas dan penurunan tajam produksi listrik tenaga air.

Data pemerintah pada akhir September menunjukkan, proporsi PLTU nan mempunyai persediaan batu bara sangat rendah melonjak dalam beberapa pekan terakhir hingga melampaui 40% dari seluruh pembangkit batu bara nan beroperasi. Pada 1 Oktober, sebanyak 85 pembangkit tercatat mempunyai stok batu bara di bawah 25% dari kebutuhan normalnya.

Ekspor Turun Tapi Setoran ke Negara Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 ambruk 9,33% ke 227,7 juta ton.

Laporan dari Kpler menunjukkan ekspor pada Agustus 2026 hanya mencapai 36,1 juta ton alias ambruk 25,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa penataan RKAB 2026 memangkas rata-rata produksi bulanan batu bara sebesar 8 juta ton dan produksi nikel sebesar 13 juta ton bijih (ore).

Menurutnya tata kelola produksi nan terukur terbukti bisa mendongkrak penerimaan negara tanpa perlu melakukan pemanfaatan secara berlebihan.

"Jadi artinya jika misalnya kita lihat, dengan adanya pengelolaan nan baik, dengan kita tidak jor-joran untuk produksi, itu nyatanya bakal memberikan akibat nan positif kepada negara dan kita semua," jelasnya.

PNBP dari sektor batu bara meningkat menjadi Rp 66 triliun per 31 Agustus 2026 dari posisi periode nan sama tahun sebelumnya sebesar Rp 59 triliun. Kenaikan setoran batu bara sebesar Rp 7 triliun tersebut terjadi di tengah penurunan rata-rata produksi bulanan dari 68 juta ton pada 2025 menjadi 60 juta ton pada 2026.

"Jadi secara produksi kita secara bulanan turun 8 juta (ton), tapi secara PNBP kita naik Rp 7 triliun. Artinya setiap tahun kita mengalami kenaikan Rp 1 triliun dengan produksi turun 8 juta ton," paparnya.

Batu Bara RI tetap dikuasai swasta

Berdasarakan paparan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tercatat total persediaan batu bara Indonesia sebesar 31,9 miliar ton. Indonesia berada di ranking keenam dunia, berada di bawah Amerika Serikat sebesar 247,9 miliar ton, Rusia 162,2 miliar ton, China 157,0 miliar ton, Australia 149,5 miliar ton, dan India 127,7 miliar ton.

Dari persediaan batu bara itu, mayoritasnya tetap dikuasai oleh pihak swasta. Sementara Porsi batu bara nan dikelola BUMN melalui PTBA tercatat hanya sekitar 5,81% dari total sumber daya batu bara nasional.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan bahwa total sumber daya batu bara nasional mencapai 98,41 miliar ton, sedangkan kepemilikan PTBA tercatat sebesar 5,71 miliar ton. Dari jumlah tersebut, porsi persediaan terbukti nan dikuasai PTBA berada di nomor 2,88 miliar ton alias 9,03% dari total persediaan terbukti nasional nan sebesar 31,89 miliar ton.

"Jadi porsi Bukit Asam hanya 5,81%. Maksudnya apa? Jadi kita tidak dikuasai oleh negara. Batu bara hari ini kan lebih banyak di swasta. Nah itu kelak itu nan sudah kejadian lah di masa lalu, tapi saya mau mengingatkan bahwa batu bara adalah milik nasional, milik negara harusnya," ujar Bambang di Jakarta, dikutip Rabu (7/10/2026).

Bambang menekankan pentingnya menata kembali pengelolaan sumber daya alam nasional agar sejalan dengan petunjuk Pasal 33 UUD 1945. Ia mengatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam nan terkandung di dalamnya semestinya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran seluruh rakyat.

"Jadi jika kita kembali ke Pasal 33, memang ini sudah sudah kurang pas lagi. Tapi itulah, enggak apa-apa kita enggak mau lihat ke belakang, tapi kita mau ke depan mau ngapain ini. Supaya ke depan kita menata kita kudu lebih baik lagi, enggak boleh nan sudah-sudah nan tidak kurang baik kudu kita perbaiki," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑