Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar ASamp;nbsp;

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar AS 

Jangan Kaget, Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp19.000 per Dolar AS (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan melemah ke level Rp19.000 per dolar AS. Rupiah tetap bakal menghadapi angin besar tekanan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menyatakan, Rupiah bisa saja terjerembab lebih dalam hingga menembus level psikologis baru sebesar Rp19.000 pada akhir Juni 2026 jika spekulasi kenaikan suku kembang The Fed dan bentrok dunia tak kunjung mereda.

"Kemudian untuk Rupiah sendiri dalam satu pekan ke depan itu kemungkinan ditransaksikan di Rp17.950 sampai di Rp18.250. Dan jika gejolak geopolitik ini tetap bakal terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed bakal mempertahankan suku kembang tinggi dan meningkatkan suku bunga, di akhir Juni ini Rupiah kemungkinan besar 99,99 persen itu bakal di Rp19.000," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Menurut Ibrahim, pergerakan indeks dolar AS berpotensi mengalami penguatan tajam dalam sepekan ke depan, nan dipicu oleh kombinasi info ekonomi domestik AS nan solid serta ketegangan geopolitik nan kian meruncing.

Secara teknikal, Ibrahim memetakan bahwa indeks mata duit Negeri Paman Sam tersebut bakal bergerak kuat di jalur tren naik.

"Mungkin pertama saya lihatin teknikalnya itu terhadap indeks dolar. Indeks dolar ini kemungkinan besar dalam satu pekan ke depan itu bakal ditransaksikan di support 99,00, kemudian resisten di 101,00. Artinya apa? Ada kemungkinan indeks dolar ini bakal kembali menguat tajam. Ada 2 dolar penguatannya dan ini pasti bakal berakibat signifikan terhadap naikkan nilai minyak, kemudian melemahnya mata duit rupiah, dan melemahnya nilai emas bumi dan logam mulia," ungkap dia.

Faktor utama nan menjadi motor penggerak perubahan indeks dolar dan nilai komoditas dunia adalah situasi geopolitik di Timur Tengah nan kian tak terkendali. Menurut Ibrahim, konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran sekarang tinggal menunggu waktu. Konflik ini pecah menyusul serangan AS terhadap akomodasi radar Iran di Selat Hormuz (Pulau Kesem dan Garuk), nan kemudian dibalas oleh Iran ke pangkalan udara AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Di tengah situasi panas tersebut, langkah politik domestik di AS justru menambah bahan bakar. Meskipun Kongres AS nan dikuasai Partai Republik menolak anggaran perang, Presiden Donald Trump justru mencari celah rawan dengan berencana menyita aset-aset milik Iran.

"Artinya apa? Bahwa logika dari Trump ini begitu licik ya anggaran dari pemerintah Amerika ditolak kemudian bakal menggunakan anggaran dari Iran. Cara satu-satunya berfaedah Amerika kudu melakukan penyerangan secara besar-besaran untuk menguasai Iran. Ini nan membikin penolakan anggaran oleh Kongres sehingga tidak membikin Trump ini menghentikan perang dengan Iran," kata Ibrahim.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com