Jam Berapa Waktu Sarapan Terbaik untuk Resistensi Insulin? Ini Kata Ahli Gizi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Jam Berapa Waktu Sarapan Terbaik untuk Resistensi Insulin? Ini Kata Ahli Gizi Ilustrasi(Magnific)

BAGI orang nan hidup dengan kondisi resistensi insulin, mengatur pola makan bukan hanya tentang apa nan dikonsumsi, melainkan juga tentang kapan makanan tersebut masuk ke dalam tubuh. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespons hormon insulin dengan baik, sehingga glukosa menumpuk di dalam darah.

Salah satu perdebatan paling umum di kalangan pengidap kondisi ini adalah mengenai waktu sarapan. Apakah lebih baik makan sesegera mungkin setelah bangun tidur, alias justru menundanya?

Para mahir gizi sepakat bahwa melewatkan sarapan bukanlah langkah nan bijak untuk resistensi insulin. Menunda makan pagi terlalu lama justru dapat memicu lonjakan gula darah nan lebih drastis saat Anda akhirnya makan siang, sebuah kejadian nan dikenal sebagai pengaruh langkah kedua (second-meal effect).

Lantas, jam berapa waktu terbaik untuk sarapan? Menurut para ahli diet, jendela waktu ideal untuk mengonsumsi sarapan adalah dalam satu hingga dua jam setelah bangun tidur.

"Makan dalam waktu satu hingga dua jam setelah bangun tidur membantu menstabilkan kadar gula darah dan menyelaraskan tubuh dengan ritme sirkadiannya, nan secara alami memengaruhi sensitivitas insulin," kata Michelle Routhenstein, MS, RD, CDCES, seorang mahir diet kardiologi preventif di Entirely Nourished.

Menyelaraskan waktu makan dengan ritme sirkadian, jam biologis tubuh, sangatlah penting. Tubuh manusia secara alami lebih sensitif terhadap insulin di pagi hari. Dengan memanfaatkan jendela waktu ini, tubuh dapat memproses karbohidrat menjadi daya secara lebih efisien dibandingkan jika Anda makan larut malam.

"Meskipun tidak ada waktu universal nan cocok untuk semua orang, patokan praktis nan baik adalah makan dalam waktu satu jam setelah bangun tidur," ujar Mary Ellen Phipps, MPH, RDN, LD, penulis kitab The Easy Diabetes Cookbook. "Ini membantu memberi sinyal pada tubuh Anda bahwa hari sudah dimulai dan dapat mencegah hati melepaskan glukosa ekstra ke dalam aliran darah, nan dapat terjadi jika Anda berpuasa terlalu lama di pagi hari."

Selain ketepatan waktu, komposisi menu sarapan juga memegang peranan nan tidak kalah krusial. Ahli gizi sangat menyarankan untuk menghindari sarapan nan hanya tinggi karbohidrat olahan, seperti donat alias sereal manis, lantaran dapat menyebabkan lonjakan gula darah nan sigap diikuti oleh penurunan drastis (crash).

Sebaliknya, kombinasikan karbohidrat kompleks kaya serat (seperti oatmeal alias roti gandum utuh) dengan protein tanpa lemak (seperti telur alias greek yogurt) serta lemak sehat (seperti alpukat alias kacang-kacangan). Protein dan serat memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna, sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah terjadi secara berjenjang dan memberikan daya nan stabil sepanjang hari. (EAting Well/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia