Event untuk para pencinta kuliner pencuci mulut, Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 resmi dibuka mulai Selasa (1/9). Menjadi menarik lantaran tahun ini mengangkat tema paduan dessert dan musik dangdut.
Dangdut dipilih lantaran mempunyai karakter nan sangat Indonesia, dekat dengan masyarakat, kuat secara budaya, dan terus berkembang mengikuti zaman. Tema ini sekaligus menunjukkan bahwa suatu budaya dapat diterjemahkan dalam pengalaman nan baru. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya JDW memperkuat narasi soft power Indonesia.
“Soft power tidak bakal tumbuh jika setiap subsektor bergerak sendiri-sendiri. Musik, kuliner, fesyen, film, desain, dan beragam ekspresi budaya lainnya kudu bisa saling terhubung dan memperkuat. Tahun ini kami mencoba menerjemahkan semangat itu secara sederhana melalui pertemuan antara dangdut dan dessert,” ujar Gupta Sitorus, Co-Founder Jakarta Dessert Week, seperti dikutip dari siaran resminya nan kumparan terima, Kamis (3/9).
Melalui tema tersebut, para peserta JDW bakal menghadirkan menu jenis terbatas nan menerjemahkan dangdut ke dalam rasa, tekstur, visual, hingga pengalaman dessert.
Pada tahun ini beberapa program menarik turut memeriahkan JDW 2026. Misalnya program City Takeover nan berlangsung sepanjang 1–20 September 2026 dan melibatkan 42 brand dengan puluhan outlet nan tersebar di Jakarta. Pastry shop, bakery, restoran, hingga beragam F&B brand bakal menghadirkan menu spesial.
Melalui format ini, maka JDW tidak hanya bakal berjalan di satu tempat melainkan beberapa titik lokasi. Konsep ini memungkinkan visitor bisa melakukan dessert-hopping dan menemukan hidangan-hidangan dessert berbeda dari tema dangdut.
Apresiasi Talenta dan Industri Dessert Jakarta Melalui Gelaran Golden Swirl Awards 2026
Beberapa tahun terakhir JDW juga memberikan apreasiasi kepada para talenta di industri dessert khususnya Jakarta. Begitu juga tahun ini, Golden Swirl Awards kembali diselenggarakan. Para juri nan bakal terlibat berasal dari lintas industri, perihal ini sekaligus menggambarkan bahwa perkembangan industri dessert tidak hanya ditentukan oleh rasa dan teknik, tetapi juga oleh bisnis, kreativitas, desain, pengalaman konsumen, dan relevansi budaya.
Tahun ini Golden Swirl Awards juga menghadirkan kategori baru. Salah satunya adalah Branding of The Year, dengan proses penilaian nan dilakukan bekerja sama dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Kategori ini memandang gimana sebuah dessert brand membangun identitas, komunikasi visual, dan pengalaman merek secara keseluruhan. Kategori baru lainnya adalah Tiramisu of The Year, dengan proses penjurian nan dilakukan bekerja sama dengan Istituto Italiano di Cultura Jakarta.
Dessert sebagai Bagian dari Ekosistem Kreatif
Sejak awal, Jakarta Dessert Week tidak hanya dibangun sebagai pagelaran makanan. JDW berkembang sebagai platform nan mempertemukan kuliner, kreativitas, desain, komunitas, bisnis, dan budaya. Tahun ini, melalui Dangdut, JDW mau melangkah lebih jauh dengan menunjukkan gimana kerjasama antar-subsektor dapat menciptakan pengalaman budaya nan lebih relevan dan kontemporer.
“Kalau kita mau bicara mengenai soft power Indonesia, nan kita perlukan bukan hanya lebih banyak promosi budaya. nan kita perlukan adalah lebih banyak hubungan antarbudaya dan antarindustri. Dangdut berjumpa dessert mungkin terdengar sederhana, tetapi prinsip di belakangnya besar: gimana satu kekuatan budaya bisa membantu kekuatan budaya lainnya menjadi lebih hidup, lebih relevan, dan akhirnya lebih dikenal,” tutup Gupta.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·