Jadi Gaya Hidup, Pelari AS Rela Rogoh Puluhan Juta demi Outfit Premium

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi lari. Foto: ABB Photo/Shutterstock

Pelari sekarang tidak lagi sekadar mengejar catatan waktu terbaik, melainkan juga penampilan. Tren ini membikin banyak fans lari rela mengeluarkan duit hingga puluhan juta rupiah untuk membeli busana dan aksesori premium nan menggabungkan unsur fesyen dan teknologi.

Salah satunya dilakukan Andrew Christofferson. Sebelum berlari sejauh 5 mil, laki-laki berumur 28 tahun itu mengenakan kaus MothTech buatan Satisfy seharga USD 140 alias setara Rp 2,5 juta (kurs Rp 18.029).

Mengutip Bloomberg, kaus tersebut mempunyai lubang-lubang hasil potongan laser nan sengaja dibuat menyerupai busana lama, tetapi diklaim bisa meningkatkan sirkulasi udara pada area tubuh nan menghasilkan panas.

Koleksi perlengkapan lari Christofferson apalagi nyaris mencapai USD 5.000 alias sekitar Rp 90,14 juta, belum termasuk sepatu. Ia juga menggunakan celana pendek Space-O dari Satisfy seharga USD 180 alias setara Rp 3,24 juta nan dilengkapi micro-perforation untuk meningkatkan ventilasi.

“Itu nomor nan cukup mengerikan,” kata Christofferson sembari tertawa.

Ilustrasi penduduk negara asing adakan aktivitas olahraga lari. Foto: New Africa/Shutterstock

“Saya memang menyukai fesyen dan peduli dengan penampilan saya, dan kepedulian terhadap penampilan itu juga bertindak saat saya berlari,” tambahnya.

Fenomena tersebut mencerminkan perubahan budaya lari nan sekarang berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol status sosial.

Perlengkapan lari bukan lagi sekadar menunjang performa, melainkan juga menjadi identitas nan dikenakan saat berkegiatan sehari-hari, mulai dari makan siang hingga berbelanja.

Data Circana menunjukkan penjualan busana unik lari di Amerika Serikat naik 10 persen menjadi nyaris USD 1 miliar alias sekitar Rp 18,029 triliun dalam 12 bulan hingga Mei. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya nilai di nyaris seluruh kategori, mulai dari celana pendek, kaus, hingga kaus kaki.

Melihat tren tersebut, semakin banyak merek nan menggabungkan teknologi dan kreasi premium untuk bersaing dengan pemain besar seperti Nike dan Adidas. Selain Satisfy, Christofferson juga menggunakan kacamata District Vision nan dijual mulai USD 275 alias setara Rp 4,95 juta, serta kaus kaki Bandit Running seharga sekitar USD 36 alias Rp 649 ribu.

CEO JD Sports Fashion Plc, Régis Schultz, menilai organisasi lari sekarang berkembang layaknya ruang sosial baru.

“Sekarang ada klub lari baru, nan seumpama klub malam baru. Ini sudah menjadi aktivitas sosial,” kata Schultz.

Ilustrasi lari. Foto: Real Sports Photos/Shutterstock

“Saya datang ke tiga alias empat di antaranya dan memandang lebih banyak orang memakai riasan dibanding di sebuah pub,” tambah dia.

Perubahan perilaku konsumen juga dirasakan Riley Bourbon, penduduk Brooklyn nan mulai berlari saat pandemi COVID-19. Kini dia mengikuti dua hingga empat maraton setiap tahun dan telah mengoleksi busana lari senilai sekitar USD 1.200 alias setara Rp 21,63 juta.

Awalnya, Bourbon hanya mengenakan kaus dan celana pendek biasa. Kini, dia memilih produk premium seperti Bandit dan Satisfy, termasuk kaus MothTech nan dirancang berasas penelitian pola keringat atlet.

“Saat pertama kali mulai berlari, saya betul-betul tidak tahu kudu memakai apa. Saya hanya mengenakan kaus dan celana pendek,” ujarnya.

Ia mengaku busana tersebut juga nyaman dipakai untuk aktivitas setelah berolahraga.

“Saya menyukainya lantaran bisa dipakai saat berlari, lampau jika setelah itu kudu datang ke suatu acara, busana ini tetap cukup layak dipakai,” katanya.

Padahal selama ini lari dikenal sebagai olahraga dengan halangan biaya nan rendah lantaran hanya memerlukan sepatu dan busana nan nyaman. Namun kini, pemandangan di taman-taman Amerika dipenuhi pelari dengan busana berbahan teknologi tinggi, sepatu premium, arloji Garmin seharga USD 700 alias sekitar Rp 12,62 juta, rompi hidrasi, sabuk lari, hingga headphone unik olahraga.

Ilustrasi Pelari. Foto: Dmitro Pravda/Shutterstock

Salah satu pendiri District Vision, Max Vallot, menilai industri busana lari tengah mengalami transformasi seperti nan pernah terjadi di industri fesyen.

“Rasanya seperti 10 tahun lampau ketika busana performa hanya diisi H&M, Zara, dan Topshop,” kata Vallot.

“Lalu beberapa merek muncul nyaris berbarengan dan berkata, ‘Tidak, kami bakal menggunakan bahan nan lebih canggih. Kami bakal bekerja sama dengan pabrik nan lebih berkualitas, serta menggunakan bungkusan dan label nan lebih premium,’” tambahnya.

District Vision nan juga menjual busana olahraga sekarang membukukan pendapatan sekitar USD 10 juta alias setara Rp 180,29 miliar per tahun dengan pertumbuhan sekitar 30 persen setiap tahun.

Tren serupa juga dialami Carra Theodore di Los Angeles. Dalam 11 bulan sejak mulai berlari, dia telah menghabiskan sekitar USD 3.500 alias setara Rp 63,1 juta untuk membeli perlengkapan lari. Ia mengaku mulai serius berlari setelah merasa tertantang oleh ucapan seseorang.

Kini Theodore aktif mengikuti organisasi lari dan mempunyai sejumlah kaus MothTech serta produk terbaru lini ACG Nike.

CEO Fleet Feet Joey Pointer mengatakan ledakan minat terhadap olahraga lari memang nyata.

“Booming olahraga lari itu nyata,” kata Pointer.

Seorang penjual menunggu pengguna di toko sepatu di pasar utama saat Presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengumumkan anggaran 2023 di tengah krisis ekonomi negara, di Kolombo, Sri Lanka, Senin (14/11/2022). Foto: Dinuka Liyanawatte/REUTERS

Data Sports & Fitness Industry Association mencatat 52,3 juta penduduk AS aktif berlari sepanjang 2025, seiring rekor peserta Boston Marathon 2026 nan menyentuh nomor tertinggi sejak 2014. Komunitas lari sekarang beralih bentuk menjadi sarana olahraga sekaligus ruang sosialisasi, dengan survei Strava merekam 30 persen responden Generasi Z beriktikad meningkatkan anggaran kebugaran tahun ini.

Meski demikian, tren shopping belum sepenuhnya merata. Rata-rata pengguna Fleet Feet menghabiskan USD 920 alias sekitar Rp 16,58 juta per tahun, tetapi gelombang kunjungan toko melambat akibat sensitivitas harga. CEO Fleet Feet Joey Pointer juga menyoroti pergeseran selera, di mana warna biru tua sekarang menggeser hitam sebagai tren busana lari laki-laki paling populer.

Di sisi lain, CEO Bandit Nick West menilai pasar busana lari premium tumbuh lebih sigap dari industri busana umum lantaran menjadi sarana ekspresi identitas. Memanfaatkan momentum tersebut, merek seperti Bandit dan Satisfy menerapkan strategi penawaran terbatas (drop) serta keanggotaan berbayar USD 125 alias sekitar Rp 2,25 juta per tahun untuk menjaga eksklusivitas.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan