Liputan6.com, Jakarta - Teriakan “gempa-gempa” dari istrinya memecah keheningan pagi. Yogi Indrawan, Kepala Dusun di Desa Pasir Putih, Bajo, Nusa Tenggara Timur, nan sedang terlelap langsung terbangun.
Rumah panggung nan ditinggalinya bergoyang keras. Dalam kepanikan, dia menggendong bayi mereka nan baru berumur enam bulan dan berlari keluar rumah.
“Saya tetap tertidur, dibangunkan sama istri teriak gempa. Langsung bangun panik,” kata Yogi saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).
Begitu keluar rumah, Yogi memandang tetangganya sudah lebih dulu berceceran meninggalkan rumah. Menurut dia, getaran gempa terasa sangat kuat lantaran rumah nan ditempatinya merupakan rumah panggung.
Yogi kemudian membuka telepon selulernya untuk memandang letak pusat gempa. Dari info nan dilihatnya, titik gempa berada di wilayah mereka sendiri.
“Pantas besar,” ujarnya.
Kepanikan semakin meningkat ketika peringatan awal tsunami dari BMKG muncul. Warga tidak hanya menjauh dari rumah nan bergoyang, tetapi juga segera mencari tempat nan lebih tinggi.
Sebagian penduduk berlari menuju bukit. Sebagian lainnya menggunakan perahu menuju pulau-pulau di sekitar nan mempunyai gunung lebih tinggi.
Sekitar pukul 05.30 WITA, kepanikan tetap terasa. Kondisi laut juga membikin penduduk semakin waspada. Air laut sempat surut setelah gempa, kemudian terlihat naik dan turun dengan arus deras.
“Air laut surut, guncangan gempa besar sekali,” kata Yogi.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·