Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan militer Israel meluncurkan gelombang serangan udara secara masif nan menghantam sejumlah wilayah di Lebanon selatan pada Rabu, (10/06/2026). Gempuran sadis nan menyasar hingga ke kota pelabuhan Sidon ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 12 orang penduduk sipil setelah golongan militan Hezbollah secara resmi menolak draf proposal gencatan senjata bersyarat nan baru.
Mengutip Reuters, eskalasi pertempuran baru ini langsung menghancurkan angan perdamaian nan sempat diupayakan dalam pembicaraan diplomatik di Washington pada pekan lalu. Kesepakatan tersebut mengalami kebuntuan besar lantaran pihak Tel Aviv menolak memasukkan poin penghentian serangan militer Israel ke dalam klausul perjanjian damai. Akibatnya kedua belah pihak nan bertikai memilih untuk terus saling berganti tembakan rudal di sepanjang garis perbatasan.
Kebakaran dahsyat dan asap hitam pekat dilaporkan langsung membubung tinggi ke angkasa sesaat setelah jet tempur serta drone tempur Israel melepaskan amunisi berkekuatan ledak tinggi. Tim penyelamat serta petugas pemadam kebakaran bergegas menuju ke letak ledakan untuk mengevakuasi para korban dari reruntuhan gedung dan kendaraan nan gosong terbakar.
"Jumlah martir akibat serangan udara Israel di kota Tayr Dibba adalah delapan orang, dan di Deir Qanun al-Nahr sebanyak empat orang," tegas sebuah sumber medis Lebanon nan berbincang dengan syarat anonim mengenai jumlah korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Kantor Berita Nasional Lebanon alias NNA melaporkan militer Israel juga meluncurkan serangan pesawat tanpa awak alias drone otonom nan menargetkan sebuah mobil di kota Sidon. Wilayah ini sebelumnya relatif jarang tersentuh oleh gempuran besar dan saat ini menjadi tempat penampungan bagi sejumlah besar pengungsi internal Lebanon.
Ketegangan di lapangan semakin memuncak setelah pasukan infanteri Israel melakukan tindakan penculikan terhadap seorang personil majelis kota Kfarshuba berjulukan Mohammad Hassan al-Hajj beserta seorang pekerja lokal berjulukan Ahmad Salah Diab. Kedua laki-laki tersebut disergap secara mendadak saat sedang bekerja memompa pasokan air bersih untuk kebutuhan penduduk kota perbatasan tersebut.
Namun pihak militer Tel Aviv mengeluarkan pernyataan tertulis nan berkilah bahwa tindakan keras tersebut merupakan corak pengamanan teritorial dari potensi ancaman penyusup. Pihak tentara mengeklaim hanya mengamankan perseorangan nan terdeteksi bergerak mendekati area operasi militer mereka.
"Para prajurit menangkap individu-individu nan dicurigai tersebut, nan kemudian dipindahkan ke wilayah Israel untuk menjalani proses interogasi lebih lanjut," jelas militer Israel dalam pernyataan resmi mereka kepada media AFP di Yerusalem.
Insiden penangkapan sepihak ini terjadi hanya berselang satu hari setelah gempuran udara Israel menewaskan 11 orang di sekitar kota Tyre. Pihak militer Israel juga terus memperluas jangkauan tempur mereka dengan menjatuhkan peledak di kota Nabatieh serta mengeluarkan perintah pemindahan paksa bagi tiga kota lainnya di Lebanon selatan.
Kondisi ini langsung memicu seruan darurat dari asosiasi desa-desa perbatasan Kristen di Lebanon selatan nan memilih memperkuat di rumah mereka meskipun ada perintah pemindahan dari Israel. Mereka mendesak pemerintah Lebanon untuk segera membuka koridor kemanusiaan dan medis nan kondusif lantaran sebagian besar akses jalan utama sekarang telah terputus total akibat bombardir Israel nan sangat membahayakan nyawa.
Secara historis golongan Hezbollah sendiri mulai menarik Lebanon ke dalam pusaran perang Timur Tengah sejak tanggal 2 Maret nan lampau demi memberikan support militer kepada pihak Iran. Otoritas berkuasa Lebanon mencatat rangkaian serangan udara dan darat nan diluncurkan oleh Israel sejak bulan Maret lampau telah menewaskan nyaris 3.700 orang serta memaksa lebih dari satu juta penduduk mengungsi dari kampung laman mereka.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·