Garda Revolusi Iran bersikeras tidak bakal membuka Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan, termasuk bayar kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Blokade nan dilakukan Iran terhadap saluran daya krusial ini telah mengguncang sekutunya, mengguncang pasar dan meningkatkan harga. Namun Presiden AS Donald Trump merespons itu dengan santai.
Teheran bersikeras mempertahankan kendali atas Hormuz. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada hari Sabtu (8/8) menetapkan daftar syarat untuk membuka kembali selat tersebut, termasuk diakhirinya perang di semua lini, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, berakhirnya sanksi, pelepasan aset nan dibekukan dan kompensasi atas kerusakan pada masa perang, sebagaimana diberitakan oleh instansi buletin Tasnim, dikutip dari AFP.
Persyaratan tersebut mencerminkan ketentuan perjanjian bulan Juni, nan mencakup ketentuan untuk menyediakan biaya rekonstruksi sebesar USD 300 miliar untuk Iran.
Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Minggu (9/8) bahwa strategi mereka adalah mempertahankan blokade "sampai musuh menerima semua persyaratan kami, selat tersebut sekarang sebenarnya menjadi teater perang bagi kami dan bukan hanya jalur air".
Penutupan Hormuz disebut telah meningkatkan harga-harga, menciptakan sakit kepala politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu bulan November, namun pemimpin AS itu tetap merasa optimis.
“Kami tidak terlalu merahasiakannya,” kata Trump tentang pendekatannya dalam sebuah wawancara.
“Kami hanya melakukan semi-negosiasi dengan mereka,” katanya.
“Kami hanya menyaksikan Iran dengan inflasi nan sangat besar dan kebenaran bahwa mereka tidak punya uang,” sambungnya.
"Itu bakal berhasil," tambahnya. “Ini seperti permainan catur," pungkas dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·