Iran Tangguhkan Perundingan, Trump Klaim Lanjutkan, Israel Serang Libanon, Prancis Bersuara

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Iran Tangguhkan Perundingan, Trump Klaim Lanjutkan, Israel Serang Libanon, Prancis Bersuara Peta Libanon dan Israel.(Al Jazeera)

ESKALASI kekerasan nan terus meningkat di Timur Tengah sekarang menakut-nakuti keberlangsungan perundingan tenteram antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Teheran dilaporkan telah menangguhkan pembicaraan tersebut pada Senin (1/6/2026) menyusul serangan intensif Israel ke wilayah Libanon.

Keputusan Iran untuk menarik diri sementara dari meja perundingan disampaikan oleh seorang pejabat Iran nan enggan disebutkan namanya. Langkah ini diambil setelah militer Israel meningkatkan operasi di Libanon selatan, nan memicu kekhawatiran bakal kegagalan perpanjangan gencatan senjata nan telah disepakati sebelumnya pada April lalu.

Klaim Kontradiktif Trump dan Netanyahu

Meskipun Iran menyatakan penangguhan, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa proses diplomasi tetap berjalan. Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran terus bersambung dengan kecepatan tinggi.

Trump juga mengeklaim telah berkomunikasi via telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perwakilan tingkat tinggi Hizbullah. Menurut Trump, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan baku tembak.

Namun, klaim ini segera dibantah oleh realitas di lapangan. Tak lama setelah pernyataan Trump, Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya bakal terus beraksi sesuai rencana di Libanon selatan.

Kondisi di Beirut kian mencekam setelah Israel memerintahkan pemindahan massal bagi penduduk sipil di bagian selatan ibu kota Libanon tersebut. Pasukan darat Israel apalagi dilaporkan melakukan serangan terdalam ke wilayah kedaulatan Libanon dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Kaitan Gencatan Senjata dan Konflik Regional

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi Teheran bahwa gencatan senjata antara Iran dan AS berkarakter menyeluruh di semua lini, termasuk Libanon. "Pelanggaran di satu lini adalah pelanggaran gencatan senjata di semua lini," tulis Araghchi di platform X.

Situasi semakin rumit dengan adanya tindakan saling balas di wilayah strategis lainnya. Militer AS dilaporkan menyerang situs radar dan drone Iran di dekat Selat Hormuz akhir pekan lalu. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke arah Kuwait pada Senin yang memaksa sistem pertahanan udara Kuwait melakukan intersepsi.

Poin Krusial nan belum Terpecahkan

Perundingan nan dimediasi selama berminggu-minggu ini bermaksud menyusun Nota Kesepahaman (MoU) guna memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Namun, beberapa poin krusial tetap menjadi ganjalan besar, di antaranya:

  • Nasib program nuklir Iran dan persediaan uranium nan diperkaya tinggi.
  • Kontrol atas Selat Hormuz nan menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
  • Tuntutan Iran atas pencairan biaya miliaran dolar nan dibekukan serta keringanan hukuman ekonomi secara luas.

Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa kedua belah pihak tetap terlibat dalam perdebatan sengit mengenai poin-poin bahasa dalam draf kesepakatan. "Sulit untuk mengatakan kapan atau apakah Presiden bakal menandatangani MoU tersebut," ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ini, Prancis meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas ekspansi kekerasan di Libanon nan dikhawatirkan bakal memicu perang regional skala penuh dan mengganggu stabilitas ekonomi global. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia