Iran Lemahkan Pengaruh AS, Trump Terdesak-Sekutu Mulai Rontok

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Hukum besi nan selama ini mengatur masa kepresidenan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ialah kekuatan, paksaan, dan kekuasaan sekarang mendapatkan tantangan dahsyat baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Mengutip kajian CNN International, Selasa (14/4/2026), Trump dan jajarannya tidak merahasiakan kepercayaan mereka bakal kekuasaan sang presiden dan kesediaan mereka untuk menggunakan kekuatan AS nan tidak terkendali demi mengejar kemenangan ekonomi, geopolitik, dan domestik. Kebijakan-kebijakannya merupakan perpanjangan dari merek pribadi nan dibangun di atas konfrontasi dan eskalasi perselisihan.

Namun, situasi internasional nan makin kacau dan gejolak domestik nan meningkat menunjukkan bahwa metodologi eskalasi dan pemaksaan nan dilakukan presiden mempunyai batas. Hal ini disinyalir mulai menggiringnya ke perspektif politik nan merugikan.

Ujian Berat Perang Iran

Perang di Iran terbukti menjadi ujian pamungkas bagi pendekatan Trump. Naluri politiknya mungkin menjelaskan keputusannya untuk melancarkan serangan terhadap ambisi militer, nuklir, dan regional Iran nan dihindari oleh presiden-presiden sebelumnya. Namun, penolakan Teheran untuk menyerah pada tuntutan Trump mulai mengungkap batas-batas kekuatan Amerika dan kekuatannya sendiri.

Kondisi ini meninggalkan presiden dengan pilihan-pilihan sulit. Dia bisa meningkatkan bentrok untuk mencoba memaksa Iran mematuhi tuntutannya, tetapi perihal itu dapat meningkatkan korban di pihak AS dan memicu ledakan ekonomi nan hebat. Dia bisa saja menyatakan kemenangan dan pergi, tetapi kendali Iran atas Selat Hormuz dan kepemilikan stok uranium nan diperkaya bakal membantah klaim tersebut.

Untuk melarikan diri dari jebakan itu, Trump memilih jalan nan melibatkan penggabungan kekuatan militer Amerika dengan penolakannya untuk mengalah kepada musuh nan melawan balik. Blokade baru di selat tersebut adalah upaya untuk mencekik ekonomi Iran meskipun ada potensi akibat jelek nan parah pada pasar daya global.

Kegagalan Diplomasi dan Balasan China

Pencarian titik akhir di Iran adalah krisis terpenting bagi presiden, namun kepemimpinan perangnya nan tidak menentu telah terlihat dalam kontroversi lain. Dia kandas memaksa sekutu NATO untuk berasosiasi dalam perang nan mereka tantang dan tidak diberitahukan sebelumnya.

Bahkan ancamannya untuk meninggalkan aliansi tidak meyakinkan negara-negara untuk meninggalkan apa nan mereka anggap sebagai kepentingan nasional mereka sendiri. Kurangnya support ini telah merugikan opsi-opsi AS nan sering diandalkan dalam perang-perang di masa lalu.

Pendekatan kasar Trump memang bisa berhasil, seperti saat dia memotong beberapa kesepakatan dengan menggunakan perang tarif terhadap mitra jual beli AS. Namun China, nan merupakan negara adikuasa ekonomi, membalas dengan menakut-nakuti bakal menghentikan ekspor tanah jarang nan kritis. Beijing menggunakan potensi perang jual beli untuk meluluhkan pasar dunia dan memaksa Trump mundur.

Iran tampaknya telah belajar dari bagian tersebut bahwa AS rentan terhadap guncangan dalam ekonomi global. Negara tersebut telah melakukan nan terbaik untuk menahan AS dengan penutupan selat milik mereka sendiri.

Kekuatan Politik nan Memudar

Rasa bahwa sebagian kekuasaan Trump sedang merosot melampaui kebuntuan Iran. Dia telah memandang batas-batas daya tarik politiknya setelah mengerahkan aktivitas politiknya untuk mendukung Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán. Upaya itu kandas pada hari Minggu lantaran pemilih menolak sang diktator dan merusak proyek Trump untuk mengubah Eropa menjadi "MAGA".

Sama seperti rekan sejawatnya di Hongaria, beberapa kebijakan domestik Trump menyebabkan serangan balik. Opini publik memaksanya mundur dari program deportasi massal setelah pembunuhan dua orang Amerika oleh pemasok federal di Minnesota awal tahun ini. Kegagalan sebagian besar upaya Trump untuk menggunakan norma guna menghukum musuh politiknya-yang membantu memicu pemecatan Jaksa Agung Pam Bondi-menunjukkan bahwa setidaknya beberapa pagar pembatas konstitusional tetap mengurungnya.

Bahkan Paus Leo XIV, seorang penduduk Amerika nan telah membikin marah presiden dengan penentangan vokalnya terhadap perang di Iran, ikut berkomentar pada hari Senin.

"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump," ujar Paus Leo XIV.

Mengapa Trump Percaya Kekuatannya Absolut

Trump tidak merahasiakan keyakinannya bahwa dia menikmati kekuasaan nan tidak tertandingi. Hal ini dia sampaikan secara terbuka kepada publik pada Agustus tahun lalu.

"Saya mempunyai kewenangan untuk melakukan apa pun nan mau saya lakukan. Saya adalah Presiden Amerika Serikat," kata Trump.

Dia juga mengatakan kepada The New York Times tahun ini bahwa satu-satunya hambatan pada tindakannya di luar negeri adalah moralitasnya sendiri.

"Satu-satunya batas bagi tindakan saya di luar negeri adalah moralitas saya sendiri," ungkap Trump.

Keyakinan itu tercermin dalam penolakannya untuk meminta masukan dari Kongres alias mempersiapkan negara untuk pertempuran sebelum meluncurkan perang nan sekarang telah berjalan enam minggu. Pejabat Gedung Putih, ketika ditanya tentang langkah selanjutnya di Iran, sering menjawab dengan ragam kalimat "hanya Presiden nan tahu apa nan bakal dia lakukan". Hal ini menyoroti tren penolakan terhadap prinsip-prinsip pembagian kekuasaan dalam sistem republik.

Keyakinan bakal kekuatan dan eskalasi nan mendasari masa kedudukan kedua Trump ini dijelaskan secara gamblang oleh wakil kepala staf Gedung Putih, Stephen Miller, pada Januari lampau di tengah euforia penangkapan kuat Venezuela, Nicolás Maduro.

"Kita hidup di dunia, di bumi nyata... nan diatur oleh kekuatan, nan diatur oleh kekerasan, nan diatur oleh kekuasaan," kata Miller kepada CNN.

Bagaimana Iran Merusak Aura Trump

Permainan kekuasaan Trump tampaknya bekerja lebih baik di awal pekerjaan kepresidenannya. Dia mengubah Partai Republik menjadi wadah kehendaknya nan tetap tidak mau membatasi dorongan liarnya meskipun ranking persetujuannya merosot.

Penggerebekan pasukan unik nan merenggut Maduro dari rumahnya pada bulan Januari adalah sukses besar bagi Trump. Di bawah "Doktrin Donroe" tentang kekuasaan Belahan Bumi Barat, dia juga menggunakan pengaruh politiknya untuk membantu pemimpin nan berpikiran sama memenangkan pemilu di Argentina dan Honduras.

Namun, keberuntungan Trump mungkin mulai lenyap di Iran. Perang dimulai dengan pagelaran kehancuran nan berkawan dari bentrok Amerika abad ke-21 lainnya, tetapi segera mulai menyoroti pelajaran sejarah bahwa kelebihan kekuatan udara nan besar tidak dapat dengan sendirinya menciptakan kemenangan nan jelas alias perubahan rezim.

Satu langkah memandang blokade selat Trump adalah sebagai upaya untuk memulihkan kekuasaan dirinya dan Amerika atas Iran guna meningkatkan prospek solusi negosiasi. Mencekik pendapatan minyak dan impor Iran dapat membikin ekonominya jatuh bebas, sehingga Iran tidak punya pilihan selain memohon perdamaian dengan syarat Trump.

Namun, satu pelajaran dari perang ini adalah bahwa para pemimpin Iran percaya mereka berada dalam pertarungan eksistensial, dan mereka siap untuk menimbulkan penderitaan nan tak terbatas pada rakyat mereka.

Mereka mungkin bertaruh bahwa Trump kurang mempunyai toleransi politik terhadap nilai minyak dan bensin nan lebih tinggi serta lonjakan inflasi di tahun pemilihan paruh waktu. Perlu waktu berbulan-bulan bagi blokade untuk membikin Iran bertekuk lutut, sementara waktu adalah kemewahan nan tidak dimiliki kandidat Kongres dari Partai Republik.

Ketidakmampuan serupa untuk mendikte hasil juga terjadi di Eropa. Berakhirnya kekuasaan nasionalis Orbán selama 16 tahun merampas aktivitas MAGA dari model peran nan melakukan tindakan keras terhadap imigrasi dan pers, serta nan mempolitisasi upaya besar dan hukum. Kepergiannya bakal merampas sekutu manajemen di dalam Uni Eropa, nan dihina Trump.

Secara lebih luas, eklips Orbán menunjukkan bahwa pemujaan terhadap kepemimpinan orang kuat-setidaknya dalam masyarakat kuasi-demokratis-tidak dapat selamanya mengatasi arus politik nan kuat. Keyakinan Trump bahwa dia menikmati kekuatan nan tidak terkendali tidak pernah didasarkan pada Konstitusi alias tradisi politik Amerika. Pembusukan nan tak terelakkan dalam kepresidenan masa kedudukan kedua dapat melemahkannya lebih jauh saat Iran menantang aura orang kuatnya dari luar.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News