Iran dan AS Mulai Negosiasi Final Akhir Pekan ini, Selat Hormuz Segera Dibuka

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Iran dan AS Mulai Negosiasi Final Akhir Pekan ini, Selat Hormuz Segera Dibuka Abbas Araghchi.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Iran mengumumkan bahwa pembicaraan tingkat tinggi dengan Amerika Serikat (AS) mengenai program nuklir dan pencabutan hukuman ekonomi kemungkinan besar bakal dimulai akhir pekan ini. Langkah diplomatik ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump nan menjamin Selat Hormuz bakal terbuka sepenuhnya segera setelah kedua pihak menandatangani kesepakatan final.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pada Selasa (16/6/2026) bahwa putaran baru negosiasi ini dijadwalkan mulai Jumat (19/6) di letak nan tetap bakal ditentukan. "Dalam kesepakatan final nanti, keputusan besar bakal diambil mengenai rumor nuklir dan penghapusan sanksi," ujar Araghchi.

Negosiasi ini dijadwalkan berjalan dalam jendela waktu 60 hari setelah penandatanganan bentuk Nota Kesepahaman (MoU) nan mengakhiri perang selama empat bulan akibat serangan AS-Israel ke Iran. Delegasi Iran bakal dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, sementara AS bakal diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance. Ada kemungkinan Presiden Trump juga bakal datang langsung dalam prosesi penandatanganan di Swiss.

Normalisasi Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi

Salah satu poin krusial dalam perkembangan ini adalah komitmen Trump untuk mencabut blokade di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Sebagai balasan, AS juga bakal mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. "Kapal-kapal mulai bergerak, banyak nan memuat minyak keluar dari Selat Hormuz," kata Trump di sela-sela KTT G7 di Prancis.

Meskipun gencatan senjata dimulai sejak April melalui mediasi Pakistan dan Qatar, rumor inti mengenai ambisi nuklir Iran tetap menjadi tantangan berat. Washington dan Israel mendesak penghancuran total stok uranium nan diperkaya tinggi milik Iran. Sebaliknya, Teheran tetap bersikeras pada haknya untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan damai.

Poin Utama Kesepakatan:

  • Pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh untuk perdagangan global.
  • Pelepasan aset Iran nan dibekukan senilai US$12 miliar (sekitar Rp196 triliun).
  • Inspektur nuklir PBB (IAEA) dan AS diizinkan masuk ke akomodasi Iran.
  • Penghancuran stok uranium nan diperkaya tinggi dengan support teknis AS.

Tantangan di Libanon dan Oposisi Israel

Meski optimisme menguat, para analis memperingatkan bahwa bentrok paralel di Libanon antara Israel dan Hizbullah nan didukung Iran bisa menjadi penghambat utama. Menlu Araghchi menegaskan bahwa mengakhiri perang di semua lini, termasuk Libanon, adalah bagian nan tidak terpisahkan dari kesepakatan tenteram ini.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam kesepakatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pasukan Israel bakal tetap berada di Jalur Gaza, Libanon, dan Suriah selama diperlukan untuk menjamin keamanan nasional mereka.

Trump sendiri menyebut arsip kesepakatan ini sebagai arsip nan sangat kuat dan bakal segera merilis teks lengkapnya. Namun, dia mengisyaratkan tetap ada negosiasi alot mengenai lama penangguhan pengayaan uranium Iran. AS mendorong jangka waktu 20 tahun sementara Iran kemungkinan hanya menyetujui 15 tahun. (AFP/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia