Iran Akhirnya Jawab Tawaran Damai AS, Begini Respons Balik Trump

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menolak respons terbaru Iran atas proposal perdamaian nan diajukan Washington untuk mengakhiri perang, di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz meski dua kapal akhirnya sukses melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Trump secara terbuka mengecam tanggapan Teheran melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026) waktu setempat. Ia menilai jawaban Iran sama sekali tidak dapat diterima, tanpa menjelaskan lebih rinci isi penolakan tersebut.

"Saya baru saja membaca respons dari apa nan disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya - SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA," tulis Trump.

Pernyataan itu muncul setelah Iran mengirimkan respons resmi terhadap proposal AS nan sebelumnya menawarkan penghentian perang terlebih dulu sebelum pembicaraan mengenai isu-isu lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran, dimulai.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa respons tersebut menitikberatkan pada penghentian perang di semua front, terutama di Lebanon, serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun televisi pemerintah Iran tidak menjelaskan gimana maupun kapan jalur pelayaran vital itu bakal kembali dibuka secara penuh.

Kantor buletin semi-resmi Tasnim menyebut proposal Iran mencakup beberapa tuntutan utama, ialah penghentian perang secara langsung di seluruh front, penghentian blokade angkatan laut AS, agunan tidak bakal ada lagi serangan terhadap Iran, serta pencabutan hukuman terhadap Teheran, termasuk larangan AS atas penjualan minyak Iran.

Laporan The Wall Street Journal nan mengutip sumber anonim juga menyebut Iran menawarkan pengenceran sebagian uranium nan telah diperkaya tingkat tinggi serta pemindahan sisa stoknya ke negara ketiga.

Pakistan, nan selama ini menjadi mediator dalam pembicaraan bentrok tersebut, dilaporkan telah meneruskan respons Iran kepada pihak AS. Seorang pejabat Pakistan mengonfirmasi langkah tersebut, sementara Washington belum memberikan komentar resmi.

Meski gencatan senjata telah berjalan sekitar satu bulan dan area Teluk relatif tenang dalam 48 jam terakhir, ancaman keamanan tetap terasa nyata. Drone-drone berbeda dilaporkan terdeteksi di beberapa negara Teluk pada Minggu, memperlihatkan bahwa akibat eskalasi tetap membayangi kawasan.

Di tengah situasi tersebut, kapal pengangkut gas alam cair milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, sukses melintasi Selat Hormuz dengan kondusif dan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, berasas info perusahaan analitik pelayaran Kpler. Kapal itu menjadi kapal Qatar pertama nan membawa LNG melewati selat sejak perang dimulai pada 28 Februari lampau setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Sumber-sumber menyebut pelayaran tersebut mendapat persetujuan Iran sebagai langkah membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, nan juga berkedudukan sebagai mediator.

Selain itu, kapal kargo berbendera Panama nan menuju Brasil juga sukses melintasi selat menggunakan jalur nan telah ditentukan angkatan bersenjata Iran. Tasnim melaporkan kapal tersebut sebelumnya sempat mencoba melewati selat pada 4 Mei.

Adapun tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang terus meningkat menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik tersebut telah memicu krisis daya dunia dan menambah ancaman terhadap perekonomian dunia.

Iran sendiri tetap membatasi sebagian besar pelayaran non-Iran di Selat Hormuz, jalur sempit nan sebelum perang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur ini sekarang berubah menjadi salah satu titik tekanan utama dalam konflik.

Saat ditanya apakah operasi militer terhadap Iran telah berakhir, Trump memberikan jawaban ambigu.

"Mereka sudah dikalahkan, tetapi itu tidak berfaedah mereka sudah selesai," katanya dalam wawancara nan ditayangkan Minggu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan perang belum usai. Menurutnya, tetap ada pekerjaan besar nan kudu dilakukan mengenai uranium Iran, akomodasi pengayaan, golongan proksi, dan keahlian rudal balistik Teheran.

"Ada lebih banyak pekerjaan nan kudu dilakukan," ujar Netanyahu.

Dalam wawancara dengan program CBS, Netanyahu mengatakan langkah terbaik untuk menghilangkan uranium nan diperkaya adalah melalui jalur diplomasi, meski dia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak bakal tunduk terhadap tekanan musuh.

"Iran tidak bakal pernah tunduk kepada musuh," tulis Pezeshkian di media sosial. Ia juga menegaskan negaranya bakal "membela kepentingan nasional dengan kuat".

Sementara itu, rencana pembentukan misi internasional untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz juga memicu peringatan keras dari Teheran.

Meski Washington telah memberlakukan blokadenya sendiri terhadap kapal-kapal Iran sejak bulan lalu, Teheran dinilai tetap memainkan waktu sebelum memberikan respons penuh terhadap tuntutan penghentian perang nan mulai tidak terkenal di mata pemilih AS akibat lonjakan nilai bensin.

Kurang dari enam bulan menjelang pemilu Kongres AS, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintahan Trump terus mencari beragam langkah untuk menurunkan nilai bahan bakar.

"Kami terus mencari beragam buahpikiran berbeda," kata Wright dalam wawancara dengan NBC.

Namun AS juga menghadapi minimnya support internasional. Sekutu NATO menolak permintaan Washington untuk mengirim kapal guna membuka Selat Hormuz tanpa adanya kesepakatan tenteram penuh dan mandat internasional resmi.

Di dalam negeri, Trump juga kudu menghadapi tekanan dari Partai Demokrat nan berupaya menghentikan perang melalui legislasi War Powers Act.

Senator Demokrat senior Jack Reed apalagi menilai situasi memburuk akibat kebijakan Trump sendiri.

"Ini adalah situasi nan menjadi jauh lebih jelek lantaran tindakan Donald Trump, dan sekarang dia kelabakan mencoba mencari langkah untuk keluar dari situasi ini," kata Reed kepada Fox News.

Inggris, nan tengah bekerja sama dengan Prancis untuk menyiapkan proposal keamanan pelayaran setelah situasi stabil, pada Sabtu mengumumkan pengerahan kapal perang ke Timur Tengah. Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan Prancis.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memperingatkan bahwa pengerahan kapal perang Inggris, Prancis, alias negara lain di sekitar Selat Hormuz dengan dalih "melindungi pelayaran" bakal dianggap sebagai eskalasi dan dibalas dengan kekuatan.

Menanggapi perihal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan negaranya siap membantu misi internasional, namun menepis adanya rencana pengerahan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Kami tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz," kata Macron.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News