Feby Novalius
, Jurnalis-Kamis, 04 Juni 2026 |18:26 WIB

Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia gelar obrolan dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026. (Foto: Okezone.com/Kadin)
JAKARTA – Realisasi investasi hilirisasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp147,5 triliun, dengan sektor nikel menjadi kontributor utama sekitar Rp41,5 triliun. Namun demikian, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besaran investasi dan kapabilitas produksi, tetapi juga dari pemenuhan standar keberlanjutan nan sekarang menjadi syarat krusial dalam akses pasar global.
Hal tersebut menjadi latar pembahasan dalam sejumlah agenda mengenai pengembangan industri mineral kritis di Indonesia, khususnya nan menyoroti praktik hilirisasi nikel berkepanjangan di Maluku Utara.
Dampak hilirisasi tercermin dari peningkatan signifikan nilai ekspor produk turunan nikel nan naik dari USD3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar USD34 miliar pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya nilai tambah nan dihasilkan di dalam negeri.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia Ovan Tito menilai perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara dapat menjadi referensi dunia bagi praktik responsible downstreaming.
“Setelah memandang langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan nan dilakukan, serta keterbukaan beragam pihak dalam berdialog, kami memandang ekosistem industri nan beraksi pada skala kelas bumi dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan, Kamis (4/6/2026).
Dengan kontribusi sekitar 13–15 persen terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara sekarang menjadi salah satu area strategis dalam rantai pasok mineral kritis global. Pada kuartal I-2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen, tertinggi di Indonesia, ditopang oleh sektor pengolahan dan pertambangan. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik menyumbang 96,65 persen dari total ekspor daerah.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan masuknya investasi. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal mempunyai peran lebih besar dalam rantai nilai industri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·