Integrasi Sistem Kepabeanan Dorong Efisiensi

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Integrasi Sistem Kepabeanan Dorong Efisiensi Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERCEPATAN digitalisasi kepabeanan menuntut perusahaan Kawasan Berikat memperkuat kesiapan sistem info dan kecermatan info internal. Langkah ini krusial untuk menjaga kelancaran arus barang, terutama ketika integrasi host-to-host (H2H) dengan sistem kepabeanan CEISA 4.0 diterapkan secara wajib bagi pelaku usaha.

Kesiapan tersebut menjadi perhatian seiring penerapan CEISA 4.0 secara berjenjang oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Salah satu landasannya adalah Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-163/BC/2026 tentang Penerapan Secara Penuh (Mandatory) CEISA 4.0 Tahap Kedua Puluh Lima nan bertindak sejak 27 Juli 2026.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) Cabang Semarang Jarot Wibowo mengatakan, penggunaan sistem IT Inventory nan terintegrasi melalui H2H tetap tergolong baru bagi sejumlah perusahaan di wilayah Semarang. Karena itu, pelaku upaya perlu memahami kebutuhan teknologi dan menyiapkan sistem sejak awal tanpa menunggu pemberlakuan kewajiban.
“Jangan sampai kelak waktu ada ketok palu mandatory, katakanlah 2027 besok, teman-teman belum tahu,” ujar Jarot, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, kesiapan sistem berangkaian langsung dengan kelancaran operasional perusahaan. IT Inventory digunakan untuk mencatat pergerakan persediaan setiap hari sehingga hambatan teknis berpotensi mengganggu proses manajemen dan aktivitas bisnis.

Koordinator Wilayah Selatan APKB Semarang Widia Kristina juga menyoroti pentingnya antisipasi terhadap hambatan integrasi. Gangguan sistem dapat memengaruhi kelancaran administrasi, termasuk proses pemasukan dan pengeluaran peralatan nan menjadi bagian krusial dari aktivitas perusahaan Kawasan Berikat.

Integrasi H2H memungkinkan sistem perusahaan berganti info secara langsung dengan sistem kepabeanan. Mekanisme ini diharapkan mempermudah penyampaian dokumen, meningkatkan efisiensi waktu, serta mendukung proses jasa nan lebih transparan, akurat, dan dapat dipantau secara real-time.

Namun, kesiapan integrasi tak cukup hanya dengan menyediakan aplikasi nan kompatibel. Perusahaan juga perlu memastikan info penerimaan bahan baku, persediaan, proses produksi, hingga pengeluaran peralatan tercatat secara jeli dan konsisten. Ketidaksesuaian info antardivisi dapat menjadi hambatan ketika info kudu dipertukarkan secara otomatis.

Karena itu, pelaku upaya perlu meninjau alur pencatatan persediaan, menyelaraskan info antarbagian, serta mengevaluasi keahlian sistem nan digunakan saat ini. Pengujian integrasi dan pemahaman tenaga kerja terhadap perubahan alur kerja juga diperlukan sebelum penerapan dilakukan.

Chief Executive Officer PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia) Anang Ind Pratama mengatakan integrasi IT Inventory dengan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dapat membantu perusahaan menghubungkan beragam kegunaan upaya dalam satu ekosistem data.

“Kebutuhan tersebut menjadi salah satu argumen IT Inventory perlu terhubung dengan sistem ERP. Dengan integrasi, info inventory dapat digunakan berbareng oleh kegunaan purchasing, warehouse, manufaktur, sales hingga accounting. Dalam praktiknya, integrasi sistem dapat membantu perusahaan mengurangi kebutuhan memasukkan info nan sama secara berulang di beragam fungsi,” kata Anang.

Dia menambahkan penerapan IT Inventory perlu menyesuaikan karakter dan proses upaya setiap perusahaan. Perbedaan standar operasional prosedur (SOP), pola produksi, serta pengelolaan persediaan membikin kebutuhan sistem tidak dapat diseragamkan.

“Kami tidak memandang penerapan IT Inventory sebagai upaya membikin semua perusahaan menjalankan proses nan sama. nan krusial adalah gimana sistem bisa mengikuti SOP perusahaan, sementara kebutuhan dan patokan kepabeanan tetap terpenuhi. Jadi teknologi nan menyesuaikan bisnis, bukan upaya nan dipaksa mengikuti teknologi,” ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan integrasi tersebut, ERP Indonesia mengembangkan Bzone alias Bonded Zone, modul IT Inventory nan terintegrasi melalui API H2H dengan CEISA 4.0 DJBC dan portal Indonesia National Single Window (INSW).

Modul tersebut ditujukan bagi pelaku upaya pengguna akomodasi kepabeanan, termasuk Kawasan Berikat, Gudang Berikat, Pusat Logistik Berikat, Kemudahan Impor Tujuan Ekspor, dan Kawasan Ekonomi Khusus. Bzone menghubungkan kegunaan inventaris, pengadaan, akuntansi, manufaktur, dan penjualan dalam satu sistem.

Seiring berlanjutnya penerapan CEISA 4.0, persiapan sistem dan pembenahan info menjadi bagian krusial dari upaya menjaga kesinambungan operasional industri. Kesiapan sejak awal diharapkan membantu perusahaan menghadapi perubahan sistem manajemen kepabeanan tanpa mengganggu kelancaran arus peralatan dan aktivitas produksi. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑