Ilustrasi--Pekerja membersihkan galon usai diisi ulang dengan air minum di depot air minum isi ulang area Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026).(ANTARA/Aprillio Akbar)
AIR minum isi ulang menjadi pilihan praktis bagi banyak family di Indonesia. Namun, masyarakat diingatkan untuk tidak serta-merta menganggap seluruh air isi ulang kondusif dikonsumsi hanya lantaran telah melalui proses penyaringan di depot.
Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, menekankan bahwa tingkat keamanan air sangat berjuntai pada banyak faktor, mulai dari hulu hingga ke tangan konsumen. Menurutnya, akibat kesehatan nan mengintai bisa bervariasi dari tingkat rendah hingga tinggi.
"Besarnya akibat sangat berjuntai pada kualitas sumber air, pengolahannya efektif alias tidak, kondisi fasilitasnya bagaimana, kehigienisan operator seperti apa, dan gimana penanganannya setelah pengisian," ujar Prof Etty dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/10).
Kualitas Air Baku dan Keterbatasan Teknologi
Salah satu aspek krusial adalah kualitas air baku. Prof Etty menjelaskan bahwa sumber air nan sudah tercemar oleh aktivitas manusia maupun industri membawa akibat besar. Teknologi penyaringan di depot air minum mempunyai keterbatasan dan belum tentu bisa menghilangkan seluruh jenis polutan.
Berikut adalah potensi kontaminan nan perlu diwaspadai dalam air minum isi ulang:
| Mikrobiologis | Bakteri, virus, dan protozoa. |
| Kimia Logam Berat | Arsen, timbal, kadmium, kromium, besi, mangan, aluminium. |
| Kimia Organik & Lainnya | Nitrat, nitrit, pestisida, dan hidrokarbon. |
Ia memperingatkan agar sumber air tidak diambil dari wilayah nan tercemar limbah domestik, septic tank, aktivitas pertanian (pupuk dan pestisida), hingga limbah industri dan pertambangan.
Titik Kritis Kontaminasi Pasca-Pengolahan
Hal nan sering luput dari perhatian adalah kontaminasi ulang setelah air selesai diolah. Air nan awalnya sudah memenuhi syarat kesehatan bisa kembali tercemar akibat peralatan nan tidak higienis.
"Kondisi galon, tangki, selang, dan peralatan sangat krusial lantaran tahap ini dapat menjadi titik kritis kontaminasi," tegas Prof Etty. Selain peralatan, kebersihan tangan operator juga memegang peranan krusial dalam menjaga kemurnian air nan masuk ke dalam galon konsumen.
Tips Memilih Depot Air Minum nan Aman
Masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan sederhana secara berdikari sebelum memutuskan berlangganan di sebuah depot air minum. Berikut adalah pedoman praktis bagi konsumen:
- Pantau Kebersihan Lingkungan: Pastikan depot bersih, bebas debu, tidak ada tumpukan sampah, alias genangan air di sekitar area pengisian.
- Cek Kondisi Galon: Jangan gunakan galon nan retak, berlumut, alias berbau. Pastikan galon tidak disimpan di tempat terbuka nan terpapar sinar mentari langsung.
- Perhatikan Operator: Operator kudu menjaga kebersihan tangan dan busana saat melayani pengisian.
- Verifikasi Dokumen: Jangan ragu menanyakan sumber air baku, hasil pemeriksaan laboratorium berkala, serta kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Sebagai solusi jangka panjang, Prof Etty menyarankan konsumen mencari depot nan menerapkan pengendalian akibat di sepanjang rantai produksi. Hal ini mencakup perawatan filter secara rutin, proses disinfeksi nan benar, hingga pencegahan kontaminasi ulang saat distribusi.
Dengan edukasi nan kuat, diharapkan masyarakat tetap bisa mendapatkan akses air minum nan kondusif bagi kesehatan dengan nilai nan tetap terjangkau. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·