Ini Tips dari Dirut BRI Investasi saat IHSG Loyo

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pekerja melangkah melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah pada perdagangan Kamis (30/4). Hingga pukul 11.23 WIB, indeks berada di level 6.935,297 alias turun 165,929 poin (-2,34%).

IHSG dibuka di level 7.103,256 dan sempat menyentuh level tertinggi 7.109,004. Namun tekanan jual membikin indeks turun hingga menyentuh level terendah di 6.929,589.

Merespons perihal itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, membagikan pandangannya mengenai strategi investasi di tengah pergerakan IHSG nan tengah mengalami tekanan.

Ia menilai, penanammodal perlu memahami tujuan investasinya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan di pasar modal, terutama dalam kondisi pasar nan fluktuatif.

“Ini melihatnya dari angle investor. Nah jika penanammodal di pasar modal itu kan ada beberapa objektif gitu, ada nan jangka pendek, ada nan jangka panjang,” ujar Hery saat konvensi pers keahlian kuartal I 2026 BRI secara daring, Kamis (30/4).

Hery menjelaskan, bagi penanammodal jangka panjang nan investasinya bisa mencapai 5 hingga 20 tahun, disarankan untuk memilih saham dengan esensial kuat alias kategori blue chip.

“Dan belilah saham-saham nan blue chip, nan fundamentalnya bagus seperti BBRI,” sebut dia.

Menurutnya, penanammodal jangka panjang tak perlu terlalu terpengaruh oleh pergerakan nilai saham harian nan berfluktuasi naik turun.

“Maksudnya apa? Anda gak usah terlalu lihat, lantaran kita seperti saya juga adalah penanammodal nan jangka menengah dan jangka panjang. Kita gak usah lihat nilai saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga gitu kan,” ucap Hery.

Katanya, strategi investasi mesti selaras dengan tujuan awal. Pendekatan penanammodal jangka pendek seperti trading tentu berbeda dengan investasi jangka panjang.

“Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita. Kalau mau one day trading itu lain gitu, tapi jika mau jangka panjang ya Anda mesti napasnya juga panjang, gak usah dilihat gitu ya,” lanjutnya.

instagram embed

Hery mengingatkan dalam kondisi pasar nan sedang tertekan, penanammodal sebaiknya memandang aspek esensial seperti dividen, bukan hanya nilai saham.

Dia melanjutkan, selama kondisi makroekonomi membaik, baik dunia maupun domestik, maka pasar saham berpotensi kembali menguat.

“Nanti kan marketnya bagus ya, makro ekonominya membaik, baik itu dunia maupun lokal, saham-saham itu pasti bakal ikut naik gitu, indeks bakal ikut naik gitu,” kata Hery.

“Jadi itu tipsnya, silakan jika mau berinvestasi, jangan lupa ya pilih nan blue chip, jangan pilih nan saham nan tidak blue chip,” imbuh ia.

===

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan rayuan untuk membeli, menahan, alias menjual suatu produk investasi tertentu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan