Ini Pemicu Dolar AS Bisa Ngamuk dan Tembus Rp18.000 Versi Bos Pengusaha

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memberikan pandangan mengenai penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Menurutnya pelemahan Rupiah nan terjadi disebabkan sentimen alias presepsi terhadap beberapa faktor. Seperti info impor Indonesia nan semakin membesar. Selain itu ada kekhawatiran mengenai peningkatan suku kembang acuan.

Pasalnya tekanan terhadap inflasi AS nan memperkuat tinggi di atas sasaran 2%, sehingga diprediksi Bank Sentral AS bakal menaikan kembali suku kembang acuan.

"Kurs rupiah terhadap US$ sudah masuk dalam persepsi walaupun indikasi info Ada nan mendukung, misal impor kıta semakin membesar menggunakan US$ lantaran inflasi di USA maka FED Akan kenaikan rate pinjaman sehingga USD Pulang kampung," kata Benny, melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Menurut Benny dari kondisi ini bakal menguntungkan pengusaha nan berorientasi ekspor dengan produksi nan berasal dari dalam negeri. Namun pengusaha saat ini juga sudah melakukan persiapan dengan menjaga ketat cashflow-nya.

"Masih menguntungkan untuk pengusaha nan orientasi nya Eksport dengan bahan Produksi dari dalam negeri . Persiapan pengusaha Kalau pelemahan rupiah Yaitu jaga ketat cash flow," kata Benny.

Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Terpisah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani, menilai pelemahan nilai tukar rupiah sudah dirasakan hingga sektor riil.

Menurutnya, bagi bumi usaha, tantangan utamanya bukan hanya pada level nilai tukarnya, tetapi pada akibat nan ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. Terlebih 70% sektor industri nan berjuntai pada impor bahan baku.

Artinya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi.

Shinta menjabarkan bahwa tekanan besar diantaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta beragam sektor nan tetap mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

Lebih lanjut menurut Shinta, bumi upaya sudah melakukan beragam langkah mitigasi atas akibat pelemahan nilai tukar ini.

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola akibat nilai tukar," katanya.

Menurutnya, saat ini pengusaha berfokus untuk menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya nan meningkat.

(emy/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News