Ini Alasan UMKM di Indonesia Tahan Banting

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Segmen ini pun menyerap nyaris 97% tenaga kerja.

Jumlahnya pun tidak main-main, berasas info BPS, jumlah UMKM tercatat ada sebanyak 65,5 juta unit usaha. Banyaknya jumlah UMKM di Indonesia menunjukkan bahwa segmen upaya UMKM bisa memperkuat menghadi kondisi apa pun.

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah menilai peran UMKM, khususnya mikro dan kecil, terhadap perekonomian Indonesia sangat besar. Dia menilai segmen ini mempunyai karakter unik nan membuatnya bisa menghadapi kondisi krisis sekalipun.

"Usaha mikro mini alias UMK disebut tahan banting tahan krisis lantaran nyaris tidak ada barrier to entry, sehingga selalu ada UMK baru nan muncul apalagi di tengah krisis," kata dia kepada CNBC Indonesia, Jumat (17/4/2026).

Diketahui Indonesia beberapa kali diterpa krisis, imbas krisis global. Pertama pada 1998 nan merupakan bagian dari krisis finansial Asia pada pertengahan 1997 di Thailand dan dengan sigap menyebar ke negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Krisis ini dipicu oleh kombinasi dari utang luar negeri nan tinggi, kebijakan ekonomi nan lemah, dan spekulasi mata uang. Pada masa itu, banyak korporasi besar, apalagi di sektor perbankan, ambruk. Namun segmen UMKM bisa bertahan, dan menjadi tulang punggung kebangkitan perekonomian Indonesia.

Tidak stop di 1998, krisis serupa juga melanda pada 2008 terimbas angsuran macet subprime mortgage di Amerika Serikat. Efeknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,5% pada 2009 dari 6,1% pada 2008. Pertumbuhan tersebut adalah nan terendah sejak 2001. Namun lagi-lagi, segmen UMKM di Tanah Air tetap bisa bertahan. Hal ini apalagi ditunjukkan dengan pertumbuhan jumlah UMKM pada periode krisis tersebut.

BPS mencatat pertumbuhan UMKM tahun ke tahun selalu meningkat, seperti tercatat di bawah ini ;

1998 - 36.813.578 2005 - 47.017.062

1999 - 37.911.723 2006 - 49.021.803

2000 - 39.748.036 2007 - 50.145.800

2001 - 39.964.080 2008 - 51.409.612

2002 - 41.944.494 2009 - 52.764.603

2003 - 43.460.242 2010 - 53.823.732

2004 - 44.777.387

Kala menghadapi Pandemi Covid-19 pun segmen UMKM di Indonesia relatif tetap bertahan, dengan jumlah mencapai 64 juta unit pada 2020, bisa tumbuh tipis menjadi 64,2 juta unit pada 2021. Hal ini menunjukkan pada kondisi paling menantang sekalipun, di mana saat Pandemi Covid-19 aktivitas publik sangat dibatasi, UMKM bisa menyesuaikan corak upaya dan memperkuat dengan mengangkat digitalisasi untuk berdagang secara online.

Secara individual, menurut Piter, UMK memang condong rentan dan setiap waktu mengalami kebangkrutan. Namun pada saat nan sama, muncul UMK-UMK baru nan menggantikan UMK nan tumbang tersebut.

"Oleh lantaran itu secara agregat UMK seperti tidak terganggu. Ini argumen disebut UMK itu tahan krisis,"tegas dia.

Jadi kendati UMKM saat ini tengah dalam kondisi menantang dengan ketidakpastian ekonomi global, pun imbas geopolitik. Namun memandang secara historis keahlian UMKM Indonesia memperkuat dari beragam periode krisis, tentu kesempatan segmen ini untuk tetap berkembang tetap sangat besar.

Berdasarkan Indeks Bisnis UMKM pada Kuartal III-2025, aktivitas upaya UMKM tetap berada pada fase ekspansi dengan nilai indeks 101,9. Laporan nan dirilis BRI ini menunjukkan bahwa optimisme pelaku UMKM mengalami peningkatan.

Pertumbuhan segmen ini juga tercermin dari porsi angsuran perbankan. Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebagai bank nan konsentrasi menyasar segmen UMKM. Hingga akhir tahun 2025, total angsuran BRI mencapai Rp1.521,49 triliun, di mana 80% merupakan angsuran UMKM.

(dpu/dpu)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News