Ilustrasi(Magnific)
PERDANA Menteri Inggris, Keir Starmer, resmi mengumumkan anak-anak berumur di bawah 16 tahun di Inggris bakal dilarang menggunakan media sosial mulai musim semi tahun depan.
Langkah tegas ini diambil menyusul hasil konsultasi pemerintah nan menunjukkan bahwa 89% dari 9.499 orangtua dan pengasuh sangat mendukung adanya batas usia legal untuk mengakses media sosial. Dari jumlah tersebut, 88% di antaranya sangat setuju bahwa batas usia tersebut kudu menyasar anak-anak di bawah 16 tahun.
Pemerintah menyatakan aplikasi terkenal seperti Snapchat, TikTok, YouTube, Instagram, Facebook, dan X (sebelumnya Twitter) bakal masuk dalam daftar larangan tersebut. Kendati demikian, patokan ini tidak bakal bertindak untuk jasa pesan instan seperti WA dan Signal.
Meskipun izin ini telah diumumkan, koresponden teknologi BBC, Chris Vallance, mencatat banyak perincian mengenai larangan ini nan "belum begitu jelas," mengingat belum adanya daftar definitif mengenai aplikasi apa saja nan dilarang dan nan tidak.
Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, menggambarkan kebijakan baru ini sebagai "momen penentu bagi anak-anak kita," dan berjanji bahwa rincian lebih lanjut bakal dijabarkan dalam peraturan turunan.
Rencana kebijakan ini pun memicu reaksi beragam dari remaja di Inggris. Aliyyah, seorang remaja berumur 14 tahun dari Barnsley, menyebut larangan ini sebagai "buang-buang waktu" dan menambahkan bahwa "terkadang aplikasi menjadi ruang nan kondusif bagi orang-orang."
Sebaliknya, Sean, remaja berumur 13 tahun dari Wythenshawe, justru mendukung penuh langkah tersebut. Ia menilai "sudah waktunya mereka melakukan sesuatu" terhadap penggunaan media sosial, nan dia sebut sebagai "tempat nan buruk."
Di sisi lain, support juga datang dari Pangeran Harry dan Meghan Markle. Pasangan nan menetap di AS dan aktif mengampanyekan perlindungan anak di bumi maya ini menyebut pengumuman pemerintah Inggris sebagai "langkah maju nan disambut baik."
Mereka mendesak agar platform online dirancang dengan lebih memperhatikan aspek keselamatan dan menempatkan "kesejahteraan anak-anak di atas keterlibatan (engagement) dan keuntungan."
"Beban ini tidak bisa hanya bertumpu pada orang tua dan anak-anak. Beban ini juga kudu ditanggung oleh perusahaan-perusahaan tersebut," jelas pasangan tersebut dalam sebuah pernyataan tertulis.
"Sampai saat itu tiba, setiap hari tanpa perubahan nan berfaedah adalah hari lain di mana anak-anak tetap terpapar pada ancaman nan sebenarnya bisa dicegah." (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·