Di era serba digital hari ini, media sosial adalah suatu perihal nan sudah tidak terpisahkan dari kehidupan. Menurut info dari We Are Social 2025, terdapat 143 juta pengguna media sosial di Indonesia dengan rata-rata penggunaan waktu 3 jam per harinya.
Di tengah kehidupan online tersebut, muncul figur-figur terkenal nan punya pengaruh besar dalam membentuk opini masyarakat, ialah influencer. Influencer adalah seseorang nan dapat mempengaruhi massa untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks media sosial, influencer merujuk pada orang dengan pengikut nan banyak di media sosial (CNN, 2023).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa influencer mempunyai kekuatan signifikan dalam memengaruhi sikap dan keputusan masyarakat. Penelitian dari Gaspersz. dkk (2024) menegaskan bahwa influencer memengaruhi opini publik secara luas, apalagi Gaspersz menyebut mereka sebagai Opinion Leader Digital.
Influencer aktif merekomendasikan produk-produk kecantikan, life style, hingga pandangan tentang kesehatan, pendidikan, apalagi politik. Namun, dari kejadian tersebut muncul persoalan baru, ialah apa nan disampaikan influencer kerap disetujui begitu saja oleh audiensnya.
Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari, di mana perseorangan lebih banyak mengakses info melalui media sosial dibandingkan sumber info lainnya nan lebih tepercaya.
Bahkan, dalam konteks bisnis, aspek seperti kredibilitas, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan influencer terbukti memengaruhi keputusan audiens. Dengan kata lain, influencer tidak hanya dilihat sebagai kreator konten, tetapi juga sebagai sumber informasi.
Namun, di kembali pengaruh besar tersebut, muncul persoalan serius dalam ranah makulat dan logika, ialah maraknya logical fallacy appeal to authority alias kesalahan berpikir nan mengandalkan otoritas sebagai dasar kebenaran.
Ketika Popularitas Dianggap Kebenaran
Appeal to authority adalah kesalahan logika di mana suatu pernyataan dianggap betul hanya lantaran disampaikan oleh figur nan dianggap mempunyai otoritas, tanpa menguji argumen itu sendiri. Dalam konteks media sosial, influencer sering kali diposisikan sebagai “otoritas baru”, meskipun tidak selalu mempunyai kompetensi di bagian nan mereka bicarakan.
Misalnya, seorang influencer dengan jutaan pengikut memberikan opini tentang kesehatan alias investasi. Tanpa latar belakang keilmuan nan memadai, pendapat tersebut tetap dipercaya oleh audiens hanya lantaran berasal dari figur nan populer. Dalam perihal ini, ketenaran menggantikan validitas sebagai tolok ukur kebenaran.
Fenomena ini diperkuat oleh beragam penelitian nan menunjukkan bahwa ketenaran influencer dapat meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan audiens secara signifikan. Menurut Chen dkk. (2024), influencer terkenal dapat menjangkau audiens nan lebih besar dan meningkatkan kesempatan hubungan audiens dengan konten nan mereka buat.
Bahkan, ketenaran tersebut dapat menimbulkan kepercayaan dan dapat memengaruhi keputusan tanpa perlu adanya bukti nan kuat. Inilah titik di mana kesalahan logika mulai muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Krisis Epistemologi di Era Digital
Dari perspektif pandang filsafat, kejadian ini menunjukkan adanya krisis epistemologi, ialah melemahnya langkah manusia memperoleh dan memvalidasi pengetahuan nan betul (Pajriani, T.R., et al. 2023). Epistemologi menekankan bahwa suatu pengetahuan kudu didasarkan pada pemikiran nan rasional, bukti empiris, dan proses berpikir kritis.
Namun, dalam praktik bermedia sosial, proses tersebut sering kali diabaikan. Informasi tidak lagi diuji berasas kebenarannya, tetapi berasas siapa nan menyampaikannya. Ketika influencer menjadi sumber utama informasi, otoritas individual menggantikan otoritas ilmiah.
Hal ini diperparah oleh karakter media sosial nan serba sigap dan instan. Audiens tidak mempunyai cukup waktu alias dorongan untuk memverifikasi informasi. Akibatnya, proses berpikir kritis tergantikan oleh penerimaan pasif.
Logika nan Tergeser oleh Algoritma
Selain epistemologi, persoalan ini juga berangkaian dengan logika sebagai perangkat berpikir rasional. Dalam logika, kebenaran suatu argumen tidak ditentukan oleh siapa nan berbicara, tetapi oleh kekuatan hubungan antara premis dan kesimpulan.
Namun, dalam ekosistem media sosial, logika sering kali kalah oleh algoritma. Konten nan menarik perhatian bakal lebih banyak muncul di beranda pengguna dan mengalahkan konten nan benar. Influencer yang bisa menarik perhatian dengan style komunikasi dan editing nan meyakinkan condong lebih dipercaya, meskipun argumennya lemah.
Penelitian dari Diany, A.A. & Yuliyanti, R (2025) juga menunjukkan bahwa influencer punya peran nan signifikan dalam pemasaran digital lantaran trust dan engagement merupakan determinan utama dalam memengaruhi keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi konsumen dari aspek logis (kredibilitas) ke aspek emosional (engagement dan trust).
Dari Otoritas Ilmiah ke Otoritas Sosial
Secara historis, otoritas dalam pengetahuan berasal dari lembaga nan mempunyai legitimasi, seperti akademisi, ilmuwan, alias lembaga penelitian. Namun, media sosial telah menggeser corak otoritas tersebut menjadi lebih elastis dan berbasis popularitas.
Influencer tidak perlu mempunyai gelar akademik untuk dianggap “ahli”. Cukup dengan jumlah pengikut nan besar dan tingkat engagement nan tinggi, mereka sudah dapat membentuk opini publik. Dalam konteks ini, otoritas tidak lagi berbasis kompetensi, tetapi berbasis visibilitas dan popularitas.
Perubahan ini menciptakan tantangan besar bagi masyarakat. Ketika otoritas tidak lagi dapat diandalkan sebagai parameter kebenaran, perseorangan dituntut untuk mempunyai keahlian berpikir kritis nan lebih tinggi. Tanpa itu, masyarakat bakal mudah terjebak dalam kesalahan logika nan sistematis dan mendalam.
Dampak Sosial: dari Konsumsi hingga Opini Publik
Dampak dari kejadian ini tidak hanya terbatas pada kesalahan berpikir, tetapi juga merambah ke beragam aspek kehidupan. Dalam konteks ekonomi, influencer terbukti bisa memengaruhi keputusan pembelian konsumen secara signifikan. Dalam konteks sosial, mereka juga dapat membentuk opini tentang isu-isu publik.
Masalahnya, ketika opini tersebut dibangun di atas kesalahan logika, keputusan nan dihasilkan juga berpotensi keliru. Masyarakat dapat mengambil keputusan berasas info nan tidak valid, nan pada akhirnya merugikan diri sendiri, orang lain, maupun bangsa.
Membangun Kembali Nalar Kritis
Dalam menghadapi persoalan ini, langkah nan paling krusial adalah mengembalikan peran logika kritis dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu menyadari bahwa tidak semua nan disampaikan influencer dapat dijadikan rujukan kebenaran.
Literasi digital menjadi kunci utama untuk membangun kembali penalaran. Tidak hanya keahlian menggunakan teknologi, tetapi juga keahlian untuk mengevaluasi sumber informasi, memahami konteks, dan mengidentifikasi kesalahan logika.
Selain itu, krusial untuk membedakan antara “terkenal” dan “berkompeten”. Popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan keahlian. Dengan kesadaran ini, masyarakat dapat lebih selektif dalam menerima informasi.
Penutup
Fenomena appeal to authority nan dilakukan oleh beberapa influencer menunjukkan bahwa masalah makulat dan logika bukanlah sesuatu nan abstrak, melainkan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di era media sosial, kesalahan berpikir dapat menyebar dengan sigap dan memengaruhi jutaan orang dalam waktu singkat.
Oleh lantaran itu, krusial bagi kita untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif informasi, tetapi juga menjadi ahli filsafat nan aktif dan kritis. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, keahlian untuk berpikir logis bukan lagi sekadar keunggulan, melainkan juga kebutuhan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·