Inflasi Mei 2026 Capai 0,28 Persen, Ini Pemicunya

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 02 Juni 2026 |11:43 WIB

Inflasi Mei 2026 Capai 0,28 Persen, Ini Pemicunya

Inflasi Mei 2026 Capai 0,28 Persen, Ini Pemicunya (Foto: Freepik)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen, sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) pada Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen.

Tekanan inflasi nan terekam dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 (0,28 persen mtm) terpantau bergerak lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pada April 2026 nan hanya mengalami inflasi sebesar 0,13 persen mtm.

Dengan capaian di bulan Mei tersebut, laju inflasi tahun almanak (Januari–Mei 2026) sekarang bertengger di nomor 1,35 persen, sementara tingkat inflasi tahunan (year on year/yoy) menyentuh level 3,08 persen.

BPS menegaskan kembali bahwa golongan pengeluaran nan menorehkan nomor inflasi paling tinggi serta memberikan andil terbesar pada bulan ini disumbang oleh sektor transportasi, ialah dengan nilai inflasi 0,61 persen dan andil terhadap IHK sebesar 0,07 persen.

BPS memaparkan tinjauan unik mengenai pergerakan sejumlah golongan pengeluaran nan menjadi pendorong sekaligus peredam laju inflasi domestik sepanjang bulan Mei 2026. Dinamika nilai komoditas pangan, energi, hingga instrumen investasi perhiasan menjadi aspek dominan nan mewarnai potret inflasi nasional.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, di dalam golongan makanan, minuman, dan tembakau, terjadi pergeseran kegunaan komoditas nan bisa menahan pembengkakan inflasi lebih lanjut.

"Jadi pada Mei 2026, selain memberikan sumbangan andil inflasi, ada beberapa komoditas dari golongan makanan, minuman dan tembakau nan juga memberikan andil peredam inflasi. Komoditas tersebut diantaranya adalah daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang putih," tutur Pudji dalam konvensi pers di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Berbanding terbalik dengan sektor pangan penyeimbang, sektor transportasi justru mencuat sebagai motor utama pendorong inflasi pada periode ini. Kelompok transportasi dilaporkan mengalami inflasi sebesar 0,61 persen dengan sumbangan andil inflasi terhadap IHK sebesar 0,07 persen.

Pudji memaparkan bahwa komponen utama pembentuk inflasi di sektor ini berasal dari pos daya kendaraan dan akomodasi udara, seperti kenaikan nilai bensin, solar, pelumas alias oli mesin, hingga tarif tiket maskapai penerbangan.

"Ini terjadi seiring meningkatnya nilai beberapa jenis BBM nonsubsidi dan juga nilai avtur," ungkap Pudji.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri buletin finance lainnya

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com