KOMODITAS PEMICU INFLASI: Pedagang menunggu komoditas pertanian cabe nan dijajakan di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Rabu (12/11/2025).(MI/Usman Iskandar)
DKI Jakarta mencatat inflasi nan cukup rendah ialah sebesar 0,12% (mtm) pada Mei 2026, melandai dari 0,21% (mtm) pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 0,28% (mtm).
Tekanan inflasi pada bulan ini terutama berasal dari nilai daya nonsubsidi, ialah BBM Non Susididan bahan bakar rumah tangga (khususnya LPG), nan mengalami kenaikan seiring dengan lonjakan nilai daya global. Di sisi lain, koreksi nilai emas perhiasan sejalan dengan tren pelemahan nilai emas dunia bisa menahan kenaikan inflasi di bulan Mei 2026.
“Secara tahunan, inflasi DKI Jakarta pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,49% (yoy), paling rendah di antara semua provinsi di Jawa dan lebih rendah dibandingkan nasional nan sebesar 3,08% (yoy),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Iwan Setiawan, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (3/6).
Perkembangan ini, lanjut Iwan, mencerminkan inflasi nan tetap terkendali di tengah kenaikan administrated price nan terimbas kenaikan nilai minyak dan daya dunia nan meningkat.
Berlanjutnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel dan berujung pada peningkatan nilai energi, nan kemudian memicu penyesuaian kembali nilai BBM nonsubsidi pada awal Mei 2026.
Tekanan juga diperkuat oleh tarif pikulan udara akibat kenaikan biaya avtur dan lonjakan permintaan pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan Waisak. Dinamika tersebut mendorong golongan transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan laju 0,55% (mtm), meskipun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya nan mencapai 1,46% (mtm).
Selain itu, akibat lonjakan minyak mentah dan gas dunia juga mendorong penyesuaian nilai bahan bakar rumah tangga nonsubsidi. Penyesuaian nilai diberlakukan sejak 18 April 2026 dan merupakan penyesuaian nilai pertama sejak November 2023.Kondisi tersebut mendorong inflasi nan lebih tinggi pada golongan Perumahan, Air, Listrik, dan Rumah Tangga, ialah sebesar 0,09% (mtm).
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau turut berkontribusi pada tekanan inflasi Jakarta pada Mei 2026. Tekanan nilai terutama berasal dari lonjakan nilai cabe merah dan bawang merah akibat terbatasnya pasokan dari sentra produksi di tengah tingginya permintaan selama periode Iduladha. Tekanan pada golongan ini juga turut diperkuat oleh kenaikan nilai minyak goreng akibat lonjakan nilai CPO dunia dan biaya bungkusan plastik.
Namun demikian, kenaikan nilai lebih lanjut pada golongan ini tertahan oleh deflasi daging ayam ras dan telur ayam ras nan didukung kondisi surplus pasokan, serta penurunan nilai komoditas lain, seperti udang basah dan tomat. Dengan dinamika tersebut, golongan ini mencatat inflasi nan lebih rendah ialah sebesar 0,25% (mtm) setelah bulan sebelumnya deflasi 0,36% (mtm).
Lebih lanjut, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan nilai emas perhiasan. Kondisi tersebut sejalan dengan tren pelemahan nilai emas dunia nan berjalan sejak Maret 2026 dan mendorong deflasi golongan Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan laju sebesar 1,10% (mtm), lebih dalam dibandingkan deflasi bulan sebelumnya nan sebesar 0,66% (mtm).
Dalam rangka menjaga stabilitas harga, TPID DKI Jakarta terus memperkuat beragam langkah pengendalian selama Mei 2026. Upaya tersebut meliputi penyelenggaraan pasar murah dan penyaluran program pangan bersubsidi, penyaluran Bantuan Pangan beras dan minyak goreng, penguatan pasokan melalui aktivitas urban farming komoditas padi, jagung, dan sayuran, percepatan realisasi impor sapi, serta optimasi truk keliling BUMD.
Selain itu, TPID memperkuat koordinasi untuk menghadapi musim tandus 2026, termasuk melalui obrolan nan melibatkan OPD, BUMD pangan, serta pelaku upaya di pasar induk.
Menghadapi HBKN Iduldha, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut meningkatkan kesiapan melalui penguatan kompetensi petugas pemeriksa hewan dan daging kurban serta Juru Sembelih Halal (Juleha). Upaya ini dilakukan melalui edukasi kurban “ASUH” (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal), monitoring kesehatan hewan, serta sosialisasi tata langkah pemotongan dan penanganan daging kurban.
Ke depan, strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) terus diperkuat untuk memitigasi rambatan akibat global, khususnya akibat bentrok geopolitik terhadap nilai daya dan nilai tukar, serta akibat domestik, termasuk potensi kejadian El Nino nan dapat memengaruhi pola tanam dan produksi tanaman pangan.Dengan sinergi TPID Provinsi DKI Jakarta nan semakin solid, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% sepanjang 2026. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·