Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah kembali menyoroti pentingnya pasokan dan nilai gas bumi bagi sektor manufaktur nasional. Di tengah upaya mendorong daya saing industri dalam negeri, nilai gas dinilai menjadi salah satu aspek penentu lantaran mempunyai kontribusi besar terhadap biaya produksi.
"Jadi kita memang kementerian nan punya tanggung jawab untuk membina manufaktur, dan gas itu kan kurang lebih 30% dari komponen produksi itu ada di gas. Nah, untuk mendapatkan competitiveness dibandingkan dengan negara-negara lain, produk-produk lain, maka nilai gas itu krusial sekali," kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita kepada CNBC Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (5/6/2026).
Pemerintah terus mengawal penerapan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Ia menilai pertimbangan dan penyempurnaan perlu terus dilakukan agar faedah HGBT dapat dirasakan lebih optimal oleh sektor industri nan menjadi sasaran program tersebut.
"HGBT sebuah kebijakan nan sudah diambil sejak pemerintahan Pak Jokowi dan dilanjutkan pada pemerintahan Pak Prabowo. Memang penerapan di lapangannya tetap perlu banyak perbaikan, perlu banyak penyempurnaan, dan itu terus menerus pasti kita kawal," kata Agus.
Di sisi lain, pelaku industri menilai persoalan nilai gas juga tengah dihadapi sejumlah negara pesaing Indonesia. Thailand nan sebelumnya menikmati nilai gas sekitar US$ 9 per MMBTU sekarang mengalami kenaikan hingga sekitar US$ 12 per MMBTU. Sementara di Malaysia, nilai gas nan sebelumnya berada di kisaran US$ 9,4 per MMBTU diperkirakan meningkat menjadi sekitar US$ 10-11 per MMBTU.
Namun kondisi di Indonesia dinilai mempunyai karakter berbeda. Industri keramik, disebut hanya memperoleh sekitar 40% pasokan gas dengan skema nilai unik sebesar US$ 7 per MMBTU. Adapun sisa kebutuhan daya kudu dipenuhi dengan nilai nan jauh lebih tinggi sehingga rata-rata nilai gas nan dibayar industri mencapai sekitar US$ 15 per MMBTU.
"Kondisi ini nan kami khawatirkan lantaran dapat mengganggu sasaran peningkatan utilisasi industri," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto.
Situasi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika nilai gas ekspor Indonesia berada di kisaran US$ 8 per MMBTU, sementara industri domestik kudu membeli gas pada nilai nan sama apalagi lebih tinggi.
"Jika nilai gas bisa berada di kisaran US$ 7 hingga US$ 9 per MMBTU, industri Indonesia tetap dapat bersaing dengan negara-negara seperti Malaysia dan Thailand," ujarnya.
(fys/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·