Industri Tekstil Kontraksi, Pengusaha Konveksi Teriak Order Sisa 50%

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku industri mini dan menengah (IKM) konveksi menghadapi tekanan berat akibat penurunan pesanan dalam beberapa waktu terakhir. Hal itu juga tergambar dari nilai indeks kepercayaan industri (IKI) April 2026 sebesar 51,75, namun untuk sektor tekstil justru mengalami kontraksi.

Kondisi ini memaksa banyak pelaku upaya melakukan efisiensi produksi di tengah ketidakpastian pasar domestik. Situasi ini terjadi di tengah dinamika industri tekstil nasional nan sedang mengalami kontraksi pada April 2026. Meski subsektor garmen tetap mencatat keahlian relatif baik, tekanan dari bahan baku impor dan persaingan nilai membikin pelaku IKM tetap berada dalam posisi rentan.

Pelaku upaya konveksi mengaku penurunan order berakibat langsung pada kapabilitas produksi nan selama ini menjadi tulang punggung upaya mereka. Penyesuaian pun tak terhindarkan.

"Jelas. Ya kan gini, contoh biasa dia order 100 pieces gitu, nah sekarang bisa 60, 50 alias apalagi separuhnya," ujar Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung (IPKB) Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Rabu (29/4/2026).

Penurunan pesanan tersebut tidak hanya berakibat pada output produksi, tetapi juga pada perencanaan tenaga kerja. Dalam kondisi normal, kapabilitas produksi sudah disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja nan tersedia.

Namun kini, banyak pelaku upaya mulai menahan ekspansi apalagi mengurangi aktivitas produksi untuk menekan biaya operasional. Kondisi ini menjadi dilema lantaran di satu sisi upaya kudu tetap berjalan.

"Jadi jika sampai saat ini menyatakan tutup belum, tetap tetap gitu bertahan, hanya tadi memperkuat ini lama-lama kan ya menguras tabungan juga nih," kata dia.

Tekanan ini semakin terasa lantaran permintaan pasar nan tidak stabil. Pelaku upaya menghadapi ketidakpastian dalam menentukan sasaran produksi mingguan maupun bulanan.

Di sisi lain, keberlangsungan upaya sangat berjuntai pada pasar domestik nan selama ini menjadi penyerap utama produk IKM. Tanpa perlindungan pasar, tekanan diperkirakan bakal semakin dalam.

"Karena nan dibikin sama IKM khususnya kebanyakan itu nyaris 95% itu ke dalam negeri market-nya," ujarnya.

Persaingan dengan produk impor murah juga menjadi tantangan serius. Produk luar nan masuk dengan nilai lebih rendah dinilai menggerus daya saing produk lokal di pasar dalam negeri.

Kondisi ini membikin pelaku upaya berambisi adanya intervensi kebijakan untuk menjaga keseimbangan pasar, terutama dari sisi pengedaran produk dan pengendalian impor.

"Nah nan dikhawatirkan itu tadi market dalam negerinya dikuasai masih banyak produk luar nan murah. Nah ini gitu, dilema bagi kami," kata Nandi.

Adapun aktivitas industri manufaktur mulai menunjukkan tanda perlambatan dari sisi permintaan. Dari rilis IKI, terlihat turunnya indeks pesanan baru ke level 51,43 dan produksi ke 51,34.
Di tengah kondisi tersebut, pasar domestik tetap menjadi penopang utama. Indeks permintaan dari dalam negeri tercatat meningkat ke level 50,90, sementara keahlian industri nan berorientasi ekspor mengalami perlambatan dengan indeks turun ke 52,28. Artinya daya serap pasar lokal tetap cukup kuat untuk menjaga aktivitas industri.

Sejumlah subsektor tercatat mengalami kontraksi pada periode ini. Industri minuman, tekstil, kayu dan peralatan dari kayu, bahan kimia, peralatan galian bukan logam, peralatan logam, hingga perangkat pikulan lainnya menunjukkan pelemahan kinerja. Khusus untuk industri tekstil, tekanan terjadi akibat hambatan pasokan bahan baku nan berasal dari sektor petrokimia

Kementerian Perindustrian memandang dinamika berbeda di tingkat subsektor. Industri busana jadi, khususnya nan berada di area berikat, dinilai mendapat untung dari kemudahan akses bahan baku.

Namun di sisi lain, pemerintah menyoroti perlunya pengaturan arus peralatan agar tidak menimbulkan tekanan bagi pelaku industri dalam negeri.

"Kami berambisi arus produk nan keluar masuk ke pasar domestik dapat diatur dengan baik, lantaran perihal inilah nan menyebabkan industri tekstil mengalami kendala," kata Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News