Indonesia Sesalkan Kontak Senjata AS-Iran, Minta Kembali ke Meja Perundingan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Wakil Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan atas kembali terjadinya kontak senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Indonesia menyerukan agar kedua pihak segera kembali ke meja perundingan dan menghentikan eskalasi konflik.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir (Tata) saat merespons pertanyaan mengenai sikap Indonesia di tengah situasi bentrok AS-Iran serta rencana kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau ke Indonesia.

Menurutnya, keberlanjutan bentrok tidak hanya berakibat pada negara-negara nan terlibat langsung, tetapi juga berpotensi menimbulkan akibat global, termasuk bagi Indonesia.

“Intinya kan begini ya, mengenai dengan situasi di antara Iran dan Amerika Serikat ya di Selat Hormuz. Kita tentunya mau terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali lakukan gencatan senjata,” ungkap Tata di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).

“Karena jika perang ini berlanjut, tidak saja berakibat negatif dan merugikan masyarakat di negara-negara nan sedang berkonflik, baik itu di Amerika maupun di Iran, tapi juga di negara-negara di seluruh bumi termasuk di Indonesia,” lanjutnya.

Tata menegaskan Indonesia menyayangkan kembali terjadinya kontak senjata antara kedua pihak nan berkonflik. Ia menekankan pentingnya upaya deeskalasi dan penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Kepulan asap menutupi alam kota setelah serangan Israel di Beirut, menyusul eskalasi antara Hizbullah dan Israel, di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran, Lebanon, 12 Maret 2026. Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

“Oleh lantaran itu kita sebenarnya menyayangkan bahwa kembali terjadi kontak senjata ya antara para pihak nan berkonflik dan kita kembali lagi menyerukan agar segera kembali lakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan,” tuturnya.

Adapun Indonesia pernah menawarkan diri untuk berkedudukan sebagai mediator dalam bentrok tersebut. Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mendukung proses perbincangan damai, termasuk kemungkinan pertemuan langsung dengan pihak terkait.

Tata menyebut bahwa tawaran Indonesia sebagai penyedia perdamaian tetap terbuka, namun pelaksanaannya berjuntai pada kesepakatan semua pihak nan berkonflik.

“Tawaran itu selalu ada, dan tentunya ini kan memerlukan kesepakatan dari semua pihak, dan ini adalah niat baik dari Bapak Presiden Prabowo di mana beliau selalu mengatakan siap untuk menjadi good offices ya dalam mendukung penyelesaian dari bentrok ini,” ujar dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan