India Siapkan Langkah Darurat Jaga Devisa di Tengah Perang Iran

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi para masyarakat di India. Foto: Pavel Laputskov/Shutterstock

Pemerintah India tengah menyiapkan sejumlah langkah darurat untuk memperkuat persediaan devisa di tengah tekanan akibat perang Iran. Opsi nan dibahas mulai dari kenaikan nilai bahan bakar hingga pembatasan impor peralatan non-esensial seperti emas dan elektronik konsumen.

Berdasarkan sumber Bloomberg nan mengetahui pembahasan tersebut, pejabat di Kantor Perdana Menteri dan Kementerian Keuangan India telah berbincang dengan Reserve Bank of India (RBI) mengenai beragam kebijakan untuk menahan akibat lonjakan nilai minyak dunia.

Salah satu opsi nan masuk pembahasan adalah meningkatkan nilai bahan bakar domestik. Jika direalisasikan, kebijakan ini bakal menjadi kenaikan pertama sejak perang Iran pecah. Namun hingga sekarang pemerintah disebut belum mengambil keputusan final.

India juga mempertimbangkan pembatasan impor emas dan peralatan elektronik lantaran dinilai bukan kebutuhan utama. Langkah itu disiapkan untuk menekan impor dan menjaga persediaan devisa di tengah kekhawatiran pelebaran defisit transaksi berjalan.

Kementerian Keuangan India dan RBI belum memberikan komentar resmi mengenai rencana tersebut.

Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India terkena akibat langsung dari lonjakan nilai daya dan terganggunya jalur pasokan melalui Selat Hormuz. Kenaikan tagihan impor daya membikin tekanan terhadap rupee semakin besar.

Pada perdagangan Selasa, rupee sempat melemah 0,3 persen ke level 95,6313 per dolar AS, sekaligus menjadi posisi terendah sepanjang sejarah. Mata duit India itu sekarang tercatat sebagai nan berkinerja paling jelek di Asia sepanjang 2026 akibat tekanan nilai minyak.

Untuk menahan tekanan tersebut, RBI terus melakukan intervensi di pasar kurs asing. Cadangan devisa India tercatat turun menjadi USD 690,7 miliar per 1 Mei, level terendah dalam lebih dari satu bulan. Meski begitu, jumlah tersebut tetap cukup untuk membiayai impor selama 10 hingga 11 bulan.

Sebelumnya, Perdana Menteri Narendra Modi juga telah meminta masyarakat mengurangi konsumsi bahan bakar dengan lebih banyak menggunakan transportasi publik dan bekerja dari rumah. Ia turut mengimbau penduduk menahan pembelian emas dan membatasi perjalanan ke luar negeri.

“Kami bakal mencermati apakah ada pengumuman kenaikan nilai bahan bakar secara berjenjang dan langkah pembatasan impor emas serta upaya mendorong arus modal masuk,” ujar ahli ekonomi Elara Securities India Pvt, Garima Kapoor.

Menurut dia, “seruan perdana menteri untuk menghemat persediaan devisa mencerminkan realitas nan sedang kami hadapi.”

Langkah penghematan serupa sebelumnya juga dilakukan sejumlah negara Asia lain seperti Vietnam dan Thailand untuk menjaga konsumsi bahan bakar dan persediaan dolar AS.

video story embed

Sumber tersebut mengatakan pernyataan Modi berkarakter antisipatif untuk menghadapi potensi gangguan pasokan daya ke depan. Pemerintah apalagi disebut dapat membatasi sementara penarikan devisa untuk kebutuhan non-esensial jika tekanan terus berlanjut.

Di sisi lain, Modi dinilai mempunyai ruang politik lebih besar untuk menjalankan kebijakan penghematan setelah kemenangan besar partainya dalam pemilu negara bagian terbaru, termasuk di Bengal Barat nan selama ini dikenal sebagai pedoman oposisi.

Selain intervensi pasar, RBI juga telah memperketat patokan perdagangan kurs asing dengan memangkas pemisah posisi terbuka harian bank menjadi USD 100 juta guna menekan spekulasi. Bank sentral India itu juga sempat meminta perbankan menghentikan penawaran perjanjian non-deliverable forward kepada pihak non-residen sebelum akhirnya kebijakan tersebut dicabut.

Tak hanya itu, RBI disebut sedang mempertimbangkan perubahan patokan lindung nilai mata duit bagi importir dan meminta eksportir lebih sigap memulangkan dolar AS hasil pembayaran ekspor ke dalam negeri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan