Jakarta, CNBC Indonesia - Ketergantungan RI terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dinilai telah mencapai tingkat nan mengkhawatirkan. Pemerintah pun didorong untuk segera mempercepat diversifikasi daya rumah tangga, salah satunya melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG berbasis hilirisasi batu bara.
Pengamat daya Iwa Gurniwa menjelaskan sekitar 75% kebutuhan LPG nasional tetap berjuntai pada impor, dengan volume mencapai 8,3 juta ton per tahun dan nilai sekitar US$4,2 miliar pada 2025.
Kondisi ini tidak hanya membebani neraca perdagangan, tetapi juga meningkatkan akibat terhadap perubahan nilai dunia serta tekanan subsidi nan mencapai Rp80-90 triliun per tahun.
"Diversifikasi sumber daya domestik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menjaga ketahanan daya nasional," ujar Iwa dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).
Menurut Iwa, pemerintah saat ini mempunyai tiga opsi utama untuk mengurangi ketergantungan LPG, ialah jaringan gas kota (jargas), kompor listrik, dan DME berbasis batubara. Ketiganya mempunyai kelebihan dan tantangan masing-masing, sehingga tidak bisa dipaksakan sebagai solusi tunggal.
Dalam konteks DME, Iwa menilai opsi ini mempunyai kelebihan lantaran dapat memanfaatkan prasarana LPG nan sudah ada. Selain itu, Indonesia juga mempunyai persediaan batubara ranking rendah nan melimpah sebagai bahan baku.
"DME memungkinkan substitusi LPG secara sigap tanpa perubahan besar di tingkat rumah tangga. Ini kelebihan nan tidak dimiliki opsi lain," katanya.
Lebih jauh, menurutnya pendekatan paling tepat adalah strategi diversifikasi berbasis wilayah. Jargas cocok untuk kota besar dengan kepadatan tinggi, kompor listrik untuk wilayah dengan surplus listrik, sementara DME dapat dikembangkan di wilayah penghasil batubara alias wilayah non-pipa.
Ia memperkirakan, jika ketiga opsi ini dijalankan secara paralel, potensi substitusi LPG bisa mencapai 4,5 hingga 6,5 juta ton alias sekitar 55-75 persen dari total impor saat ini.
"Tidak ada silver bullet. nan dibutuhkan adalah portofolio kebijakan nan adaptif sesuai karakter wilayah," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan sejumlah tantangan dalam merealisasikan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) nan dikembangkan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan.
Semula Bahlil menyebut salah satu latar belakang utama pengembangan DME adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Ia menjelaskan bahwa perbedaan jenis gas menjadi aspek utama kenapa Indonesia tetap kudu mengimpor LPG, meskipun mempunyai persediaan gas nan besar.
"Saya dikursus kilat oleh Pak Hilmi dan kawan-kawan waktu kami mau meresmikan bloknya beliau 25.000 barel waktu itu. Saya sempat nanya kenapa ini LPG kita impor gas kita kan banyak? Beliau menyampaikan C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini mini makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," kata Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).
Sebagai gantinya, pemerintah mendorong pengembangan DME nan dihasilkan dari hilirisasi batu bara berkalori rendah. Produk ini dirancang sebagai substitusi LPG, terutama untuk kebutuhan rumah tangga.
Meski mempunyai faedah besar, Bahlil mengakui bahwa perjalanan proyek DME tidaklah mudah. Ia menyebut banyak pihak nan sempat menentang alias menghalang realisasi proyek tersebut.
Bahlil mengatakan proyek tersebut sebenarnya sudah sempat dilakukan peletakan batu pertama pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo saat dirinya tetap menjabat sebagai Menteri Investasi. Namun, proyek itu terhenti di tengah jalan.
"Waktu itu belum jadi ketum partai soalnya. Jadi tetap bisa di-intercept. Belum jadi ketum partai tapi jika sekarang jangan coba-coba intercept. Saya kasih tahu memang. Orang Maluku bilang adek pele putus melintang patah. Ah itu," ujar Bahlil.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto belum lama ini telah meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, termasuk pengembangan akomodasi produksi DME di Tanjung Enim.
Proyek ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik. Pabrik DME nan bakal dibangun ini dirancang mempunyai kapabilitas produksi 1,4 juta ton per tahun, nan setara dengan sekitar 1 juta ton LPG.
Produk DME nantinya bakal diserap oleh Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga. Faslitas ini bakal memanfaatkan batu bara nan diolah nantinya merupakan jenis low rank alias batu bara kalori rendah nan selama ini belum termanfaatkan secara optimal, sementara ketersediaannya di Indonesia cukup melimpah.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·