Imbas Konflik di Timur Tengah, The Fed Tahan Suku Bunga

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ketua Dewan Cadangan Federal Jerome Powell berbincang pada konvensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal. Foto: AFP

Para pejabat Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga, Kamis (30/4). Meski demikian terjadi perpecahan nan semakin mendalam mengenai prospek kebijakan di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat bentrok di Timur Tengah.

Mengutip Bloomberg, empat pejabat memberikan bunyi menentang keputusan tersebut, termasuk tiga orang nan keberatan dengan pernyataan pascapertemuan nan menunjukkan bahwa bank sentral pada akhirnya bakal kembali memangkas suku bunga.

Dalam konvensi pers terakhirnya sebagai ketua Federal Reserve, Jerome Powell menyatakan niatnya untuk tetap berada di bank sentral sebagai personil Dewan Gubernur.

Ia menyebut bahwa pejabat Kementerian Kehakiman AS telah meyakinkannya pada akhir pekan lampau bahwa mereka tidak bakal memulai kembali penyelidikan pidana terhadap bank sentral selain jika pengawas internal memberikan rekomendasi tersebut.

Meskipun demikian, Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Columbia menyatakan bahwa dia mungkin membuka kembali penyelidikan jika diperlukan.

"Saya telah mengatakan bahwa saya tidak bakal meninggalkan majelis sampai penyelidikan ini betul benar selesai dengan transparansi dan final, dan saya tetap berpegang pada perihal itu. Saya bakal pergi jika saya merasa itu sudah tepat untuk dilakukan," ujar Powell mengutip Bloomberg, Kamis (30/4).

Pernyataan Federal Reserve menyebut bahwa Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan mendukung untuk mempertahankan kisaran sasaran suku kembang tetapi tidak mendukung penyertaan bias pelonggaran dalam pernyataan saat ini.

Sementara itu, Gubernur Stephen Miran memilih untuk mendukung pengurangan suku kembang sebesar seperempat poin.

Empat Pejabat Menentang

Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Hasil pemungutan bunyi 8 banding 4 ini menandai pertama kalinya sejak Oktober 1992 ada empat pejabat nan menentang keputusan Komite Pasar Terbuka Federal alias FOMC. Komite membiarkan suku kembang referensi mereka tetap berada di kisaran 3,5-3,75 persen.

Imbal hasil Treasury jangka pendek nan melacak prospek kebijakan moneter melonjak setelah keputusan tersebut lantaran penanammodal konsentrasi pada para penentang nan bersikap keras alias hawkish.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat juga terpantau menguat terhadap sebagian besar mata duit utama lainnya.

Perpecahan di komite berfokus pada frasa dalam pernyataan nan merujuk pada sejauh mana dan kapan penyesuaian tambahan terhadap suku kembang dilakukan.

Setelah pengurangan pada akhir 2025, bahasa tersebut menunjukkan bahwa bank sentral pada akhirnya bakal melakukan pemangkasan lebih lanjut.

Namun, sejak Januari 2026, semakin banyak pejabat nan mendorong perubahan untuk memberi sinyal lebih jelas mengenai kemungkinan bahwa langkah bank sentral berikutnya adalah kenaikan suku bunga.

Keputusan Powell untuk tetap menjabat bakal menutup kesempatan bagi Presiden Donald Trump untuk mengisi kekosongan kedudukan baru di bank sentral.

Presiden AS Donald Trump berbincang dengan Ketua Federal Reserve Jerome Powell saat meninjau pembaharuan gedung Dewan Federal Reserve di Washington, D.C., AS, pada 24 Juli 2025. Foto: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP

Hal ini juga dapat memperumit tugas Kevin Warsh nan dijadwalkan menggantikan Powell sebagai ketua setelah mendapatkan konfirmasi dari Senat.

Warsh bakal memimpin saat perang antara Israel dengan Iran terus memicu ketidakpastian di kalangan pemimpin upaya dan ekonom.

Lonjakan nilai daya bakal memicu inflasi nan sudah membandel, dan beban tambahan pada konsumen dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan serta pemutusan hubungan kerja.

Hingga saat ini, tingkat pengangguran tampak stabil, namun perekrutan tenaga kerja baru telah turun mendekati nol selama setahun terakhir.

Di saat nan sama, inflasi telah berada di atas sasaran 2 persen bank sentral selama lima tahun terakhir. Harga minyak mentah Brent saat ini menyentuh level tertinggi sejak Juni 2022.

Laporan awal bulan ini menunjukkan inflasi nilai konsumen melonjak pada Maret 2026 dengan kenaikan terbesar dalam nyaris empat tahun terakhir akibat lonjakan nilai bensin nan mencetak rekor.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan