Imbal Hasil Obligasi Jepang Tembus 3%, Tertinggi dalam 30 Tahun

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Ilustrasi mata duit Yen, Jepang. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus 3 persen pada Selasa (1/9), level tertinggi sejak 1996. Kenaikan ini menandai perubahan besar di pasar obligasi Jepang setelah biaya pinjaman referensi memperkuat di dekat nol selama bertahun-tahun.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/9), dinamika pasar obligasi Jepang telah berubah secara dramatis sejak bank sentral mengakhiri kebijakan suku kembang negatif terakhir di bumi pada 2024. Harga nan sebelumnya berada di bawah kendali Bank of Japan (BOJ) sekarang lebih banyak ditentukan oleh investor, baik domestik maupun asing.

Mereka membikin keputusan untuk membeli dan menjual berasas prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dan akibat dan imbal hasil Japanese Government Bonds (JGB) dibandingkan dengan aset lainnya, daripada kebijakan BOJ.

“Imbal hasil nan meningkat bakal membebani portofolio nan sudah ada melalui kerugian mark-to-market, tetapi juga menciptakan titik masuk nan lebih menarik bagi penanammodal pendapatan tetap. JGB sekali lagi menjadi pilihan alokasi nan kredibel," kata Ahli Strategi Pasar Senior Asia Pasifik di BNY, Wee Khoon Chong.

Meski bank sentral tetap memegang jumlah obligasi negara nan sangat besar, imbal hasil nan lebih tinggi mendorong lembaga Jepang untuk membeli lebih banyak, sementara biaya dunia semakin aktif melakukan perdagangan di pasar tersebut. Investor internasional menyumbang sekitar dua pertiga transaksi tunai JGB bulanan, naik dari 12 persen pada 2009.

Semua ini terjadi ketika imbal hasil obligasi di seluruh bumi bergerak lebih tinggi imbas kenaikan nilai minyak memicu kekhawatiran inflasi dan penanammodal meningkatkan ekspektasi Federal Reserve bakal meningkatkan suku bunga, sehingga mendorong volatilitas di Jepang.

Ilustrasi Investasi. Foto: Shutterstock

Imbal hasil indeks Bloomberg naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Senin, mencapai 3,72 persen, level tertinggi sejak pertengahan 2008. Imbal hasil obligasi Jepang nan lebih tinggi juga mencerminkan reflasi secara umum pada perekonomian nan sebelumnya stagnan, nan sekarang menikmati lonjakan untung perusahaan dan kenaikan upah.

Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan seluruh pertumbuhan ini tercermin dalam penerimaan pajak nan memadai untuk menutupi meningkatnya biaya pendanaan nan muncul seiring kenaikan imbal hasil.

Dalam kondisi tersebut, Kementerian Keuangan Jepang mengusulkan permintaan sebesar ¥36,6 triliun (USD 230 miliar) untuk biaya pembayaran utang dalam permintaan anggaran awal untuk tahun fiskal berikutnya. Angka tersebut dinilai merupakan rekor tertinggi.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun sedikit turun setelah lelang obligasi dengan tenor tersebut menunjukkan permintaan nan sejalan dengan rata-rata 12 bulan terakhir.

Imbal hasil obligasi Jepang di beragam tenor, baik jangka pendek maupun panjang, telah meningkat seiring penanammodal memperbesar taruhan bahwa BOJ bakal kembali meningkatkan suku kembang dalam waktu dekat, kemungkinan bulan ini alias bulan depan.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi disebut mendukung kenaikan suku kembang dalam waktu dekat sebagai respons terhadap pelemahan yen nan terus berlanjut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga meningkatkan tekanan terhadap BOJ untuk mengambil langkah berikutnya dalam kebijakan moneternya.

Swap indeks overnight mengindikasikan probabilitas sekitar 92 persen bahwa BOJ bakal mengambil langkah kenaikan suku kembang pada September, sementara kenaikan pada Oktober apalagi sudah sepenuhnya tercermin dalam nilai pasar.

Ilustrasi Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Foto: Shutter Stock

Kekhawatiran fiskal secara umum juga tercermin dalam kenaikan imbal hasil. Takaichi telah mengungkap rencana shopping nan belum pernah terjadi sebelumnya nan bermaksud membentuk kembali perekonomian Jepang, tetapi pemerintah tetap belum menjelaskan gimana mereka bakal membiayai pemangkasan pajak konsumsi untuk makanan. Investor semakin sensitif terhadap prospek peningkatan utang seiring kenaikan imbal hasil.

“Meski sebagian penanammodal obligasi mungkin sudah memandang level saat ini menarik dan mulai membeli, banyak penanammodal lainnya tetap memposisikan diri untuk mengantisipasi kenaikan imbal hasil lebih lanjut,” kata Kepala Strategi di T&D Asset Management Co, Hiroshi Namioka.

“Ada juga akibat pelemahan yen lebih lanjut nan berasal dari kekhawatiran fiskal, sehingga saya pikir repatriasi nan berfaedah tetap cukup jauh,” tuturnya.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan