Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

loading...

Teori Soal Iklim. Foto/ viet

NEW YORK - AI digunakan dalam prakiraan cuaca dan pemodelan iklim, tetapi teknologi ini tetap mempunyai keterbatasan dan belum dapat menggantikan fisika iklim.

AI semakin banyak diterapkan dalam peramalan cuaca dan pemodelan iklim, tetapipara ilmuwanpercaya bahwa ini belum menjadi revolusi nan dapat sepenuhnya menggantikan metode tradisional.

Di bagian ini, AI terutama dipahami sebagai pembelajaran mesin, sebuah teknologi nan memungkinkan komputer untuk mengenali pola dalam data. Pembelajaran mesin berbeda dari pemodelan bahasa besar, nan sering digunakan dalam chatbot.

Model pembelajaran mesin dapat memproses sejumlah besar data, mengenali hubungan nan kompleks, dan membikin prediksi jauh lebih sigap daripada beberapa model tradisional.

Dalam peramalan cuaca, pembelajaran mesin terbukti sangat efektif. Pusat Peramalan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) telah mengoperasikan model berbasis pembelajaran mesin pertamanya sejak Februari 2025, nan melangkah berbarengan dengan sistem peramalan nan sudah ada.

Menurut ECMWF, satu kali menjalankan model tradisional mengkonsumsi daya sekitar 1.000 kali lebih banyak daripada model pembelajaran mesin dan memerlukan waktu sekitar 30 menit, sedangkan model pembelajaran mesin hanya memerlukan waktu sekitar 3 menit.
.
Namun, kelemahan utama pembelajaran mesin adalah ketergantungannya pada info pelatihan. Jika peristiwa cuaca ekstrem tidak cukup sering terjadi dalam info masa lalu, model tersebut mungkin meremehkan gelombang alias intensitasnya. Ini merupakan masalah krusial lantaran prediksi jeli tentang peristiwa ekstrem mempunyai implikasi langsung terhadap keselamatan manusia.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews