Ilustrasi.(Men's Journal)
PARA intelektual menemukan langkah untuk membikin sel manusia tampak lebih dari 60 tahun lebih muda. Temuan nan mengejutkan ini bukan hanya soal hasil akhirnya, melainkan seberapa lambat transformasi tersebut terjadi.
Dalam sebuah studi tahun 2026 nan diterbitkan dalam jurnal Aging Cell, para peneliti di Universitas Bonn sukses mengubah sel prekursor darah dari donor berumur 80 tahun menjadi sel punca saraf dengan usia epigenetik di bawah 20 tahun. Penemuan nan diumumkan pada 9 Oktober ini menawarkan metode baru untuk menyelidiki apakah perubahan biologis nan mengenai dengan penuaan dapat dibalikkan.
Memutar Balik Jam Sel
Para peneliti menggunakan protein unik nan disebut aspek transkripsi untuk memprogram ulang sel prekursor darah secara langsung menjadi sel punca saraf, nan nanti dapat menghasilkan sel-sel saraf. Alih-alih mengukur usia berasas tahun sejak kelahiran, intelektual memeriksa modifikasi kimia pada DNA nan dikenal sebagai penanda epigenetik.
Perubahan ini memengaruhi langkah gen berfaedah dan membantu memperkirakan usia biologis sel. Hasilnya sangat mencolok: sel dari donor lansia menunjukkan karakter molekuler nan mengenai dengan sel nan jauh lebih muda.
Profesor Oliver Brüstle, Direktur Institute of Reconstructive Neurobiology di University Hospital Bonn, menjelaskan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar angka. "Kami juga mengetahui bahwa peremajaan epigenetik ini memastikan sel-sel tersebut betul-betul berperilaku seperti sel muda," ujar Brüstle.
Catatan Penting: Peremajaan ini dilakukan dalam kondisi laboratorium pada sel individu, bukan pada tubuh manusia secara keseluruhan.
Kejutan dalam Proses 100 Hari
Hal nan paling mengejutkan bagi tim peneliti adalah aspek waktu. Pendekatan sebelumnya biasanya mengharuskan konversi sel dewasa menjadi sel punca pluripoten sebelum diarahkan menjadi jenis sel unik lain saat peremajaan terjadi dengan sangat cepat.
Tim Bonn melewati tahap perantara tersebut, sehingga memungkinkan peneliti mengawasi proses peremajaan nan berjalan secara berjenjang selama lebih dari 100 hari. Hal ini krusial lantaran intelektual sekarang dapat memeriksa aspek apa saja nan mempercepat alias mengganggu perubahan sel, alih-alih hanya mengawasi hasil akhirnya.
Brüstle menggambarkan proses nan lebih lambat ini sebagai kesempatan untuk menyelidiki zat-zat nan mungkin memengaruhi peremajaan biologis secara lebih mendalam.
Potensi Melawan Alzheimer
Implikasi dari penelitian ini meluas melampaui pengukuran laboratorium. Karena sel nan dikonversi dapat berkembang menjadi sel saraf, para peneliti percaya pendekatan ini dapat meningkatkan investigasi terhadap kondisi neurologis mengenai usia, termasuk penyakit Alzheimer.
Namun, terdapat perbedaan krusial nan kudu digarisbawahi: para intelektual meremajakan sel dalam kondisi laboratorium. Mereka tidak membalikkan penuaan pada orang berumur 80 tahun secara fisik, tidak mendemonstrasikan peningkatan angan hidup, alias menetapkan pengobatan untuk demensia.
Temuan ini menyediakan model penelitian nan berbobot bagi bumi medis. Namun, itu belum menjadi terapi antipenuaan nan tersedia bagi pasien umum saat ini. (Men's Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·