Ikhtiar OJK Menutup Gap Literasi Keuangan dan Menguatkan Ekonomi Kerakyatan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ikhtiar OJK Menutup Gap Literasi Keuangan dan Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Pengunjung Fin Expo (Financial Expo) 2026 mendatangi stan jasa keuanga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di TSM Makassar awal Okotober lalu.(MI/Lina Herlina)

WARGA Kota Makassar, Sulawesi Selatan, nan berjamu di Trans Studio Mall, terlihat memadati atrium pusat perbelanjaan nan dipenuhi sejumlah stan jasa keuangan, dalam rangka Fin Expo (Financial Expo) 2026 nan digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), awal Oktober lalu.

Sebagian dari mereka ada nan membuka rekening, bertanya tentang produk investasi, dan juga ikut sesi edukasi keuangan.

Suasana atrium siang itu memang bukan sekadar pameran. Di antara kerumunan pengunjung, seorang visitor tampak serius mendengarkan penjelasan petugas bank tentang langkah menabung nan aman.

Di stan sebelah, sekelompok sosialita membahas tentang investasi nan legal. "Kita mau belajar soal investasi, kita tahu sekarang banyak investasi bodong. Dari sini kita bisa tahu nan mana asli, dilindungi dan diawasi oleh OJK, dan mana nan tidak," kata Maharani, mewakili rekan-rekannya.

Fin Expo, Jembatan Literasi dan Inklusi

Fin Expo adalah pameran jasa layanan finansial nan diadakan untuk meningkatkan literasi dan inklusi finansial masyarakat, lantaran memang ada kesenjangan antara inklusi dan literasi.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi nan membuka FIN Expo, Bulan Inklusi Keuangan 2026 dengan tema "Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera", menegaskan bahwa akses finansial nan inklusif sangat vital dalam mendorong percepatan ekonomi kerakyatan, utamanya bagi para pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nan menjadi tulang punggung perekonomian Sulsel.

"Inklusi finansial menjadi peran nan sangat vital dalam mendorong percepatan ekonomi kerakyatan melalui penyediaan akses permodalan nan mudah dan aman, khususnya bagi para pelaku UMKM. Lewat FIN Expo ini, kita berambisi gap antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat bisa makin diperkecil," ujar Fatmawati.

Ia juga menyampaikan pesan kepada para pelaku industri jasa finansial agar terus memperluas jangkauan jasa hingga ke pelosok daerah, termasuk menghadirkan penemuan produk nan inklusif dan ramah masyarakat.

"Mari terus memperluas jangkauan jasa hingga ke pelosok serta menghadirkan penemuan produk nan inklusif, ramah masyarakat, dan mendukung pertumbuhan ekonomi hijau serta berkepanjangan di Sulsel," ujarnya.

Ketua Panitia FIN Expo BIK 2026 nan juga RCEO BRI Regional Office 15 Makassar, Riza Pahlevi, menambahkan bahwa FIN Expo 2026 bukan hanya menjadi arena pameran produk jasa keuangan.

Kegiatan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, edukasi, serta memahami faedah dan akibat dari setiap produk keuangan.

"Kegiatan ini diisi oleh 28 tenant jasa finansial nan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga menjadi wadah edukasi, konsultasi, dan komunikasi interaktif dengan masyarakat," ujar Riza.

Ruang nan Masih Harus Diisi

Berdasarkan info OJK, tingkat inklusi finansial di Sulsel sudah mencapai sekitar 94 persen, namun tingkat literasi finansial tetap berada di nomor 63%.

Artinya, tetap ada ruang bagi sekitar 31% masyarakat Sulsel nan telah menggunakan jasa finansial alias mempunyai rekening, mengakses kredit, alias menggunakan produk finansial lainnya untuk lebih memahami secara optimal produk dan jasa nan mereka gunakan.

Ini menjadi wajah dari perjalanan panjang OJK dalam mengawal sektor jasa finansial Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan.

Hal itu juga menjadi perhatian personil Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris. Ia menilai meski ada gap (celah), tapi sudah banyak masyarakat nan memanfaatkan platform digital.

"Tetapi itu, tetap ada nan tidak mengerti langkah menilai risikonya. Makanya, saya berbareng OJK selalu aktivitas literasi finansial berbareng di sejumlah kampus-kampus dan universitas, seperti nan digelar di Unhas," katanya, Selasa (20/10) di Unhas.

Dari Literasi ke Pembiayaan

Menyadari besarnya tantangan tersebut, OJK Sulselbar berbareng Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sulawesi Selatan telah menjalankan beragam program nan menyasar golongan masyarakat paling beragam.

Sepanjang 2026 hingga triwulan II, TPAKD Sulsel telah melaksanakan 198 aktivitas literasi finansial dengan jangkauan 2.204.391 peserta. Kegiatan tersebut menyasar pelajar, mahasiswa, ASN, golongan perempuan, nelayan, petani, UMKM, penyandang disabilitas, hingga masyarakat pedesaan.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Mochamad Muchlasin, nan juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulselbar, menyatakan bahwa FIN Expo 2026 merupakan bagian dari upaya mempersempit kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan.

"Kami berambisi aktivitas ini menjadi wadah memberikan literasi finansial kepada masyarakat," ujarnya.

Selain literasi, beragam program juga diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan masyarakat. Program Hapus Ikatan Rentenir di Sulawesi (PHINISI) telah mencapai plafon Rp1,18 triliun dengan 34.084 debitur.

Termasuk untuk pemberdayaan UMKM melalui klasterisasi; sejak 2022 hingga 2025 telah terbentuk 1.611 klaster dengan 22.275 debitur dan plafon angsuran Rp644,46 miliar.

Di sektor digitalisasi keuangan, jumlah merchant QRIS di Sulawesi Selatan tercatat sebanyak 1,5 juta merchant. Sementara program budaya menabung pelajar melalui KEJAR alias One Student One Account (OSOA) telah mencapai 2.187.810 rekening dengan nominal Rp412,38 miliar.

OJK sendiri telah melaksanakan 1.896 aktivitas literasi finansial sepanjang Januari hingga Desember 2025, menjangkau 1,83 juta peserta di 30 kabupaten/kota. Hingga Maret 2026, OJK telah melaksanakan kurang lebih 456 aktivitas edukasi hanya dalam waktu tiga bulan.

Berbagai ikhtiar ini menunjukkan komitmen nan terus melangkah untuk memastikan masyarakat tidak hanya mempunyai akses, tetapi juga pemahaman nan memadai. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, OJK Sulselbar menerima 1.941 jasa konsumen, dengan sektor fintech sebagai penyumbang terbanyak.

Kehadiran jasa konsumen ini menjadi pengingat bahwa literasi finansial adalah kunci agar masyarakat dapat memanfaatkan jasa finansial dengan kondusif dan bijak.

Stabilitas di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Stabilitas sektor jasa finansial di Sulsel tidak datang tanpa ujian. Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia dan tekanan inflasi nan meningkat, OJK Sulselbar mencatat keahlian sektor jasa finansial nan tetap solid pada triwulan I 2026.

Muchlasin melaporkan bahwa perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 6,88%, melampaui rata-rata nasional nan berada di nomor 5,61%.

Angka ini bukan hanya dalam statistik. Di baliknya terdapat aliran angsuran nan tersalurkan ke sektor-sektor produktif, pembiayaan dari industri finansial non-bank nan terus tumbuh, dan semakin beragamnya akses jasa finansial bagi masyarakat.

Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulsel mencatat pertumbuhan positif di beragam sektor. Penyaluran pembiayaan pada perusahaan pembiayaan tercatat Rp19,27 triliun, tumbuh 1,23% secara tahunan.

Pembiayaan fintech peer-to-peer lending mencapai Rp2,52 triliun, tumbuh signifikan 32,26%, sementara industri pergadaian melonjak 61,08% dengan total pembiayaan Rp12,57 triliun.

"Pertumbuhan pembiayaan pada beragam sektor mencerminkan semakin beragamnya pengganti akses pendanaan bagi masyarakat dan pelaku usaha," ujar Muchlasin.

Inovasi dari Timur

Sebelumnya, pada Juli 2026, di Kantor OJK Sulselbar Makassar, sebuah obrolan golongan terarah mulai membahas tokenisasi Real World Assets (RWA), sebuah penemuan nan memungkinkan aset bentuk seperti resi penyimpanan beras, produksi kakao, hingga perjanjian pembelian komoditas dikonversi menjadi aset digital nan dapat diperdagangkan.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menegaskan bahwa penemuan ini bukan hanya proyek teknologi.

"Pendalaman pasar finansial digital tidak boleh dipahami sebagai proyek teknologi semata, tetapi kudu menjadi bagian dari pembangunan ekonomi regional dan nasional," katanya.

Yang menarik, OJK telah meluluskan sejumlah penyelenggara melalui Regulatory Sandbox dengan model upaya baru, mulai dari tokenisasi emas, tokenisasi Surat Utang Negara melalui Kontrak Pengelolaan Dana, hingga publikasi stablecoin Rupiah.

Ini menandakan bahwa penemuan sektor finansial digital mulai memasuki tahap penerapan pasar, bukan lagi hanya wacana.

Bagi Sulsel, penemuan ini mempunyai relevansi langsung. Komoditas unggulan wilayah seperti beras, kakao, dan hasil perikanan dapat menjadi pedoman tokenisasi nan memperluas akses pembiayaan bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Sejak lahirnya OJK 15 tahun lalu, ada capaian nan membanggakan, khususnya di Sulsel, ialah pertumbuhan ekonomi nan melampaui rata-rata nasional, penemuan finansial digital nan mulai menemukan bentuknya, dan inklusi finansial nan menjangkau nyaris seluruh lapisan masyarakat. Dan tetap memastikan bahwa setiap orang nan telah mempunyai akses juga mempunyai pemahaman, sehingga inklusi finansial betul-betul berfaedah pemberdayaan. (LN/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑