Jakarta -
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, mengungkap ancaman nan ditimbulkan ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Gema mengatakan ikan sapu-sapu berpotensi merusak ekosistem.
"Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi nan berkarakter invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan lantaran sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai alias danau," kata Gema kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gema mengatakan meski bukan predator, ikan sapu-sapu dapat menggeser populasi ikan asli. Dia mengatakan ikan sapu-sapu mengandung logam berat dan rawan bagi kesehatan.
"Dagingnya diduga mengandung logam berat sehingga dapat berakibat negatif andaikan dikonsumsi dalam jangka panjang," ujarnya.
Sementara itu, peneliti BRIN, Haryono, menilai langkah Pemprov DKI Jakarta nan melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sudah tepat. Menurutnya, populasi ikan tersebut saat ini telah melimpah dan mengganggu ekosistem perairan.
"Upaya seperti ini patut dicontoh untuk wilayah lain, bukan hanya penangkapan ikan sapu-sapu tetapi juga ikan invasif lainnya seperti ikan red devil," ungkapnya.
Haryono menjelaskan ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi asal Amerika Selatan nan sekarang telah tersebar luas di Indonesia. Spesies ini, kata dia, apalagi sudah dikategorikan sebagai ikan jenis asing invasif (JAI) lantaran menakut-nakuti kelestarian ikan lokal dan habitatnya.
"Dampaknya terhadap manusia berkarakter secara tidak langsung ialah jika dikonsumsi bakal membahayakan kesehatan manusia, lantaran kemungkinan mengandung bahan-bahan cemaran seperti logam berat," jelasnya.
Terkait upaya pengendalian, Haryono menyebut ada tiga metode nan dapat dilakukan di antaranya, secara biologi, kimiawi, dan manual. Namun, menurutnya, metode manual melalui penangkapan merupakan metode paling aman.
"Agar dapat terkendali populasinya perlu dilakukan penangkapan secara intensif dan periodik, sehingga populasinya dapat ditekan dan semakin lama bakal terkikis habis. Hal ini perlu adanya edukasi dan melibatkan semua pihak mengenai (stakeholder)," tuturnya.
(amw/rfs)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·