IHSG Hari Ini Diprediksi Volatil imbas Harga Minyak dan Suku Bunga Tinggi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
IHSG Hari Ini Diprediksi Volatil imbas Harga Minyak dan Suku Bunga Tinggi ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, dibuka melemah. IHSG hari ini diprediksi bakal bergerak volatil. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dari tingginya nilai minyak dunia dan kebijakan suku kembang tinggi nan tetap bertahan.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta menyatakan bahwa meskipun prospek jangka pendek pasar modal Indonesia menunjukkan perbaikan, kerentanan terhadap aspek eksternal tetap sangat tinggi.

“Pasar tetap rentan terhadap tekanan berupa nilai minyak nan tinggi, suku kembang dunia nan memperkuat di level atas, dan melemahnya surplus perdagangan,” tulis Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas, Rabu (3/6).

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi aspek utama nan mengerek nilai energi. Ancaman Iran untuk memblokir Selat Hormuz telah mendorong nilai minyak bumi mendekati level 100 dolar AS per barel. Kondisi ini dikhawatirkan bakal memicu gelombang inflasi dunia baru.

Di sisi lain, pasar saham AS sebenarnya baru saja mencetak rekor tertinggi pada 2 Juni 2026, didorong oleh euforia sektor kepintaran buatan (AI) dan semikonduktor. Namun, reli tersebut dibayangi oleh akibat konsentrasi pasar pada segelintir saham teknologi raksasa.

Sentimen Global Utama:

  • Harga minyak bumi mendekati 100 dolar AS per barel akibat tensi di Selat Hormuz.
  • Data tenaga kerja AS nan kuat membatasi ruang penurunan suku kembang bank sentral.
  • Inflasi Zona Euro nan meningkat memperketat likuiditas global.

Kondisi Ekonomi Domestik

Dari dalam negeri, terdapat sinyal positif dari sektor riil di mana PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk ke area ekspansi pada Mei 2026. Hal ini mengindikasikan pemulihan aktivitas ekonomi domestik setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.

Namun, optimisme tersebut tertahan oleh beberapa info makroekonomi nan kurang menggembirakan:

  • Capital Outflow: Investor asing mencatatkan tindakan jual bersih (net sell) senilai Mata Uang Rupiah 1,39 triliun.
  • Neraca Perdagangan: Surplus menyusut tajam menjadi hanya 90 juta dolar AS akibat lonjakan impor.
  • Inflasi: Inflasi Mei 2026 merangkak naik ke level 3,08 persen (yoy), dipicu kenaikan biaya transportasi dan energi.

Di sektor perbankan, kejadian tingginya undisbursed loan alias angsuran nan belum ditarik menunjukkan bahwa meskipun likuiditas perbankan dalam Mata Uang Rupiah tetap kuat, permintaan angsuran produktif dari pelaku upaya belum pulih sepenuhnya. Kombinasi faktor-faktor ini membikin penanammodal condong bersikap konservatif terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. (Ant/E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia