Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.(MI/Ihfa Firdausya)
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dalam dua hari terakhir menyusul pengumuman pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru unik ekspor. Pada pembukaan perdagangan Kamis (21/5), IHSG merosot 70 poin alias melemah 1,11% ke level 6.248.
Penurunan ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, Rabu (20/5), di mana indeks ditutup melemah 0,82% di posisi 6.318,500. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai koreksi ini merupakan reaksi wajar pasar terhadap ketidakpastian info mengenai kebijakan baru tersebut.
"Mungkin mereka belum tahu akibat sebenarnya seperti apa. Kan jika ada ketidakpastian, biasanya takut, jual dulu. Tapi jika mereka kelak mengerti akibat nan sebetulnya seperti apa, harusnya bakal naik," ujar Purbaya usai rapat di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5).
Purbaya menjelaskan bahwa kehadiran BUMN ekspor justru bermaksud untuk menutup praktik under invoicing nan selama ini merugikan negara dan perusahaan. Dengan sistem baru, pendapatan perusahaan nan tercatat di bursa (listed) diharapkan bakal terefleksi secara murni tanpa ada biaya nan tertahan di luar negeri oleh pemilik.
"Jadi harusnya bisa double untungnya nan listed di bursa nan dilaporkan. Jadi harusnya ini bakal meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan di bursa. Pasti pelan-pelan bakal naik secara signifikan," imbuhnya.
Senada dengan Menkeu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, memandang pelemahan ini sebagai corak pencarian kepastian dari para investor. Ia meyakini kondisi pasar modal dalam negeri bakal segera membaik dalam waktu dekat.
"Tentunya jika IHSG, ini kan mereka perlu mencari certainty juga, pengen tahu hasilnya. Ya insya Allah pasti baik lah, kan kita pasti bakal memandang market, marketnya penting. Optimis secepatnya (membaik lagi)," kata Pandu.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·