Orang tua dari pasien anak penderita jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) menunggu anaknya nan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026).(ANTARA/NOVA WAHYUDI)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah saat kualitas udara memburuk akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Langkah itu diperlukan untuk mengurangi paparan partikel polutan nan dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan anak.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan pencegahan paparan asap lebih diutamakan dibandingkan penanganan setelah anak mengalami gangguan kesehatan.
“Jadi, mengobati anak nan mengalami gangguan akibat karhutla ini bisa kita lakukan, tetapi mungkin pencegahan terhadap paparan ini jauh lebih diutamakan,” kata Piprim dalam media briefing IDAI secara daring, Jumat (16/10).
Ia menegaskan, udara bersih merupakan kebutuhan dasar nan menjadi bagian dari kewenangan anak untuk hidup sehat. Karena itu, perlindungan anak dari akibat asap karhutla perlu menjadi perhatian bersama.
“Udara bersih itu bukan sesuatu nan mewah. Tapi kebutuhan dasar dan bagian dari kewenangan anak untuk hidup sehat,” ujarnya.
Piprim juga mendorong orang tua memantau info kualitas udara sebelum mengizinkan anak beraktivitas di luar rumah. Ketika paparan asap meningkat, aktivitas luar ruangan perlu dibatasi dan pembelajaran jarak jauh dapat dipertimbangkan sesuai kondisi kualitas udara serta kebijakan pemerintah setempat.
Ia menegaskan bahwa anak menjadi golongan nan rentan terhadap polusi udara lantaran sistem kekebalan tubuhnya tetap berkembang. Paparan partikel lembut dalam asap kebakaran dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan, terutama pada anak nan mempunyai asma, penyakit pernapasan, alias kondisi kronis lainnya.
Dekan FKUI periode 2025–2029 Anna Rozaliyani mengatakan, karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat.
“Yang kita tahu bahwa ini bukan hanya sekadar musibah lingkungan, tetapi ini juga merupakan krisis kesehatan masyarakat nan serius,” kata Anna.
Menurut dia, partikel lembut seperti PM2.5 dapat masuk ke bagian dalam paru-paru dan memperburuk gangguan pernapasan. Dampaknya perlu diwaspadai, terutama pada golongan rentan, termasuk anak-anak.
Untuk mengurangi paparan asap di rumah, orang tua disarankan menutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar serta menyediakan satu ruangan dengan udara nan lebih bersih.
Jika tersedia, perangkat pembersih udara dapat digunakan untuk membantu mengurangi partikel polutan di dalam ruangan.
Orang tua juga perlu menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, pembakaran kayu, serta aktivitas memasak nan menghasilkan banyak asap. Anak nan mempunyai penyakit kronis perlu tetap mendapatkan pengobatan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Apabila anak mengalami sesak napas, kesulitan makan alias minum, alias tampak sangat mengantuk dan mengalami perubahan kesadaran, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.
Anna menambahkan, perlindungan anak dari akibat karhutla memerlukan keterlibatan beragam pihak, mulai dari pemerintah, bumi usaha, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.
“Persoalan melindungi anak bangsa bukan hanya tanggung jawab satu lembaga tentu saja, tetapi ini adalah tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia menekankan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Upaya pencegahan kebakaran, penegakan hukum, pemantauan kualitas udara, dan penyampaian info nan jeli kepada masyarakat juga diperlukan untuk melindungi kesehatan, terutama anak-anak.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·