Ibu WNI yang Diduga Terlibat Riset Palsu di Denmark: Saya Syok, Kaget

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Elfiany Syafruddin, angkat bicara terkait, Rifaldy Fajar, anaknya nan disebut-sebut terlibat dalam pemalsuan riset untuk mengikuti konvensi di Kopenhagen, Denmark. Rifaldy diketahui tercatat sebagai penduduk Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Foto: Dok. Istimewa

Elfiany Syafruddin, ibu dari Rifaldy Fajar, angkat bicara soal dugaan anaknya terlibat dalam pemalsuan riset untuk mengikuti konvensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark. Rifaldy diketahui tercatat sebagai penduduk Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Elfiany mengaku kaget mengetahui anaknya dikait-kaitkan dengan pemalsuan riset di Denmark. Ia pun mengetahui info tersebut dari pemberitaan.

"Kami dari pihak family pasti syok, kaget," kata Elfiany kepada wartawan saat ditemui di Bulukumba, Sabtu (30/5).

Ia mengatakan, setelah menamatkan diri di SMA, Rifaldy langsung melanjutkan kuliah S1 di UNY, Yogyakarta. Kemudian, untuk S2 dan S3, Rifaldy melanjutkan kuliah di Eropa dengan beasiswa.

Selama ini, lanjut Efiany, anaknya memang aktif melakukan penelitian. Bahkan, kerap berpindah-pindah negara. Tercatat, sudah puluhan negara Rifaldy kunjungi alias datangi.

"Karena nan memang kami tahu itu, (Rifaldy) peneliti konferensi. Tapi baru ada, setelah tahu ini jika ada nan penelitian palsu. Kaget pasti, terpukul, syok kaget," ucapnya.

Ia pun tak menyangka Rifaldy terlibat penelitian palsu. Elfiany mengaku sampai sejauh ini belum mempercayai info nan beredar.

"Kalau dalam perihal riset ini saya tidak mengetahui apa pun. nan saya tahunya anak saya, peneliti konferensi," tegasnya.

Dugaan pemalsuan absurd ilmiah dalam International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 pertama kali diungkap akun IG Wa Ode Dwi Daningrat.

Kecurigaan Dwi muncul lantaran periset itu menyodorkan 19 absurd dalam aktivitas tersebut. Jumlah absurd sebanyak itu tidak masuk logika dibuat dalam waktu singkat.

Dwi juga meyakini absurd tersebut tak jeli dan mengandung fabrikasi data, termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).

Mendiktisaintek Telusuri

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, menyatakan pihaknya tengah mendalami dugaan pemalsuan riset nan dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konvensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap info nan berkembang mengenai dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian nan melibatkan pihak nan menggunakan hubungan lembaga di Indonesia," kata Brian pada Rabu (27/5).

Ia mengatakan pemerintah saat ini tetap terus melakukan koordinasi untuk memastikan fakta-fakta nan sebenarnya mengenai kasus tersebut.

Ia juga menyampaikan berasas info awal, pihak-pihak dalam kasus tersebut bukan pengajar maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan info awal nan kami peroleh, pihak-pihak nan disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai pengajar alias peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian lantaran dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," kata Brian.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan