, JAKARTA, – Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menyatakan bahwa asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) dari luar daerah, seperti Pulau Kalimantan, secara meteorologi berpotensi mencapai wilayah DKI Jakarta. Potensi ini muncul di tengah berlangsungnya musim angin timuran.
"Bagaimana asap karhutla bisa sampai Jakarta? Secara meteorologis pergerakan tersebut tetap mungkin terjadi, namun kesempatan serta jalur penyebarannya kudu dibuktikan secara sah menggunakan info angin aktual," kata Daryono dalam keterangan nan dikonfirmasi di Jakarta, Jumat malam.
Daryono menjelaskan bahwa angin timuran merupakan pola sirkulasi dominan pada musim tandus di Indonesia. Meski demikian, arah angin dapat berkarakter bergerak menurut lokasi, ketinggian, waktu, serta kondisi atmosfer, sehingga arah angin di Kalimantan belum tentu sama dengan di Laut Jawa maupun Jakarta.
Selain itu, partikel lembut PM2.5 dari karhutla dapat terangkat oleh turbulensi dan konveksi hingga ratusan alias ribuan meter. Pada ketinggian tertentu, arah angin berbeda dari permukaan sehingga asap dapat bergerak melalui jalur transportasi atmosfer nan tidak searah dengan angin permukaan.
Gangguan Atmosfer Pengaruhi Pergerakan Asap
Daryono menyebut bahwa adanya gangguan atmosfer, wilayah tekanan rendah, sirkulasi siklonik, maupun periode peralihan monsun dapat mengubah pola angin sementara. Kondisi ini berpotensi membawa partikel asap melintasi jarak ratusan kilometer andaikan terbentuk aliran udara menuju Laut Jawa dan Jakarta.
Selama perjalanan jauh tersebut, asap juga mengalami pengenceran, pencampuran, transformasi kimia, serta pengendapan. Dampaknya di Jakarta berjuntai pada besarnya emisi, kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer.
Ketika ditanya mengenai perbedaan sumber polutan, dia menjelaskan bahwa partikel PM2.5 dari karhutla dan emisi kendaraan sebenarnya dapat dibedakan melalui kajian ilmiah. Namun, perangkat pemantau PM2.5 konvensional tidak dapat langsung memastikan sumber polusi secara instan andaikan telah bercampur dengan emisi lokal.
"Saya tidak pernah menyatakan asap karhutla sudah sampai Jakarta, saya malah minta cek ini. Jika betul perangkat kualitas udara di Jakarta mendeteksi PM2.5 dari asap karhutla, maka tulisan saya (di atas) bisa menjadi dasar sains kenapa asap karhutla bisa sampai Jakarta. Saya sendiri belum tahu apakah asap itu sudah sampai Jakarta apa belum," kata Daryono.
Kondisi Udara Jakarta Memburuk
Kondisi udara di Jakarta dalam beberapa hari terakhir dirasakan diselimuti kabut tipis, khususnya pada malam hari di atas pukul 20.00 WIB. Sejumlah penduduk mulai merasakan aroma dan tekstur nan menyerupai kabut asap.
Berdasarkan info pemantauan kualitas udara dari laman IQAir pada Jumat, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta sempat berada di nomor 186 pada pagi hari alias masuk dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 107 mikrogram per meter kubik.
Pada pukul 12.00 WIB, kualitas udara tercatat di nomor 169 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 81 mikrogram per meter kubik. Angka ini 16,2 kali lebih tinggi dari nilai pedoman WHO, sehingga masyarakat disarankan mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Hingga menjelang tengah malam, pemantauan sensor kualitas udara real-time IQAir masuk dalam rentang sedang hingga tidak sehat bagi golongan sensitif, dengan rata-rata skor AQI di kisaran 110 - 140+. Wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat condong mencatatkan nomor polusi nan lebih tinggi dibandingkan Pusat alias Utara.
Meski demikian, dibutuhkan keterangan lebih lanjut dari lembaga berkuasa seperti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ataupun Kementerian Lingkungan Hidup mengenai apakah kondisi udara di Jakarta ini berangkaian dengan asap karhutla.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·