Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menyemprotkan air di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (6/9/2026).( ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
IKATAN Ahli Bencana Indonesia (IABI) menyatakan bahwa kejadian hujan abu vulkanik nan menyertai erupsi gunung api baru bakal berakhir total andaikan aktivitas pasokan magma dari dalam bumi telah mereda. Namun, lama pasti berhentinya letusan tersebut tidak dapat diprediksi secara presisi berasas hitungan tanggal maupun bulan pada kalender.
Anggota IABI Daryono mengatakan arah dan jangkauan sebaran abu vulkanik dipengaruhi oleh kekuatan erupsi serta arah angin.
Menurutnya, erupsi nan kuat dapat melontarkan abu vulkanik hingga mencapai lapisan udara nan lebih tinggi. Selanjutnya, partikel-partikel lembut tersebut dapat terbawa angin hingga puluhan apalagi ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke permukaan.
"Arah dan jauhnya sebaran abu sangat berjuntai pada seberapa kuat letusan gunung dan ke mana angin bertiup," kata Daryono, Senin (7/9).
Daryono menjelaskan, hujan abu tidak dapat dipastikan berakhir berasas hitungan kalender. Aktivitas erupsi bakal betul-betul mereda andaikan pasokan magma segar dari kedalaman bumi berkurang alias berakhir dan tekanan di dalam sistem magma kembali tenang.
"Selama kantong magma di bawah gunung tetap menerima kiriman magma baru dari kedalaman bumi, erupsi susulan nan membawa material vulkanik, termasuk abu, tetap berpotensi terjadi secara fluktuatif. Kadang tenang, kadang membesar," ujarnya.
Ia menambahkan, pasokan magma dapat berakhir ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan energinya. Dalam kondisi tersebut, magma nan berada di saluran gunung api dapat mendingin dan mengeras hingga akhirnya tidak lagi bisa mendorong material ke permukaan.
Sejumlah parameter dapat digunakan untuk membaca apakah pasokan magma mulai berkurang. Di antaranya menurunnya alias hilangnya aktivitas gempa dari kedalaman, berkurangnya emisi gas vulkanik, serta perubahan corak tubuh gunung nan menunjukkan deflasi.
Meski demikian, Daryono menegaskan para mahir belum dapat memprediksi secara presisi kapan sebuah gunung api bakal betul-betul berakhir mengalami erupsi.
Menurut dia, sistem di dalam perut bumi merupakan sistem alam nan sangat kompleks dan berada jauh di bawah permukaan. Hingga kini, belum terdapat teknologi nan bisa mengukur secara pasti jumlah magma nan tetap tersisa di dalam bumi.
Karena itu, kata dia, para mahir vulkanologi tidak berupaya menebak tanggal berakhirnya erupsi, melainkan membaca pola perubahan aktivitas gunung api melalui pemantauan berkelanjutan.
"Dengan memantau aktivitas kegempaan, deformasi alias perubahan corak tubuh gunung, hingga kondisi emisi gas, para mahir dapat menilai apakah aktivitas gunung api mulai mereda dan bergerak menuju akhir fase erupsinya," beber dia.
(P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·