Saturnus.(Dok NASA, ESA, STScI, Agustin Sánchez-Lavega (UPV), Amy Simon (NASA-GSFC), Michael Wong (UC Berkeley); Pengolahan Gambar: Alyssa Pagan)
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA mengungkap struktur atmosfer tak biasa di kutub selatan Saturnus. Para intelektual menemukan pola gelombang besar berbentuk dekagon alias segi sepuluh nan mengelilingi wilayah kutub planet bercincin tersebut.
Penemuan ini menarik perhatian lantaran Saturnus sebelumnya dikenal mempunyai pola heksagon alias segi enam nan memperkuat lama di kutub utaranya. Namun, struktur nan baru ditemukan di bagian selatan menunjukkan karakter berbeda dan diduga merupakan kejadian atmosfer nan relatif baru terbentuk. Hasil penelitian mengenai temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
Para peneliti merekonstruksi perkembangan struktur tersebut berasas rangkaian pengamatan Saturnus selama beberapa tahun. Data dari program Outer Planet Atmospheres Legacy (OPAL) milik Hubble menunjukkan tanda-tanda awal kemunculan pola tersebut sejak 2023.
OPAL merupakan program pengamatan nan menggunakan Hubble untuk memantau planet-planet luar Tata Surya secara rutin. Pengamatan berulang ini memungkinkan para intelektual memandang perubahan atmosfer planet dalam jangka panjang, bukan hanya mengandalkan satu gambar pada waktu tertentu.
Peneliti utama studi, Agustín Sánchez-Lavega dari University of the Basque Country, berbareng astronom amatir Trevor Barry dan Jean-Paul Oger, sebelumnya menemukan indikasi struktur tersebut dalam gambaran pengamatan berbasis darat. Dalam gambar Saturnus nan diperoleh pada 2024, mereka memandang pita bergelombang samar di sekitar kutub selatan. Pengamatan berbasis darat pada 2025 kemudian memperlihatkan pola nan semakin jelas dan mengarah pada corak segi sepuluh.
Para peneliti selanjutnya menggunakan Hubble untuk mendapatkan pengamatan nan lebih detail. Posisi Hubble di luar atmosfer Bumi memungkinkan teleskop tersebut memperoleh gambaran Saturnus dengan lebih tajam tanpa gangguan turbulensi atmosfer Bumi.
"Kami belum pernah memandang sesuatu nan seperti ini di bagian selatan Saturnus," kata Amy Simon, peneliti utama OPAL di NASA Goddard Space Flight Center.
Menurut Simon, temuan tersebut berbeda dengan heksagon di kutub utara Saturnus nan telah diamati selama lebih dari empat dekade. Heksagon utara selalu terlihat ketika Saturnus diamati, sedangkan struktur di selatan tampaknya baru berkembang dan semakin menguat.
Berbeda dari Heksagon Utara
Keberadaan struktur tersebut menjadi semakin menarik lantaran para intelektual sebelumnya telah mencari pola serupa di kutub selatan Saturnus. Sánchez-Lavega mengatakan pencarian terhadap padanan heksagon utara di bagian selatan telah dilakukan sejak 1990.
Bahkan, pengamatan dari wahana antariksa Cassini milik NASA nan mengorbit Saturnus pada 2004 hingga 2017 tidak menunjukkan adanya struktur berumur panjang seperti nan sekarang terlihat. Data Hubble kemudian memberikan bukti bahwa fitur tersebut telah berkembang setidaknya sejak 2023.
Struktur dekagon itu berada di dalam salah satu aliran jet atmosfer Saturnus nan sangat kuat. Pengamatan menunjukkan gelombang tersebut tidak hanya berada di lapisan teratas atmosfer, tetapi meluas melalui beberapa lapisan. Hal itu mengindikasikan bahwa struktur tersebut merupakan kejadian atmosfer nan mempunyai dimensi vertikal, bukan sekadar pola awan nan kebetulan terlihat dari luar.
Para astronom juga menemukan sedikit pergeseran posisi struktur ketika Saturnus diamati pada panjang gelombang sinar nan berbeda. Perbedaan tersebut berangkaian dengan keahlian setiap panjang gelombang untuk menembus alias mengawasi lapisan atmosfer pada ketinggian berbeda.
Mengapa Baru Terbentuk?
Salah satu pertanyaan terbesar nan tetap belum terjawab adalah penyebab munculnya struktur tersebut. Simon mengatakan para intelektual belum mengetahui sistem nan membikin pola dekagon itu terbentuk. Mereka juga belum dapat memastikan apakah struktur tersebut bakal memperkuat dalam jangka panjang alias akhirnya menghilang.
"Bagian nan paling menarik bagi saya adalah bahwa ini tampaknya baru terbentuk baru-baru ini," ujar Simon. "Pertanyaannya, kenapa tiba-tiba terbentuk sekarang padahal kita belum pernah melihatnya?"
Perubahan musim Saturnus diduga menjadi salah satu aspek nan berangkaian dengan keahlian para intelektual mengawasi struktur tersebut. Ketika Saturnus menjalani siklus musimnya, wilayah kutub selatan secara berjenjang kembali berada pada posisi nan lebih mudah diamati dari Bumi.
Meski demikian, perubahan visibilitas tersebut belum menjelaskan apakah struktur dekagon memang baru terbentuk alias sebelumnya ada tetapi belum dapat terdeteksi. Para peneliti berencana melanjutkan pengamatan menggunakan Hubble dan Teleskop Luar Angkasa James Webb.
Hubble Ungkap Perubahan Saturnus dari Waktu ke Waktu
Penemuan ini juga menunjukkan pentingnya pengamatan astronomi jangka panjang. Dengan beraksi selama puluhan tahun, Hubble memungkinkan para intelektual membandingkan perubahan nan terjadi pada planet secara bertahap.
Program OPAL menjadi salah satu sumber info krusial untuk memantau atmosfer planet-planet luar Tata Surya. Pengamatan rutin dapat membantu intelektual mengikuti perubahan musim, badai, hingga pola atmosfer nan berkembang dalam periode panjang.
Mike Wong dari University of California, Berkeley, salah satu penulis studi, mengatakan banyak penemuan dari program OPAL tidak berasal dari satu pengamatan, melainkan dari kumpulan info selama bertahun-tahun. "Pengamatan rutin dari waktu ke waktu memungkinkan banyak temuan baru," kata Wong.
Para intelektual sekarang bakal memantau apakah dekagon di kutub selatan Saturnus bakal berkembang menjadi pola atmosfer nan stabil seperti heksagon di utara alias justru terus berubah. Jika dapat dipahami, struktur tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai dinamika atmosfer Saturnus sekaligus membantu intelektual memahami perilaku atmosfer planet-planet raksasa lainnya di Tata Surya. (Science Daily/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·