Jakarta -
Market Overview
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (3/6) di area negatif setelah turun 4,11% ke level 5.941,07. Saham CASA, DSSA, dan BYAN menjadi penopang utama pergerakan indeks, sedangkan tekanan terbesar datang dari BBCA, BBRI, dan AAMN.
Data perdagangan menunjukkan penanammodal asing tetap mencatatkan tindakan jual bersih senilai Rp864,07 miliar di pasar reguler. Sementara itu, tindakan jual bersih di seluruh pasar mencapai Rp993,29 miliar.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor saham ditutup melemah, dengan sektor industri dasar menjadi sektor nan mengalami penurunan paling dalam sebesar 9,05%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentimen eksternal juga belum banyak membantu pergerakan pasar. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah dengan indeks Dow Jones turun 1,21%, S&P 500 terkoreksi 0,74%, dan Nasdaq turun 0,89%.
Selain itu, instrumen offshore Indonesia tetap bergerak terbatas, tercermin dari ETF EIDO nan turun 4,99% dan MSCI Indonesia nan melemah 4,10%.
Berita Emiten
Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
HRTA menetapkan sasaran pertumbuhan nan cukup tinggi pada 2026. Perusahaan membidik pendapatan sebesar Rp70 triliun alias meningkat signifikan dibandingkan realisasi 2025 nan mencapai Rp44,55 triliun. Laba bersih juga ditargetkan berada di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp979,6 miliar.
Untuk mendukung sasaran tersebut, HRTA menargetkan produksi dan penjualan emas murni mencapai 25 ton hingga akhir 2026. Perseroan juga meningkatkan kapabilitas pabrik terintegrasi dari 48 ton menjadi 60 ton per tahun.
Kapasitas tersebut terdiri atas 30 ton untuk produksi perhiasan dan bullion serta 30 ton untuk aktivitas pemurnian emas. Langkah ini dilakukan guna mengakomodasi peningkatan permintaan sekaligus memperkuat kapabilitas produksi perusahaan.
Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE)
JTPE memutuskan membagikan dividen tunai final sebesar Rp31 per saham untuk tahun kitab 2025. Total biaya nan dialokasikan mencapai Rp210,62 miliar alias setara sekitar 59,93% dari untung bersih nan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Besaran dividen tersebut telah memperhitungkan penyelenggaraan pembelian kembali saham nan dilakukan perusahaan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026 dengan total 57,72 juta saham. Adapun agenda cum dividen ditetapkan pada 9 Juni 2026, sementara pembayaran dividen bakal dilakukan pada 26 Juni 2026.
Pembagian dividen ini ditopang oleh pertumbuhan keahlian perseroan sepanjang 2025. Pendapatan JTPE meningkat 31,54% secara tahunan menjadi Rp2,78 triliun. Pada saat nan sama, untung bersih nan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 47,69% menjadi Rp351,45 miliar. Laba per saham juga meningkat menjadi Rp51,29 dibandingkan Rp34,73 pada tahun sebelumnya.
Alkindo Naratama Tbk (ALDO)
ALDO berencana melaksanakan program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp10 miliar. Dana untuk tindakan korporasi tersebut bakal berasal dari kas internal perusahaan.
Per akhir Maret 2026, ALDO mempunyai saldo kas sebesar Rp53,74 miliar. Jika seluruh biaya buyback digunakan, saldo kas perseroan diperkirakan menjadi sekitar Rp43,74 miliar. Perusahaan juga memperkirakan total aset dan ekuitas bakal menyesuaikan seiring penyelenggaraan program tersebut.
Mengacu pada ketentuan nan berlaku, jumlah saham nan dapat dibeli kembali dibatasi maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, termasuk saham treasuri nan telah dimiliki perusahaan.
Hingga 31 Maret 2026, ALDO tercatat mempunyai saham treasuri sebanyak 5,30 juta lembar alias sekitar 0,20% dari total saham beredar. Program buyback direncanakan berjalan mulai 24 Juni 2026 hingga 23 Juni 2027.
Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar tetap bakal tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah, perkembangan kondisi pasar finansial global, serta potensi perubahan aliran biaya asing nan dipengaruhi pertimbangan sejumlah indeks global.
Rekomendasi Saham Hari Ini
MSIN - Buy 448-450 | TP 466-474 | SL 426
SICO - Buy 108-110 | TP 112-114 | SL 103
BREN - Buy 4100-4130 | TP 4220-4330 | SL 3900
KPIG - Buy 91-93 | TP 96-98 | SL 87
BMRI - Buy 3950-3970 | TP 4000-4050 | SL 3850
Disclaimer: Ingat, bahwa segala kajian dan rekomendasi saham dalam tulisan ini berkarakter informatif sekaligus bukan merupakan rayuan untuk membeli alias menjual saham tertentu.
Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing penanammodal sesuai dengan profil akibat dan tujuan finansial pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.
(ang/ang)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·