Houthi Rebut Kota Pelabuhan Kunci di Laut Merah

Sedang Trending 15 jam yang lalu
Houthi Rebut Kota Pelabuhan Kunci di Laut Merah Anggota Houthi.(Al Jazeera)

KELOMPOK Houthi di Yaman sukses merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mocha di Laut Merah pada Kamis (10/9). Saksi mata melaporkan kepada AFP bahwa para pejuang Houthi berbanjar memasuki wilayah tersebut sembari meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan anti-Israel.

Keberhasilan Houthi menguasai Mocha menandai eskalasi besar dalam ofensif nan diluncurkan sejak pekan lampau terhadap pasukan pemerintah Yaman nan didukung Arab Saudi. Serangan ini juga mencakup gempuran ke wilayah Saudi nan menyebabkan puluhan orang terluka, menghidupkan kembali bentrok di tengah perang Timur Tengah nan meluas sejak akhir Februari lalu.

Sumber militer Yaman mengungkapkan bahwa golongan nan didukung Iran tersebut sekarang mulai bergerak menuju Selat Bab al-Mandab nan sangat strategis. Jalur perairan ini merupakan rute transit vital nan menghubungkan Asia ke Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Dampak Ekonomi Global: Minyak Tembus US$100

Perang regional nan mengganggu lampau lintas maritim di Teluk menyebabkan nilai minyak melonjak tajam. Pada Kamis, perjanjian minyak Amerika Serikat, WTI (West Texas Intermediate), melampaui nomor US$100 per barel. Sebelumnya, patokan internasional Brent North Sea crude telah lebih dulu menembus nomor tersebut pada Rabu.

Selain Mocha, sumber militer menyebut Houthi juga menyita Pulau Zuqar di Laut Merah selatan melalui serangan roket dan serbuan darat menggunakan kapal pengangkut pejuang.

Tarek Saleh, kepala Pasukan Perlawanan Nasional Yaman nan sebelumnya menguasai Mocha, menyatakan telah memindahkan pusat komandonya ke letak nan kondusif untuk melakukan regrouping. Ia mengakui pasukan pemerintah bayar nilai nan mahal akibat ofensif Houthi nan menurutnya direncanakan dan didukung penuh oleh Iran.

Penguatan Koersi Maritim

Sebelum ofensif ini, Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sanaa dan pelabuhan utama Hodeidah. Namun, mereka belum mempunyai wilayah nan langsung menghadap Bab al-Mandab.

Andreas Krieg, master keamanan dari King's College London, menilai bahwa penguasaan garis pantai ini bakal memperkuat koersi maritim Houthi. Dengan keahlian drone dan rudal nan mereka miliki, Houthi sekarang berada dalam posisi nan lebih kuat untuk mengganggu lampau lintas perdagangan global.

Kemajuan Houthi di Mocha, Khokha, dan Hays memicu eksodus penduduk sipil menuju Aden, pusat pemerintahan nan diakui secara internasional. Mohamed, 46, seorang penduduk nan melarikan diri, menggambarkan suasana di Mocha seperti kiamat. Sementara itu, pengungsi lain melaporkan ada aksi penjarahan oleh geng-geng bersenjata terhadap family nan mencoba melarikan diri.

Krisis Kemanusiaan Memburuk

Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan nyaris 20.000 orang terpaksa mengungsi sejak pekan lalu. Pertempuran terbaru ini menewaskan lebih dari 500 orang, kebanyakan adalah kombatan.

Koalisi ketua Saudi melaporkan ada serangan rudal balistik dan drone Houthi ke beberapa kota di selatan Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait dan Abha. Sebaliknya, instansi buletin Houthi, Saba, melaporkan bahwa angkatan udara Saudi melakukan sekitar 40 serangan udara dalam beberapa jam terakhir di provinsi Taiz, Hodeidah, Al-Jawf, dan Marib.

Konflik nan kembali memanas sejak Juli ini menakut-nakuti bakal menjerumuskan Yaman kembali ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, setelah sempat mengalami masa tenang relatif pascagencatan senjata nan ditengahi PBB pada 2022. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia