Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Usulan AS, Pertempuran di Libanon Kembali Membara

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Usulan AS, Pertempuran di Libanon Kembali Membara Ilustrasi(AFP)

KELOMPOK bersenjata Libanon, Hizbullah, secara tegas menolak poin-poin kesepakatan gencatan senjata nan didukung Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri bentrok dengan Israel.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan proses negosiasi tersebut sia-sia dan tidak menghormati kedaulatan negaranya.

"Negosiasi ini telah melangkah 'sia-sia' dan 'memalukan' bagi Libanon, serta ditolak secara kategoris oleh 'sebagian besar rakyat Libanon'," ujar Qassem dalam pernyataan resminya.

Penolakan keras ini muncul setelah Israel dan Libanon sempat mengumumkan pembaruan gencatan senjata nan rapuh. Kesepakatan tersebut mencakup pembentukan "zona pilot" keamanan di dalam wilayah Libanon, nan secara otomatis melarang kehadiran para milisi Hizbullah.

Berdasarkan arsip berbareng nan dirilis Departemen Luar Negeri AS pada Rabu, kesepakatan itu mewajibkan pemindahan seluruh personil Hizbullah dari wilayah antara perbatasan Israel hingga Sungai Litani. Selain itu, militer Libanon (LAF) diproyeksikan mengambil alih kendali penuh atas wilayah tersebut tanpa keterlibatan tokoh non-negara. Namun, draf perjanjian sama sekali tidak menyertakan peta wilayah nan jelas maupun sistem praktis di lapangan.

Pemerintah Libanon awalnya berambisi Hizbullah bakal melunak dan mengikuti arus perdamaian ini. Di sisi lain, AS juga berambisi kesepakatan ini bisa memuluskan langkah diplomasi nan lebih besar dengan Iran. Namun, Hizbullah memilih menolak mentah-mentah dan memanfaatkan situasi politik untuk mencitrakan diri sebagai satu-satunya kekuatan nan konsisten melawan Israel.

Korban Jiwa Terus Berjatuhan

Merespons penolakan tersebut, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan  militer Israel (IDF) tidak bakal menghentikan serangan.

"Untuk saat ini, militer bakal melanjutkan serangan udara dan operasi darat guna melumpuhkan prasarana teroris di wilayah tersebut," tegas Katz.

Akibatnya, pertempuran kembali pecah pada Kamis. Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan sedikitnya delapan orang tewas dan 15 lainnya luka-luka akibat serangkaian serangan udara Israel di wilayah Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil.

Konflik ini juga menyantap korban dari pasukan perdamaian PBB (Unifil). Sersan Mayor Milovan Jovanovic, personel Unifil asal Serbia, dilaporkan gugur setelah posisinya di dekat Marjayoun dihantam mortir. Militer Israel menuduh Hizbullah sebagai dalang di kembali serangan mortir tersebut.

Sementara itu, IDF juga mengonfirmasi salah satu perwiranya, Kapten Eitan Shmuel Lemberg, tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Hizbullah sendiri mengaku telah menargetkan pasukan dan kendaraan militer Israel di kota Qantara dan area Kastil Beaufort menggunakan drone penyerang dan roket.

Hingga saat ini, akibat perang nan bermulai sejak 2 Maret lampau telah merenggut sedikitnya 3.526 nyawa di pihak Lebanon dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi. Sedangkan di pihak Israel, dilaporkan 26 tentara dan empat penduduk sipil tewas. (BBC/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑